BATAM, MENARA62.COM – Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) Kota Batam memperkuat kapasitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui edukasi pencatatan keuangan dan pemanfaatan teknologi digital. Langkah ini diwujudkan dalam SUMU Business Forum #05 bertema “Strategi Pencatatan Keuangan Usaha” di Kantor Bank Syariah Indonesia (BSI) Raden Patah, Kampung Pelita, Batam, Kamis (8/10/2026).
Forum tersebut menjadi ruang belajar sekaligus jejaring bisnis bagi anggota SUMU dan pelaku UMKM. Peserta dibekali pemahaman mengenai pengelolaan keuangan yang tertib, mulai dari pencatatan transaksi hingga pemanfaatan pembayaran digital untuk mendukung pengambilan keputusan bisnis berbasis data.
Koordinator Daerah SUMU Kota Batam, Jogie Suaduon, menegaskan bahwa pencatatan keuangan merupakan fondasi penting untuk membangun bisnis yang sehat dan berkelanjutan.
“Pencatatan keuangan merupakan fondasi penting bagi setiap pelaku usaha. Dengan pencatatan yang tertib, pelaku usaha dapat memahami kondisi bisnisnya dan mengambil keputusan berdasarkan data, bukan sekadar perkiraan,” ujarnya.
Menurut Jogie, kebiasaan mencatat transaksi secara konsisten membantu pengusaha mengetahui kondisi usaha secara lebih objektif. Penguatan kapasitas tersebut juga menjadi bagian dari upaya SUMU membangun ekosistem bisnis yang sehat, produktif, dan saling terhubung.
Digitalisasi Bantu UMKM Kelola Transaksi
SUMU Business Forum #05 menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Nolla Puspita Dewi, S.E., M.Akt., Manajer Lembaga Inkubator Bisnis Merah Putih Kepulauan Riau, dan Rafli Purnama, Area SME Business Manager BSI Area Batam.
Dalam sesi digitalisasi transaksi, Rafli menjelaskan pemanfaatan layanan BSI Merchant dan BSI QRIS untuk membantu pelaku usaha mengelola transaksi pembayaran secara lebih tertib.
Data transaksi digital dapat menjadi salah satu sumber informasi untuk menyusun rekapitulasi keuangan. Dengan pengelolaan yang tepat, pelaku UMKM dapat lebih mudah menelusuri penerimaan pembayaran dan mencocokkannya dengan catatan usaha.
Namun, Rafli mengingatkan bahwa digitalisasi pembayaran tidak serta-merta mengotomatisasi seluruh administrasi keuangan bisnis.
Data transaksi digital tetap harus dipadukan dengan pencatatan pembayaran tunai, pengeluaran operasional, modal, serta transaksi lainnya. Langkah ini diperlukan agar pemilik usaha memperoleh gambaran keuangan yang menyeluruh dan dapat mengevaluasi kondisi bisnis secara akurat.
Jangan Campur Uang Pribadi dan Keuangan Usaha
Sementara itu, Nolla Puspita Dewi menekankan pentingnya memahami prinsip dasar pencatatan keuangan bagi UMKM. Salah satu hal mendasar yang perlu dikuasai pelaku usaha adalah membedakan omzet, arus kas, dan laba.
Ketiganya memiliki fungsi berbeda dalam membaca kesehatan bisnis. Omzet menunjukkan nilai penjualan, arus kas menggambarkan pergerakan uang masuk dan keluar, sedangkan laba menunjukkan keuntungan setelah memperhitungkan biaya yang relevan.
Pemahaman tersebut penting agar pengusaha tidak keliru menilai kondisi bisnis hanya berdasarkan besarnya penjualan atau jumlah uang yang tersedia.
Nolla juga menyoroti kebiasaan mencampurkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha. Padahal, pemisahan keduanya menjadi langkah awal untuk mengetahui keuntungan yang sebenarnya, mengendalikan pengeluaran, dan menjaga keberlangsungan bisnis.
Tanpa pencatatan yang jelas, pelaku usaha berisiko kesulitan mengidentifikasi sumber masalah keuangan, menentukan kebutuhan modal, hingga merencanakan pengembangan usaha.
Catat, Digitalkan, Kembangkan
Materi dalam forum dikembangkan melalui pendekatan “Catat – Digitalkan – Kembangkan”. Pendekatan ini mengajak peserta membangun kebiasaan pengelolaan keuangan secara bertahap dan berkesinambungan.
Tahap pertama adalah mencatat seluruh transaksi, baik pemasukan maupun pengeluaran. Berikutnya, pelaku usaha dapat memanfaatkan teknologi pembayaran digital dan mencocokkan data transaksi dengan catatan keuangan.
Data yang terkumpul kemudian direkapitulasi dan dievaluasi untuk mengetahui kondisi usaha. Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah pengembangan bisnis, termasuk pengelolaan biaya, kebutuhan modal, dan strategi peningkatan penjualan.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui pemaparan materi, demonstrasi pembayaran digital, praktik pencatatan transaksi, diskusi, dan tanya jawab. Pendekatan praktis ini diharapkan membantu peserta menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam aktivitas usaha sehari-hari.
Jogie Suaduon menegaskan SUMU Batam akan terus membuka ruang pembelajaran dan kolaborasi bagi pelaku usaha dengan melibatkan berbagai pihak dalam ekosistem bisnis.
“SUMU ingin menjadi ruang bertumbuh bagi para pengusaha. Bukan hanya melalui networking, tetapi juga melalui peningkatan kapasitas, akses terhadap ekosistem bisnis, dan kolaborasi dengan berbagai pihak,” katanya.
Melalui SUMU Business Forum #05, SUMU Kota Batam berharap semakin banyak pelaku UMKM membangun kebiasaan mencatat keuangan secara konsisten, memahami kondisi bisnis berdasarkan data, dan memanfaatkan teknologi digital secara tepat.
Penguatan literasi keuangan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi UMKM untuk meningkatkan profesionalisme pengelolaan usaha, memperkuat daya saing, serta membangun bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan. (*)

