28.9 C
Jakarta

Tak Melulu Garap Stunting, SUN Kini Juga Fokus pada Anak Obesitas

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Obesitas pada anak yang angkanya cenderung meningkat, menjadi salah satu fokus garapan dari Gerakan Scaling Up Nutrition (SUN) di Indonesia. Hal tersebut disampaikan  Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Subandi Sardjoko dalam konferensi pers Gerakan Gerakan Scaling Up Nutriton di Indonesia: Satu Dekade Melangkah Bersama (2011-2021), yang dihadiri perwakilan SUN Networks yang terdiri dari pemerintah, mitra pembangunan, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, serta akademisi, Selasa (23/11/2021).

“Jadi persoalan gizi tidak hanya melulu pada stunting atau gizi kurang. Sekarang obesitas pada anak juga menjadi perhatian kita semua,” kata Subandi.

Ia mengingatkan bahwa obesitas pada anak dalam beberapa tahun terakhir ini terus meningkat. Situasi tersebut tentu sangat tidak menguntungkan bagi anak pada usia dewasa kelak. Sebab anak dengan obesitas memiliki potensi menderita penyakit tidak menular (PTM) lebih besar dibanding anak-anak dengan berat badan normal. Beberapa penyakit PTM yang mengancam antara lain jantung, stroke dan diabetes. “Sekarang beberapa penyakit degenerative sudah menyasar anak-anak muda,” tambah Subandi.

Karena itu, dalam Gerakan Scaling Up Nutrition, negara-negara yang terlibat sepakat memberikan perhatian serius pada persoalan obesitas anak. 

Scaling Up Nutrition (SUN) merupakan gerakan global di bawah Sekretaris Jenderal PBB untuk mengatasi semua bentuk malnutrisi melalui keterlibatan lintas sektor. Indonesia telah bergabung dengan gerakan SUN sejak tahun 2011. Tahun ini, tepat sepuluh tahun sejak Indonesia bergabung dengan 64 negara lainnya dalam gerakan global Scaling Up Nutrition.

Diakui Subandi, dalam sepuluh tahun terakhir, telah banyak hasil yang dicapai oleh gerakan Scaling Up Nutrition, khususnya dalam percepatan penurunan stunting. Gerakan yang melibatkan peran swasta dan masyarakat tersebut berhasil menurunkan angka stunting di Indonesia meski belum sesuai target.

Subandi yang juga berperan sebagai SUN Focal Point Indonesia menjelaskan sejumlah capaian utama gerakan ini, diantaranya adalah pertama, gizi menjadi prioritas utama dalam pembangunan nasional yang telah diwujudkan dalam RPJMN 2020-2024, meliputi gizi lebih dan gizi kurang.

Kedua, isu penurunan stunting menjadi isu utama yang dilaksanakan secara sistematis melalui Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting yang diperkuat dengan terbitnya Perpres No.72 Tahun 2021.

Dalam kesempatan tersebut Subandi juga menekankan pentingnya kemitraan berbagai pihak dalam gerakan Scaling Up Nutrition. “Pemerintah tentu tidak bisa sendiri untuk mengatasi berbagai persoalan nutrisi atau gizi masyarakat,” tukasnya.

Jee Hyun Rah, Lead of SUN Development Partners, menegaskan dukungan mitra pembangunan untuk memperkuat pendekatan multisektoral untuk perbaikan gizi. “Kami akan terus mendukung percepatan pembuatan bukti lokal, memberikan rekomendasi kebijakan berbasis bukti, membangun kapasitas pemangku kepentingan, serta memperkuat kualitas data untuk memantau kemajuan” papar Jee.

Sementara itu, Lead of SUN Government Networks, Agus Suprapto, menyampaikan pentingnya perubahan orientasi sasaran dalam penurunan stunting.“Kementerian/Lembaga perlu mengubah orientasi sasaran ke kelompok remaja, tidak lagi hanya pada bayi dan balita,” kata Agus.

Target penurunan stunting di 2024 lanjut Agus, bisa dicapai apabila remaja dan pasangan usia subur yang akan hamil dan melahirkan betul-betul dipastikan gizinya. Hal ini senada dengan prioritas intervensi kelompok SUN Business Networks yang menyasar pada edukasi kelompok 1.000 Hari Pertama Kehidupan dan remaja.

Asih Setiarini, ketua jejaring perguruan tinggi dan organisasi profesi, menyampaikan potensi keterlibatan mahasiswa dalam melakukan pendampingan kepada kelompok sasaran perbaikan gizi “Melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, kegiatan pengabdian masyarakat dapat dikonversi ke dalam SKS. Sehingga, dapat menggerakan lebih banyak mahasiswa untuk ikut berkontribusi dalam menurunkan stunting”.

“Saat ini sudah 38 perguruan tinggi terlibat dalam gerakan Scaling Up Nutrition. Dan kami berharap ke depan akan semakin banyak perguruan tinggi ambil bagian,” tambahnya.

Sri Kusyuniati, Lead of SUN Civil Society, menyampaikan urgensi pembentukan jejaring SUN hingga ke tingkat daerah. “Persoalan stunting tidak bisa diselesaikan di dalam ruangan, melainkan di tingkat daerah dan akar rumput. Perlu upaya keras untuk mewujudkan konvergensi di tingkat sub-nasional”.

Ia mengingatkan, salah satu tugas organisasi masyarakat sipil adalah untuk mengawal kebijakan dan komitmen yang ada agar sampai ke kelompok sasaran.

Kerjasama lintas sektor dalam perbaikan gizi yang sudah berjalan dengan baik di tingkat pusat, perlu diperkuat dengan kerjasama lintas sektor di tingkat daerah. “Saya berharap, daerah dapat melakukan inovasi intervensi dengan didukung pihak swasta, LSM, perguruan tinggi dan organisasi profesi, serta mitra pembangunan” ujar Pungkas Bahjuri Ali, Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Kementerian PPN/Bappenas.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!