SOLO, MENARA62.COM – Rutinitas sehari-hari ternyata dapat menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih berkah jika dilakukan secara konsisten dan diniatkan sebagai ibadah. Hal itu disampaikan Ustaz Dwi Jatmiko dalam Safari Dakwah Mubaligh Muhammadiyah putaran ke-13 di Masjid Kotta Barat, PCM Kotta Barat–Badran, Solo, Senin (21/9/2026) malam.
Di hadapan jamaah yang mengikuti majelis ilmu sejak pukul 19.30 WIB, Guru PAI SD Muhammadiyah 1 Solo tersebut mengajak umat Islam tidak sekadar mengetahui kebaikan, tetapi melatihnya hingga menjadi kebiasaan.
“Yang penting bukan hanya tahu mana yang baik, tetapi bagaimana kebaikan itu menjadi kebiasaan. Kalau dilakukan terus-menerus, kebiasaan akan membentuk karakter,” kata Jatmiko.
Dalam kajiannya, Jatmiko memaparkan sembilan kebiasaan yang dapat menjadi bekal seorang Muslim dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Pertama, menjaga salat fardhu di awal waktu dan berjamaah. Kebiasaan tersebut dapat diperkuat dengan menghidupkan salat sunnah, seperti salat rawatib, dhuha, dan tahajud.
Kedua, membiasakan puasa sunnah. Jatmiko menyebut beberapa pilihan, antara lain puasa tiga hari setiap bulan, Senin-Kamis, hingga puasa Daud.
Ketiga, membangun kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Menurutnya, kesalehan seorang Muslim tidak hanya tercermin dari ibadah pribadi, tetapi juga kepedulian kepada sesama.
Keempat, menjaga adab Islami dalam setiap aktivitas kehidupan. Adab menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi Muslim yang baik.
Kelima, membiasakan tadarus Al-Qur’an. Jatmiko menyarankan umat Islam memiliki target membaca Al-Qur’an secara rutin. Salah satu target yang dapat diterapkan adalah satu juz sehari sehingga dapat khatam dalam satu bulan.
“Targetnya bisa satu juz sehari sehingga dalam satu bulan dapat khatam. Tetapi yang paling penting adalah membaca dengan istiqamah dan memahami pesan yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Keenam, memperkuat budaya literasi. Jamaah diajak membiasakan membaca buku sedikitnya satu jam setiap hari. Kebiasaan membaca dinilai dapat memperluas wawasan sekaligus memperkuat kualitas berpikir.
Ketujuh, mengikuti pengajian dan belajar agama secara rutin. Jatmiko menganjurkan umat menyediakan waktu minimal sekali dalam sepekan untuk memperdalam ilmu agama.
Kedelapan, aktif berjamaah dan berorganisasi. Menurut Jatmiko, kehidupan seorang Muslim tidak seharusnya berhenti pada kesalehan pribadi. Aktivitas berjamaah dan berorganisasi dapat menjadi ruang untuk membangun ukhuwah serta kepedulian sosial.
“Berjamaah itu bukan sekadar berkumpul. Ada ukhuwah, ada tanggung jawab, ada kepedulian terhadap orang lain,” katanya.
Kesembilan, berpikir positif dan senantiasa bersyukur. Sikap tersebut penting agar seseorang mampu mensyukuri nikmat Allah sekaligus tetap tegar ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Terinspirasi QS Fatir Ayat 29
Dalam kajian tersebut, anggota Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Solo itu juga mengangkat QS Fatir ayat 29.
Ayat tersebut menyebut tiga amal, yakni membaca Kitab Allah, menegakkan salat, serta menginfakkan sebagian rezeki secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
“Allah menggambarkan amal-amal itu sebagai perdagangan yang tidak akan pernah rugi. Maka membaca Al-Qur’an jangan hanya menjadi kegiatan sesekali. Jadikan ia kebutuhan harian,” tutur Jatmiko.
Safari Dakwah Mubaligh Muhammadiyah putaran ke-13 itu tidak hanya menjadi forum penyampaian materi keagamaan. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus menumbuhkan semangat dakwah Muhammadiyah yang berkemajuan, mencerahkan, dan menggembirakan. (*)
