33.1 C
Jakarta

UMS Perkuat Branding Lewat Pelatihan Protokoler Islami

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menyelenggarakan pelatihan protokoler secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu (25/4). Kegiatan ini mengusung tema “Profesionalisme Protokoler Berbasis Nilai Islami Dalam Mendukung Reputasi Unggul Dan Branding UMS” sebagai upaya memperkuat citra institusi yang berdaya saing global dan berkelanjutan.

Wakil Rektor IV UMS, Prof. dr. Dr. Em Sutrisna, M.Kes., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Puji syukur alhamdulillah atas segala nikmat Allah kita dapat ikut acara pelatihan protokoler ini. Pelatihan ini menjadi penting karena mendukung hospitalitas dan branding UMS yang mendunia dan sustainable,” ujar Em Sutrisna.

Pelatihan protokoler ini dimoderatori oleh Sekretaris UMS, Andy Dwi Bayu Bawono, S.E., M.Si., Ph.D., dan menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi.
Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Ahmad Muttaqin, M.A., Ph.D., dalam pemaparannya menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam keprotokoleran.

“Pada tahun 2020 Majelis Diktilitbang sudah menerbitkan buku pedoman keprotokoleran perguruan tinggi Muhammadiyah, dan pengaturannya sangat lengkap dan detail, baik dari tata ruang maupun tata acaranya,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa protokol kini menjadi representasi institusi.

“Paradigma baru, protokol adalah wajah institusi. Jika paradigma lama hanya fokus pada aturan teknis dan kepanitiaan, paradigma baru berfokus pada menciptakan suasana khidmat, megah, dan agung,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan dimensi spiritual dalam keprotokoleran. “Etika Islami adalah jantung protokoler, dan dalilnya adalah hadits tentang memuliakan tamu, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya,” tegasnya.

Narasumber kedua dari Pemerintah Kota Surakarta, Azhalola Testiana, S.STP, M.AP., menjelaskan tujuan keprotokoleran dalam konteks pemerintahan.

“Memberikan penghormatan kepada pejabat negara, pejabat pemerintahan, perwakilan negara asing dan atau tamu organisasi internasional, serta masyarakat tertentu dan tamu negara sesuai dengan kedudukan dalam negara, pemerintahan dan masyarakat,” paparnya.

Ia juga menguraikan aspek yang diatur dalam keprotokoleran.

“Yang diatur dalam keprotokoleran meliputi tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan seperti presiden, wakil presiden, lambang negara, bendera negara, dan lagu kebangsaan,” jelasnya.

Ia menambahkan pentingnya nilai Islami dalam praktik protokoler. Protokoler berbasis nilai Islami mencakup niat, disiplin dan tepat waktu, adab dalam melayani, penampilan sesuai syariat, serta komunikasi.

Sementara itu, narasumber ketiga dari UMS, Prof. Dr. Sabar Narimo, M.M., M.Hum., menjelaskan peran protokol dalam sebuah kegiatan.

“Protokol adalah orang yang bertugas merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi acara,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keprotokoleran memiliki cakupan luas. Pengertian protokoler adalah seluruh hal yang mengatur pelaksanaan suatu kegiatan dalam kedinasan atau kantor maupun masyarakat.

Ia menekankan kompetensi yang harus dimiliki oleh protokol.

“Protokol yang baik mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang luas terutama dalam hubungan antar manusia,” pungkasnya.

Melalui pelatihan ini, UMS berupaya meningkatkan profesionalisme dalam bidang keprotokoleran sekaligus menanamkan nilai-nilai Islami sebagai fondasi dalam mendukung reputasi unggul dan penguatan branding institusi di tingkat nasional maupun internasional. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!