SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menjadi tuan rumah workshop dan rapat kerja Forum Komunikasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (Forkom LPPM) Jawa Tengah tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 24-25 April 2026 tersebut menjadi ruang strategis untuk berdiskusi sekaligus merumuskan arah dan kebijakan riset serta pengabdian kepada masyarakat di lingkungan perguruan tinggi.
Mengusung tema Arah dan Kebijakan Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat DPPM untuk Pengembangan Karir Dosen, forum ini dihadiri oleh 70 perguruan tinggi swasta se-Jawa Tengah dengan 91 perwakilan. Acara ini juga menghadirkan Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D.
Wakil Ketua Forkom LPPM, Dr. Agus Wibowo, S.H., M.Si., menyampaikan bahwa forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran riset yang berdampak luas bagi masyarakat.
“Di sinilah peran strategis LPPM menjadi sangat penting, untuk menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata dalam masyarakat,” ujarnya, Jumat (24/4) di Ruang Meeting Edutorium UMS.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk memperkuat sinergi dan komitmen bersama.
“Melalui workshop dan rapat kerja ini, mari kita perkuat sinergi, kolaborasi, dan komitmen bersama untuk menghadirkan riset yang unggul dan berkemajuan. Memperluas pengabdian kepada masyarakat yang solutif. Mendorong inovasi yang membawa kemanfaatan yang lebih luas,” ajaknya.
Sementara itu, Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menegaskan bahwa riset merupakan bagian integral dari tridarma perguruan tinggi yang tidak terpisahkan dari publikasi, reputasi, dan dampak institusi.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun budaya riset yang tidak bersifat paksaan, melainkan menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi dosen.
“Secara khusus kami atas nama UMS menyambut baik program ini dan sekaligus mengajak kepada pimpinan LPPM PTMA se-Jawa Tengah,” ungkap Harun.
Direktur DRPPS, Prof. Ir. Sarjito, M.T., Ph.D., menilai pertemuan ini sebagai langkah strategis dalam membangun konsolidasi antarperguruan tinggi.
Menurutnya, pertemuan ini sangat strategis sebagai ruang konsolidasi agar kampus tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan kolaboratif, saling menguatkan, dan berbagi praktik baik.
“Sebagai ikhtiar menyelaraskan arah riset dan pengabdian kepada masyarakat perguruan tinggi dengan kebijakan nasional Kemendiktisaintek, khususnya dalam mendukung Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, hilirisasi riset, dan penguatan ekosistem riset,” tambah Sarjito.
Dalam kesempatan tersebut, I Ketut Adnyana dari Kemdiktisaintek turut menekankan pentingnya penguatan ekosistem riset berbasis kebutuhan nyata. Ia mengungkapkan bahwa data Global Innovation Index menunjukkan keterkaitan antara peningkatan pendapatan per kapita dengan kesejahteraan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa pengembangan ekosistem riset nasional dibangun melalui dua pilar utama, yakni penelitian dan hilirisasi dengan para dosen sebagai fondasinya.
“Jadi sumber daya manusia sebagai fondasinya. Bapak Ibu sebagai pondasinya karena merekalah yang akan melakukan inovasi, bukan siapa-siapa,” ujarnya.
Pilar penelitian diharapkan berangkat dari permasalahan riil di masyarakat, sedangkan hilirisasi berfokus pada peningkatan nilai tambah serta penciptaan solusi konkret.
“Ekosistemnya tadi sekali lagi berbasis kebutuhan nyata, tidak hanya berbasis hobi, berbasis kesukaan,” tegasnya. (*)

