31.4 C
Jakarta

Pengajian “Charging Power Ketakwaan” Gema di Solo

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Semangat meningkatkan keimanan dan ketakwaan menggema dalam pengajian bertajuk “Charging Power Ketakwaan” yang digelar di Masjid Darul Hayat, Banyuanyar RT 02 RW 12, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Ahad (26/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Cabang Solo Utara, Dwi Jatmiko, sebagai penceramah.

Dalam tausiyahnya, dai yang juga dikenal sebagai Dai Champions MUI Pusat itu mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan. Ia menegaskan bahwa rasa syukur bukan hanya ucapan, tetapi juga bentuk ibadah yang harus dilakukan sepanjang waktu.

“Bersyukur dan berterima kasih adalah ibadah 24 jam. Salah satu bentuknya adalah mengikuti pengajian sebagai charging power ketakwaan,” ujar Dwi Jatmiko di hadapan jamaah.

Ia menambahkan, seseorang yang tidak mampu mensyukuri hal kecil akan sulit menghargai nikmat yang lebih besar. Oleh karena itu, setiap nikmat yang dimiliki harus dijadikan modal untuk terus bersyukur kepada Allah SWT.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa charging ketakwaan dapat dilakukan melalui berbagai ibadah, seperti salat wajib, salat Jumat, zakat, infak, sedekah, hingga ibadah haji dan umrah. Selain itu, membaca Al-Qur’an juga menjadi sarana utama dalam berkomunikasi dengan Allah, namun harus disertai dengan pemahaman terhadap makna ayat yang dibaca.

“Jika ingin berbicara dengan Allah, maka bacalah Al-Qur’an. Tapi kita juga harus memahami arti dan maksudnya,” tuturnya.

Dalam ceramahnya, Dwi Jatmiko juga mengingatkan bahwa Allah SWT akan melimpahkan keberkahan kepada suatu kaum yang beriman dan bertakwa. Sebaliknya, jika mereka mengingkari ayat-ayat-Nya, maka azab dapat datang akibat perbuatan mereka sendiri.

Menurutnya, ciri orang bertakwa adalah melakukan segala sesuatu atas dasar cinta kepada Allah. Bahkan dalam kondisi sulit sekalipun, seperti bangun malam untuk salat tahajud atau melaksanakan salat subuh di tengah cuaca dingin, tetap dilakukan dengan penuh keikhlasan.

“Semua dilakukan lillah, bukan karena manusia (linnas),” tegasnya.

Ia juga mengajak jamaah untuk senantiasa mengingat Allah ketika terlintas pikiran buruk, sebagaimana pesan dalam Al-Qur’an. Ketakwaan, lanjutnya, akan menjadikan seseorang selalu berada dalam lindungan dan kebersamaan dengan Allah.

Di akhir tausiyah, Dwi Jatmiko yang juga guru PAI SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta itu memberikan empat pesan penting untuk menjadi pribadi bertakwa, yakni gemar berinfak dalam kondisi lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, memberi maaf kepada sesama, serta senantiasa memohon ampun atas dosa yang telah dilakukan.

Pengajian ini diharapkan menjadi momentum spiritual bagi masyarakat untuk terus memperkuat keimanan dan meningkatkan kualitas ibadah dalam kehidupan sehari-hari. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!