SOLO, MENARA62.COM – Lembaga Pengembangan Persyarikatan, Pengkaderan, dan Alumni (LP3A) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id sukses menyelenggarakan Workshop dan Pelatihan bertajuk “One Dosen – One Tendik – One AUM”. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 16 Mei 2026, bertempat di Ruang Seminar Lantai 7, Gedung Induk Siti Walidah UMS. Diikuti oleh segenap dosen dan tenaga kependidikan (tendik) di lingkungan kampus, workshop ini bertujuan untuk mengoptimalisasi peran civitas academica dalam memperkuat dan menggerakkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) serta organisasi Muhammadiyah di tingkat Cabang dan Ranting.
Wakil Rektor III UMS, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., menekankan bahwa keberadaan LP3A merupakan pilar penting yang berfungsi sebagai jembatan tali silaturahmi antara pihak universitas dengan struktur persyarikatan di akar rumput. Ia menekankan bahwa program “One Dosen – One Tendik – One AUM” didesain agar tidak hanya membawa dampak positif internal bagi persyarikatan, melainkan juga memberikan dampak balik yang kuat terhadap ekosistem lingkungan kampus.
“Kami berharap besar dengan adanya program ini, UMS mampu memberikan kontribusi yang jauh lebih masif dan nyata bagi persyarikatan Muhammadiyah. Saat ini, Muhammadiyah dinilai mengalami penurunan jumlah keanggotaan dan kader muda dalam beberapa tahun terakhir, ini tentu menjadi paradoks di internal Muhammadiyah yang seharusnya AUM dapat menghasilkan kader & keanggotaan jauh lebih banyak,” ujar Wakil Rektor III, Selasa (19/5).
Senada dengan hal tersebut, Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam opening speech-nya menyampaikan visi besar mengenai pemerataan dakwah persyarikatan. Menurut Harun, esensi dari program sinergi antara dosen, tendik, AUM, dan persyarikatan ini adalah terwujudnya sebaran Ranting dan Cabang Muhammadiyah yang merata di setiap wilayah. Hal tersebut harus didasarkan pada akurasi data warga yang ber-Muhammadiyah.
Secara khusus, Rektor mendorong LP3A untuk segera menginisiasi dan merumuskan sebuah sistem pendataan berbasis teknologi digital.
“Sistem data ini nantinya harus mampu memonitor dan memetakan secara real-time siapa saja dosen maupun tendik yang telah menjalankan peran aktifnya sebagai pendiri, pengurus, atau pengelola di masing-masing AUM daerah. Ini berlaku adil, baik untuk wilayah yang sudah memiliki AUM yang mapan, maupun wilayah-wilayah perintis yang belum memiliki AUM sama sekali. Dengan data yang valid, intervensi pembinaan akan jauh lebih terukur,” tegas Harun.
Pada sesi pertama acara inti workshop, Dr. Bambang Sukoco Menekankan bahwa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bukanlah sekadar institusi bisnis atau sosial biasa.
“AUM adalah instrumen utama dakwah amar ma’ruf nahimunkar yang berfungsi merealisasikan cita-cita luhurMuhammadiyah, yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,” ujarnya.
Bambang Sukoco tidak menampik bahwa dalam perjalanannya, UMS akan menghadapi tantangan transisi yang tidak mudah. Tantangan tersebut meliputi, transformasi budaya kerja, peningkatan kapasitas SDM, hingga penyelarasan struktur organisasi.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa UMS berkomitmen penuh untuk membangun budaya organisasi yang progresif. Langkah ini diambil demi mewujudkan masyarakat yang berkemajuan, sekaligus mengokohkan posisi UMS sebagai pusat penggerak dakwah dan kaderisasi yang berdampak nyata.
Memasuki sesi materi inti, pembicara menampilkan potret keberhasilan (best practice) pengembangan AUM berbasis desa yang dipaparkan oleh Yusuf Aziz Rahma, S.Pd., M.M., selaku Kepala Desa Wonorejo, Polokarto, Sukoharjo. Yusuf membagikan formula sukses kolaborasi sosio-religius antara Pemerintah Desa Wonorejo dengan struktur Muhammadiyah setempat yang terbukti mampu mendongkrak kesejahteraan sosial masyarakat secara nyata.
Kehadiran Muhammadiyah juga menyentuh aspek jaminan sosial melalui pemberian beasiswa pendidikan bagi siswa Muhammadiyah yang berprestasi dan kurang mampu, penyediaan layanan kesehatan gratis melalui Jaminan Kesehatan Desa (JAMKESDES), hingga penyelenggaraan turnamen sepak bola komunitas bertajuk Wonorejo Cup. Model kolaborasi kelembagaan ini menjadi bukti sahih bahwa kemandirian, produktivitas, dan kemajuan desa dapat di akselerasi melalui keterlibatan aktif organisasi keagamaan.
Sesi dilanjutkan dengan materi mengenai strategi Menuju Cabang dan Ranting Unggul Berbasis PTMA. Dalam pemaparannya, ditekankan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) seperti UMS memegang mandat strategis untuk mengantarkan Cabang dan Ranting menuju predikat unggul.
Yang tidak kalah penting, materi ini menegaskan kembali amanat regulasi bahwa setiap pegawai AUM, baik dosen maupun tendik, mengemban tanggung jawab moral dan organisatoris untuk membina dan menghidupkan ranting Muhammadiyah di lingkungan tempat tinggal atau domisili mereka masing-masing.
Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif, penegasan hasil lokakarya, serta doa penutup oleh panitia pelaksana. (*)

