CIMAHI, MENARA62.COM — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan api pencerahan Muhammadiyah Jawa Barat harus terus menyala melalui penguatan mutu pendidikan, inovasi layanan, dan harmoni ekosistem amal usaha.
Hal itu disampaikan Fajar saat memberikan arahan sekaligus membuka Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Majelis Dikdasmen dan PNF, MPKSDI, serta LP2M Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat di BBPPMPV BMTI Cimahi, Sabtu (27/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Fajar mengingatkan bahwa Muhammadiyah Jawa Barat sejak awal menjadi bagian penting dari gerakan pencerahan Persyarikatan. Jejak sejarah Muhammadiyah di berbagai wilayah Jawa Barat menunjukkan kontribusi besar dalam membangun pendidikan dan peradaban bangsa.
“Dari refleksi sejarah ini, kita perlu meyakini bahwa Muhammadiyah Jawa Barat sejak awal menjadi bagian dari gerakan pencerahan bangsa. Karena itu, api pencerahan Muhammadiyah Jawa Barat harus terus menyala melalui mutu pendidikan,” ujar Fajar.
Menurut Fajar, geliat Muhammadiyah Jawa Barat dalam satu dekade terakhir semakin terasa. Momentum tersebut perlu dijaga dengan memperkuat amal usaha, terutama sektor pendidikan.
Ia menekankan pentingnya perubahan orientasi dari sekadar memperbanyak jumlah amal usaha menjadi meningkatkan kualitas dan daya saing lembaga pendidikan.
“Kompetisi pendidikan hari ini semakin ditentukan oleh mutu, inovasi, layanan yang baik, dan kepercayaan masyarakat. Kompetisi sekarang adalah kompetisi yang berorientasi pada layanan dan kualitas,” tegasnya.
Fajar mengapresiasi capaian sekolah Muhammadiyah Jawa Barat, khususnya jenjang SMP yang telah memiliki akreditasi A di atas 80 persen. Namun, ia mendorong penguatan kualitas pada jenjang SD dan SMA agar semakin kompetitif.
Ia meminta agar budaya mutu dibangun sejak jenjang PAUD hingga SMA/SMK/MA. Sekolah Muhammadiyah tidak hanya mengejar akreditasi, tetapi juga harus memastikan pembelajaran berjalan hidup, guru terus berkembang, kepala sekolah menjadi pemimpin perubahan, serta layanan pendidikan semakin dipercaya masyarakat.
“Sekolah Muhammadiyah harus semakin unggul. Kalau hari ini sekolah unggul di Jawa Barat baru sekitar 12 persen, kita perlu dorong agar naik minimal 30 persen. Ini pekerjaan besar yang membutuhkan ketekunan semua pihak,” katanya.
Selain itu, Fajar mendorong strategi satu kabupaten/kota satu sekolah unggulan di setiap jenjang. Ia mengingatkan pengembangan sekolah harus dilakukan dengan perencanaan matang, inovasi, serta keberlanjutan.
“Jangan hanya bermodal bismillah lalu membuka sekolah. Sekolah Muhammadiyah harus dibangun dengan perencanaan, mutu, inovasi, dan keberlanjutan,” ungkapnya.
Menurut Fajar, perubahan zaman juga menuntut sekolah Muhammadiyah mampu membaca kebutuhan generasi digital, meningkatnya harapan orang tua, serta kompetisi layanan pendidikan yang semakin ketat.
Ia menilai sekolah Muhammadiyah memiliki modal kuat dalam membangun ekosistem pembelajaran yang menggabungkan aspek sosial, emosional, dan spiritual, terutama di era kecerdasan buatan.
“Ke depan, kecakapan sosial, emosional, dan spiritual akan semakin penting. Sekolah Muhammadiyah punya modalitas kuat untuk membangun ekosistem pembelajaran yang sehat,” jelasnya.
Fajar juga menegaskan bahwa sekolah swasta yang dikelola masyarakat, termasuk Muhammadiyah, merupakan mitra strategis pemerintah dalam memperluas akses sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
“Pendidikan nasional tidak bisa dikerjakan pemerintah sendiri. Muhammadiyah adalah salah satu komponen bangsa yang sangat penting dalam kerja-kerja mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PWM Jawa Barat Ahmad Dahlan menyampaikan Muhammadiyah sejak awal dikenal bergerak melalui pendidikan sebagai bagian dari misi pencerahan bangsa.
“Muhammadiyah adalah agen pencerahan bangsa. Maka, kolaborasi untuk keunggulan harus terus kita kuatkan,” katanya.
Melalui Rakorwil tersebut, Fajar berharap Muhammadiyah Jawa Barat semakin memperkuat kolaborasi, membangun harmoni ekosistem pendidikan, serta mempercepat langkah menuju amal usaha pendidikan yang unggul, inovatif, dan berdaya saing.
“Orang menghormati Muhammadiyah karena mutu dan layanan. Pelayanan seluas-luasnya tanpa pandang bulu harus terus menjadi ciri khas Muhammadiyah,” pungkasnya. (*)

