29.1 C
Jakarta

Buka Resmi Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026, Presiden Tekankan Peran Perguruan Tinggi dan Ilmuwan dalam Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Nasional

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa kebangkitan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kemampuan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi, serta sumber daya manusia terbaik yang dimiliki. Hal tersebut disampaikan saat membuka Sarasehan Kebangsaan bertema “Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia“, yang menjadi bagian dari rangkaian Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta Convention Center (JCC) pada Jumat (26/6/2026).

Di hadapan ribuan akademisi, guru besar, rektor, peneliti, dan sivitas akademika dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia, Presiden menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum yang mempertemukan dunia pendidikan tinggi dengan pemerintah untuk merumuskan strategi pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan.

Presiden membuka pidatonya dengan menyampaikan penghormatan kepada Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto selaku penyelenggara, Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Prof. Edward Wolok, para menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan lembaga negara, pimpinan TNI dan Polri, serta seluruh pimpinan perguruan tinggi yang hadir.

Ia mengaku merasa terhormat dapat berbicara di hadapan ratusan guru besar dan pimpinan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia. Menurutnya, para guru besar merupakan sumber daya intelektual terbaik yang dimiliki bangsa sehingga memiliki peran strategis dalam menentukan arah kemajuan Indonesia.

“Saya selalu berpendapat bahwa para guru besar adalah orang-orang terpintar dari sebuah negara. Kalau negara ingin bangkit dan maju, maka potensi kampus dan universitas harus dimanfaatkan secara maksimal,” ujar Presiden.

Presiden juga mengajak seluruh peserta untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berbagai nikmat yang masih dirasakan bangsa Indonesia, terutama kondisi keamanan dan stabilitas nasional di tengah situasi dunia yang masih diwarnai berbagai konflik bersenjata.

Ia menilai Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk terus berkembang karena hingga saat ini masih mampu menjaga perdamaian ketika banyak kawasan dunia menghadapi perang dan ketegangan geopolitik.

Iptek Faktor Utama Pendorong Perubahan

Dalam kesempatan tersebut, Presiden kembali menekankan bahwa tujuan utama sebuah negara adalah menghadirkan kehidupan yang layak dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya. Oleh karena itu, seluruh kebijakan pemerintah diarahkan untuk mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.

Menurut Presiden, ilmu pengetahuan dan teknologi selalu menjadi faktor utama yang mendorong perubahan peradaban manusia. Mulai dari ditemukannya teknologi pertanian hingga perkembangan industri modern, seluruh kemajuan bangsa tidak pernah lepas dari kontribusi para ilmuwan dan pemikir terbaik.

Karena itulah, pemerintah berupaya melibatkan para profesor, akademisi, dan peneliti dalam berbagai posisi strategis pemerintahan agar kebijakan yang diambil memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Presiden menjelaskan bahwa kepemimpinan yang baik tidak hanya bergantung pada sosok pemimpin, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang berada di belakangnya. Ia mengibaratkan pemerintahan seperti sebuah tim olahraga yang membutuhkan manajer, pelatih, tenaga pendukung, dan pemain terbaik agar mampu meraih kemenangan.

“Percuma kita memiliki teknologi paling canggih apabila sumber daya manusianya tidak siap mengoperasikannya. Yang menentukan keberhasilan adalah manusia di balik teknologi tersebut,” katanya.

Presiden juga menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Sarasehan Kebangsaan yang dinilainya menjadi wadah penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi.

Presiden mengajak seluruh elemen bangsa untuk membangun semangat persatuan di tengah berbagai perbedaan latar belakang, profesi, suku, agama, maupun pandangan politik. Ia menegaskan bahwa keberagaman seharusnya menjadi kekuatan untuk mencari titik temu demi kepentingan nasional.

Mengacu pada berbagai pelajaran sejarah dunia, Presiden menyebut banyak negara mengalami kemunduran karena elite politik maupun intelektualnya gagal bekerja sama. Sebaliknya, negara-negara yang mampu membangun kolaborasi antarelite berhasil mencapai kemajuan yang signifikan.

Sebagai contoh, Presiden menyinggung berbagai konflik yang masih berlangsung di sejumlah kawasan dunia, termasuk di Ukraina, Gaza, Lebanon, Iran, Yaman, Afghanistan, Myanmar, hingga kawasan lainnya. Menurutnya, konflik-konflik tersebut memberikan pelajaran penting mengenai pentingnya persatuan nasional dalam menjaga stabilitas sebuah negara.

Presiden kemudian mengulas pengalamannya selama mengikuti proses demokrasi di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa dirinya telah beberapa kali mengikuti pemilihan umum sebelum akhirnya memperoleh mandat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Ia menegaskan bahwa demokrasi harus dihormati sebagai bentuk kedaulatan rakyat. Perbedaan pilihan politik, menurutnya, tidak boleh berkembang menjadi konflik yang menghambat pembangunan nasional.

“Kalau setiap selesai pemilihan kita terus gaduh, terus bertikai, kapan kita membangun kesejahteraan rakyat?” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Presiden juga menyampaikan berbagai tantangan yang masih dihadapi Indonesia di bidang ilmu pengetahuan dan industri. Ia mempertanyakan mengapa Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas strategis seperti gandum, padahal memiliki sumber daya alam yang melimpah.

Selain itu, Presiden juga menyoroti produktivitas perkebunan kelapa sawit Indonesia yang menurutnya masih tertinggal dibandingkan negara lain pada luasan lahan yang sama.

Presiden turut mempertanyakan mengapa Indonesia belum lama memiliki industri otomotif nasional yang sepenuhnya dikembangkan oleh putra-putri bangsa, meskipun setiap tahun pasar domestik mampu menyerap jutaan kendaraan bermotor.

Namun demikian, Presiden mengaku optimistis karena berbagai perguruan tinggi bersama industri nasional mulai menunjukkan kemajuan dalam mengembangkan kendaraan karya anak bangsa.

Ia bahkan menceritakan pengalamannya menggunakan mobil hasil pengembangan nasional setelah dilantik sebagai Presiden.

Menurutnya, meskipun masih terdapat berbagai kekurangan teknis pada tahap awal pengembangan, langkah tersebut merupakan pencapaian penting yang harus terus disempurnakan melalui inovasi.

“Yang terpenting adalah kita berani memulai. Tidak ada kemajuan tanpa keberanian untuk memulai,” tegas Presiden.

Menutup bagian awal pidatonya, Presiden kembali mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia sekaligus memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar.

Dengan modal tersebut, ia optimistis Indonesia mampu menjadi negara maju apabila seluruh komponen bangsa, khususnya kalangan akademisi, ilmuwan, pemerintah, dan dunia industri, mampu bekerja sama dalam menghasilkan inovasi yang mendukung kemandirian ekonomi nasional.

Presiden berharap forum Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 dapat melahirkan berbagai gagasan strategis yang menjadi dasar kebijakan pembangunan nasional berbasis sains dan teknologi, sehingga Indonesia mampu meningkatkan daya saing, memperkuat industri dalam negeri, dan mewujudkan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat.

Sebelumnya, Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyampaikan Sarasehan Kebangsaan dihadiri lebih dari 2.600 peserta dari berbagai unsur strategis. Peserta terdiri atas 219 rektor, 44 direktur perguruan tinggi, 6 ketua perguruan tinggi, 1.596 dosen dan ilmuwan, sekitar 300 peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta lebih dari 635 mitra kolaborasi dari perguruan tinggi dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Jumlah peserta yang besar tersebut menunjukkan tingginya komitmen berbagai pihak dalam memperkuat peran ilmu pengetahuan sebagai fondasi pembangunan nasional di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

Ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan KSTI merupakan kelanjutan dari inisiatif yang dimulai pada tahun 2025. Konvensi perdana diselenggarakan di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, pada Agustus 2025 dan dibuka langsung oleh Presiden Republik Indonesia.

Sejak penyelenggaraan pertama, KSTI menjadi forum strategis yang mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, dunia industri, serta berbagai pemangku kepentingan dalam merancang arah pembangunan nasional berbasis inovasi dan teknologi.

Sarasehan Kebangsaan tahun 2026 menjadi bagian penting dari kelanjutan program tersebut dengan tujuan memperkuat kolaborasi lintas sektor agar hasil riset dan inovasi yang dikembangkan di lingkungan akademik dapat diterapkan secara nyata dalam mendukung pembangunan nasional.

Menteri Brian juga menegaskan bahwa Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terus memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai mitra strategis pemerintah dalam merancang sekaligus mengimplementasikan berbagai program prioritas nasional. Kolaborasi antara kampus, kementerian, dunia usaha, dan industri dinilai menjadi kunci dalam mempercepat transformasi ekonomi Indonesia menuju negara maju yang mandiri secara teknologi.

Berbagai hasil kolaborasi yang telah berjalan sejak KSTI 2025 turut dipaparkan sebagai bukti bahwa sinergi antara pemerintah dan dunia akademik mulai menghasilkan program-program konkret di berbagai sektor.

Berikut Bentuk Kolaborasi Lintas Lembaga

Di bawah koordinasi Kementerian Pertanian, berbagai perguruan tinggi bersama para peneliti melaksanakan pengembangan genom pertanian serta penelitian varietas unggul berbagai komoditas strategis. Program tersebut bertujuan menghasilkan bibit berkualitas tinggi yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor komoditas pertanian.

Langkah tersebut diharapkan menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan teknologi genetika modern.

Dalam bidang lingkungan hidup, pemerintah bersama Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertahanan, Danantara, BRIN, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta berbagai perguruan tinggi tengah mengembangkan teknologi pengolahan sampah yang lebih modern dan ramah lingkungan. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memberikan solusi terhadap persoalan sampah perkotaan sekaligus menghasilkan teknologi yang dapat diterapkan secara luas di berbagai daerah.

Di sektor energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengoordinasikan sejumlah riset strategis bersama perguruan tinggi. Program yang sedang dikembangkan meliputi penelitian bensin berbasis sawit, pengembangan kompor listrik, hingga kajian implementasi pembangunan pembangkit listrik dengan kapasitas mencapai 100 gigawatt (GW).

Penelitian tersebut diarahkan untuk mendukung transisi energi nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri.

Sementara itu, di bidang kesehatan, Kementerian Kesehatan bersama berbagai perguruan tinggi melaksanakan penelitian vaksin tuberkulosis (TBC) serta memperkuat pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan nasional. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kemandirian Indonesia dalam memenuhi kebutuhan obat-obatan, vaksin, maupun alat kesehatan tanpa bergantung pada impor.

Pada sektor kelautan, riset difokuskan pada pengembangan industri garam nasional, teknologi kapal nelayan listrik, serta berbagai inovasi lainnya yang bertujuan meningkatkan produktivitas sektor perikanan dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Pemanfaatan teknologi dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing sektor kelautan Indonesia di tingkat global.

Dalam bidang perumahan dan kawasan permukiman, sejumlah perguruan tinggi bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman mengembangkan konsep desain kawasan perkotaan serta hunian vertikal yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Konsep tersebut diharapkan menjadi salah satu solusi terhadap tantangan urbanisasi dan kebutuhan hunian masyarakat di masa depan.

Kolaborasi juga dilakukan dalam pembangunan infrastruktur berskala nasional. Di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah bersama Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa, berbagai peneliti dari perguruan tinggi turut berkontribusi dalam kajian dan pengembangan proyek Giant Sea Wall sebagai bagian dari upaya perlindungan wilayah pesisir utara Pulau Jawa.

Selain itu, melalui koordinasi Danantara, para peneliti dari berbagai perguruan tinggi juga terlibat dalam pengembangan industri semikonduktor nasional. Industri semikonduktor dipandang sebagai salah satu sektor strategis yang akan menentukan daya saing Indonesia pada era transformasi digital dan revolusi industri berbasis teknologi tinggi.

Menteri Brian menyampaikan bahwa seluruh hasil diskusi selama tiga hari pelaksanaan kegiatan akan dirumuskan menjadi rekomendasi mengenai peran dan kontribusi perguruan tinggi dalam mempercepat pelaksanaan berbagai program prioritas nasional. Rumusan tersebut diharapkan menjadi landasan kerja sama yang lebih erat antara pemerintah, dunia pendidikan tinggi, industri, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan.

Melalui penyelenggaraan KSTI 2026, pemerintah bersama perguruan tinggi menegaskan komitmennya untuk menjadikan riset, inovasi, dan penguasaan teknologi sebagai pilar utama pembangunan nasional. Kolaborasi yang semakin erat antara akademisi, peneliti, industri, dan pemerintah diharapkan mampu mempercepat lahirnya berbagai solusi inovatif yang mendukung ketahanan pangan, energi, kesehatan, lingkungan, infrastruktur, hingga industri berteknologi tinggi demi terwujudnya kemandirian ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!