JAKARTA, MENARA62.COM – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha dalam mempercepat penyelesaian berbagai persoalan strategis nasional, mulai dari pengelolaan sampah hingga peningkatan produktivitas sektor pertanian dan perikanan.
Hal tersebut disampaikan Zulkifli Hasan dalam keterangan persnya pada KSTI 2026, Sabtu (27/6/2026). Menurutnya, berbagai program yang berada di bawah koordinasinya tidak dapat diselesaikan pemerintah sendiri tanpa dukungan riset dan inovasi dari kalangan akademisi.
“Saya ambil contoh pengelolaan sampah. Sampah itu yang darurat, yang besar-besar itu sekarang yang baru bisa ITB. Tapi ITB pun hanya bisa 200 ton. Yang 1.000 ton ke atas belum bisa,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah membutuhkan berbagai teknologi pengolahan sampah, mulai dari teknologi sederhana untuk skala rumah tangga hingga teknologi berkapasitas besar. Menurutnya, target penyelesaian persoalan sampah pada 2029 hanya dapat dicapai apabila tersedia peralatan dan inovasi teknologi yang memadai.
Selain pengelolaan sampah, Zulkifli Hasan menyoroti sektor pertanian yang dinilainya masih menghadapi tantangan produktivitas akibat keterbatasan teknologi. Ia mencontohkan tingginya biaya produksi gula nasional dibandingkan negara lain.
Menurutnya, biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram gula di Indonesia mencapai sekitar Rp15.000, sedangkan di Thailand sekitar Rp4.000 dan di Brasil sekitar Rp3.800 per kilogram.
“Kenapa? Teknologi,” kata Zulkifli Hasan.
Ia menilai pengembangan varietas unggul dan inovasi teknologi pertanian harus menjadi fokus penelitian perguruan tinggi agar Indonesia mampu meningkatkan daya saing sekaligus mewujudkan kemandirian pangan.
Lebih lanjut, Zulkifli Hasan juga menyinggung sektor perikanan. Ia mengatakan Indonesia masih bergantung pada bibit ikan dari luar negeri untuk beberapa jenis budidaya yang memiliki produktivitas tinggi. Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas jagung yang masih membutuhkan benih impor.
Menurutnya, ketergantungan tersebut menunjukkan pentingnya penguatan riset nasional agar Indonesia dapat menghasilkan teknologi dan bibit unggul sendiri.
Pada kesempatan itu, ia mengapresiasi program penelitian dan pengembangan yang tengah dijalankan di bawah kepemimpinan menteri terkait. Ia optimistis penguatan pendidikan dan penelitian akan mempercepat terwujudnya kedaulatan nasional, termasuk swasembada pangan dan energi.
“Kami minta kerja sama dengan perguruan tinggi. Kalau pendidikan dan penelitian terus diperkuat, kita akan lebih cepat berdaulat, lebih cepat swasembada, baik pangan maupun energi,” ujarnya.
Zulkifli Hasan menambahkan bahwa kolaborasi tidak hanya melibatkan pemerintah dan perguruan tinggi, tetapi juga membutuhkan peran aktif dunia usaha agar berbagai inovasi dapat diterapkan secara luas di masyarakat.
