SOLO, MENARA62.COM — Kanker usus besar atau kolorektal masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Penyakit ini menempati peringkat ketiga sebagai penyebab kematian akibat kanker, sementara sebagian besar pasien baru terdiagnosis ketika sudah memasuki stadium lanjut sehingga peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih rendah.
Fakta tersebut disampaikan dalam Gathering Mitra Jejaring Pelayanan Kesehatan RS PKU Muhammadiyah Surakarta 2026 yang berlangsung di Aula KH Ahmad Dahlan RS PKU Muhammadiyah Surakarta, Sabtu (27/6). Kegiatan ini diikuti 42 mitra jejaring yang terdiri atas pimpinan puskesmas, klinik, dan dokter praktik mandiri dari Kota Surakarta dan sekitarnya.
Direktur RS PKU Muhammadiyah Surakarta, dr. Arief Budiman, mengatakan sinergi antara rumah sakit dan fasilitas kesehatan tingkat pertama menjadi kunci dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, dan berkesinambungan.
“Masyarakat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas sejak pertama kali datang ke fasilitas kesehatan hingga memperoleh penanganan lanjutan di rumah sakit. Karena itu, komunikasi dan kolaborasi yang kuat antara rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun dokter praktik mandiri sangat diperlukan,” ujarnya.
Menurut Arief, Gathering Mitra Jejaring tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga wadah memperkuat komunikasi, membangun kepercayaan, dan meningkatkan kolaborasi demi pelayanan kesehatan yang lebih optimal bagi masyarakat.
Kanker Usus Besar Sering Terlambat Terdeteksi
Dalam sesi Medical Update & Clinical Sharing bertema Dari Keluhan Ringan hingga Penanganan Lanjut Batu Empedu dan Kanker Usus Besar, dokter spesialis bedah digestif RS PKU Muhammadiyah Surakarta, dr. Suryo Wahyu Raharjo, Sp.B, Subsp.BD(K), FINACS, menjelaskan bahwa kanker usus besar masih kerap terlambat terdiagnosis.
Ia menyebut, sekitar 70 persen pasien baru diketahui mengidap kanker usus besar ketika sudah berada pada stadium lanjut. Kondisi tersebut menyebabkan angka kesembuhan menurun karena penanganan tidak dilakukan sejak fase awal penyakit.
“Kanker usus besar saat ini menempati peringkat ketiga sebagai kanker dengan jumlah kasus terbanyak di dunia. Di Indonesia, kanker ini berada pada peringkat kedua dengan angka kejadian tertinggi dan juga menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi ketiga. Ini menjadi perhatian serius karena banyak pasien datang ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut,” jelasnya.
Jangan Abaikan Gejala Awal
Dr. Suryo mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh berbagai keluhan pada saluran pencernaan yang berlangsung terus-menerus.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain perubahan pola buang air besar, nyeri perut berulang, perut terasa penuh atau kembung, buang air besar berdarah, hingga penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.
Menurutnya, deteksi dini menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
“Fasilitas kesehatan tingkat pertama memiliki peran yang sangat strategis sebagai garda terdepan. Kemampuan mengenali tanda bahaya, memberikan edukasi kepada pasien, serta menentukan waktu rujukan yang tepat akan sangat menentukan keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien,” katanya.
Perkuat Sistem Rujukan
Selain pembaruan ilmu medis, kegiatan tersebut juga membahas pengembangan layanan unggulan RS PKU Muhammadiyah Surakarta, evaluasi sistem rujukan pasien, hingga forum diskusi bersama mitra jejaring untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap mitra yang dinilai aktif membangun kolaborasi, RS PKU Muhammadiyah Surakarta memberikan Excellence Partnership & Communication Award 2026 kepada Puskesmas Jayengan Surakarta, Klinik MTA Surakarta, dan dr. Suci Wuryanti sebagai dokter praktik mandiri.
Melalui kegiatan ini, RS PKU Muhammadiyah Surakarta menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat jejaring pelayanan kesehatan melalui kolaborasi yang berkelanjutan, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta sistem rujukan yang semakin efektif. Sinergi tersebut diharapkan mampu menghadirkan layanan kesehatan yang lebih cepat, tepat, terintegrasi, dan berorientasi pada keselamatan pasien. (*)

