28.8 C
Jakarta

Risna Ungkap Kunci Inovasi Farmasi Masa Kini

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM – Inovasi di bidang farmasi tidak selalu harus berkaitan dengan teknologi canggih atau penemuan terbaru. Inovasi justru berawal dari kemampuan menghadirkan solusi yang lebih efektif terhadap berbagai persoalan kesehatan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan apoteker klinis dan komunitas sekaligus influencer, apt Risnawa Puji Astuti, S.Farm., saat menjadi narasumber dalam Seminar Brand Craft 2026 bertema “Be Different, Be You: Finding Your Way in Pharmacy” yang digelar Himpunan Mahasiswa Farmasi (Himprofar) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Sabtu (27/6/2026).

Risnawa atau yang akrab disapa Risna mengatakan, tenaga kefarmasian perlu memiliki pola pikir sebagai seorang inovator. Menurutnya, seorang farmasis tidak cukup hanya menjalankan rutinitas pekerjaan, tetapi perlu memahami akar persoalan yang dialami pasien.

“Inovasi bukan hanya tentang menciptakan sesuatu yang baru, tetapi bagaimana menemukan cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah kesehatan,” ujarnya.

Ia mencontohkan persoalan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat. Selama ini, masalah tersebut sering diatasi melalui edukasi, padahal terdapat berbagai pendekatan inovatif yang dapat dikembangkan.

Beberapa solusi yang dapat diterapkan antara lain aplikasi pengingat minum obat, kalender terapi, smart pill box, pengingat melalui WhatsApp, hingga video edukasi yang lebih mudah dipahami pasien.

Risna menjelaskan, langkah awal menghadirkan inovasi adalah memahami alasan di balik ketidakpatuhan pasien. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari kekhawatiran terhadap efek samping obat, keterbatasan biaya, lupa mengonsumsi obat, hingga kurangnya pemahaman terhadap terapi yang dijalani.

Selain inovasi pelayanan, Risna juga menyoroti pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam dunia farmasi. Menurutnya, AI dapat menjadi mitra strategis bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan efektivitas kerja.

AI dapat membantu farmasis dalam mencari pedoman terapi, merangkum jurnal ilmiah, membandingkan hasil penelitian, menyusun materi edukasi, hingga menganalisis data secara lebih cepat.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran apoteker. Aspek empati, komunikasi dengan pasien, pertimbangan klinis, serta tanggung jawab etika tetap menjadi bagian penting dari profesi farmasi.

“Teknologi dapat membantu pekerjaan farmasis, tetapi nilai kemanusiaan dalam pelayanan kesehatan tetap menjadi hal utama,” kata Risna.

Ia pun mengajak mahasiswa Farmasi untuk mulai membangun inovasi dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten agar mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Sementara itu, Ketua Himprofar UM Bandung, Surya Khairul Rizky, menyampaikan bahwa personal branding menjadi kompetensi penting bagi calon farmasis di tengah perkembangan dunia kesehatan dan persaingan profesi yang semakin dinamis.

Menurutnya, personal branding bukan hanya soal popularitas, tetapi bagaimana seorang farmasis membangun identitas melalui kompetensi, integritas, etika, serta kontribusi nyata dalam pelayanan dan edukasi kesehatan.

“Farmasis dengan personal branding yang kuat akan memiliki peluang lebih luas dalam mengembangkan karier, membangun kolaborasi, dan menjadi sumber informasi kesehatan yang terpercaya,” ujarnya.

Pembina Himprofar UM Bandung, Muhammad Iqbal Rhamadianto, turut mengapresiasi pelaksanaan seminar tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa Farmasi untuk memperluas wawasan, meningkatkan kreativitas, serta menemukan jati diri sebagai calon tenaga kesehatan masa depan.

Melalui seminar ini, mahasiswa diharapkan memahami bahwa profesi farmasis memiliki cakupan pengabdian yang luas. Farmasis tidak hanya berperan dalam pelayanan klinis, tetapi juga dapat menjadi inovator, komunikator kesehatan, dan penggerak perubahan di masyarakat. (FK/FA)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!