BANDUNG, MENARA62.COM – Tekanan ekonomi yang semakin dirasakan masyarakat dinilai menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya tindak kriminalitas, termasuk aksi begal yang melibatkan pelaku usia produktif. Namun, kondisi tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan tindakan melanggar hukum.
Pandangan itu disampaikan Dosen Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Yudi Haryadi, saat membahas fenomena tekanan ekonomi dalam perspektif ekonomi syariah dan nilai-nilai Islam pada program GSM, Rabu (5/8/2026).
Menurut Yudi, berbagai kajian sosiologis dan kriminologis menunjukkan bahwa tekanan ekonomi memang dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan meningkatnya kriminalitas. Namun, persoalan tersebut harus dipahami sebagai masalah sosial yang memerlukan penyelesaian menyeluruh, bukan sekadar persoalan individu.
“Data yang ada menunjukkan pelaku kriminal seperti begal banyak berasal dari usia yang seharusnya produktif. Ini bukan sekadar persoalan moral individu, melainkan cermin dari ketimpangan ekonomi yang perlu diselesaikan dari akarnya,” ujarnya.
Yudi menjelaskan, Muhammadiyah menawarkan empat pilar utama untuk membangun ketahanan masyarakat menghadapi tekanan ekonomi, yaitu akidah yang kuat, penguasaan ilmu, amal usaha produktif, dan kepedulian sosial.
Menurutnya, keimanan menjadi benteng utama agar seseorang tetap berada di jalan yang benar meskipun menghadapi kesulitan ekonomi.
“Ironisnya, hanya sebagian kecil umat Islam Indonesia yang konsisten menjalankan salat lima waktu. Ini menunjukkan adanya krisis spiritual yang ikut melemahkan pengendalian diri,” katanya.
Selain penguatan spiritual, Yudi menilai literasi keuangan syariah menjadi bekal penting bagi keluarga dalam menghadapi tekanan ekonomi. Ia menyarankan pengelolaan keuangan dilakukan secara proporsional, mulai dari alokasi kebutuhan pokok, pembayaran kewajiban, investasi, hingga kebutuhan rekreasi.
“Pengelolaan keuangan yang sadar dan terukur akan mencegah defisit kronis yang kerap memicu konflik dalam keluarga maupun masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, pelatihan literasi keuangan syariah saat ini terus dikembangkan di berbagai majelis taklim dan lingkungan Muhammadiyah sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat.
Yudi juga menekankan pentingnya penguatan ekonomi berbasis komunitas melalui amal usaha produktif, seperti Baitul Maal wat Tamwil (BMT), yang dinilai mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat dan mengurangi ketergantungan terhadap bantuan pemerintah.
Selain itu, ia mendorong regulasi koperasi yang lebih berorientasi pada pemberdayaan anggota.
“Pemerintah semestinya berperan sebagai regulator, bukan pelaku industri langsung, agar ekonomi umat dapat tumbuh mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam menghadapi tekanan ekonomi, Yudi mengajak masyarakat memperkuat empat nilai ruhiyah, yakni tawakal, qanaah (merasa cukup), sabar, dan syukur. Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi ketahanan mental sekaligus mendorong seseorang tetap optimistis menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Ia juga menegaskan pentingnya solidaritas sosial sebagai langkah preventif untuk mengurangi dampak kemiskinan yang berpotensi memicu tindak kriminal.
“Kepedulian terhadap tetangga yang kesulitan harus menjadi prioritas bersama. Semangat taawun dan amal jariah dalam Islam mendorong kerja sama dalam kebaikan, bukan sikap individualis,” katanya.
Yudi menyimpulkan bahwa tekanan ekonomi bukanlah akhir dari segalanya. Menurutnya, tantangan tersebut dapat dihadapi melalui penguatan keimanan, peningkatan ilmu pengetahuan, pengembangan usaha produktif, serta solidaritas sosial yang kuat.
Ia menilai pendekatan preventif melalui pendidikan agama dan literasi keuangan merupakan solusi jangka panjang untuk menekan angka kriminalitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (FA)
