BOYOLALI, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat komitmennya dalam mendorong pembangunan desa berbasis potensi lokal melalui kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Boyolali. Sinergi tersebut diwujudkan melalui audiensi Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026 yang digelar di Aula Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Boyolali, Jumat (7/8/2026).
Audiensi menjadi langkah strategis untuk menyinergikan program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan mahasiswa UMS dengan agenda pembangunan daerah. Kolaborasi ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi desa sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat secara berkelanjutan.
Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta-Inovasi (DKPTI) UMS, Ir. Ahmad Kholid Alghofari, S.T., M.T., mengungkapkan, pada 2026 UMS berhasil meloloskan lima tim PPK Ormawa yang memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Capaian tersebut menempatkan UMS sebagai salah satu perguruan tinggi dengan jumlah proposal PPK Ormawa didanai terbanyak di tingkat nasional.
Menurut Ahmad Kholid, PPK Ormawa menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu sekaligus mengasah kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan memecahkan persoalan masyarakat.
“Mahasiswa tidak hanya belajar di kampus, tetapi juga belajar langsung bersama masyarakat. Mereka mengimplementasikan ilmu yang dimiliki sekaligus mengembangkan kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan menyelesaikan persoalan di lapangan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, setiap tim mengembangkan program pemberdayaan sesuai potensi desa mitra.
Tim Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), misalnya, menghadirkan program Musuk Ibupreneur Village di Desa Musuk. Program ini mendorong ibu rumah tangga menjadi pelaku usaha melalui inovasi produk olahan alpukat dan susu berbasis agroindustri kreatif. Kegiatan yang dilakukan meliputi pelatihan produksi, penguatan BUMDes, manajemen keuangan, pemasaran digital, legalitas usaha, branding produk, hingga perluasan jaringan pemasaran.
Sementara itu, IMM Fakultas Psikologi mengembangkan program Catur CERDAS di Desa Catur. Program tersebut mengusung lima pilar pemberdayaan, yakni Pojok Tani, Pojok Ceria, Pojok UMKM Go Digital, Pojok Harmoni, dan Pojok Budaya. Fokusnya mencakup penguatan sektor pertanian, literasi masyarakat, digitalisasi UMKM, kesehatan mental, pemberdayaan generasi muda, hingga pelestarian budaya lokal.
Adapun Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Informatika (HMP PTI) menghadirkan inovasi Seboto Smart Farming di Desa Seboto. Program ini memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk memantau budidaya bibit kopi secara digital sekaligus mendampingi petani dalam menerapkan sistem pertanian berbasis data yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Ahmad Kholid menegaskan, keberhasilan program tidak dapat dicapai tanpa dukungan berbagai pihak. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, dan organisasi lokal menjadi kunci agar program pemberdayaan mampu memberikan dampak jangka panjang.
Ia juga menyinggung keberhasilan PPK Ormawa UMS di Desa Jembungan, Boyolali, pada tahun sebelumnya. Desa tersebut berhasil meraih predikat Desa Mitra Terbaik dalam ajang Abdidaya Ormawa, menjadi bukti bahwa kolaborasi kampus dan pemerintah daerah mampu menghasilkan perubahan nyata bagi masyarakat.
Kepala Bapperida Kabupaten Boyolali, Drs. Khusnul Hadi, M.M., menyambut positif kerja sama tersebut. Menurutnya, program PPK Ormawa perlu diselaraskan dengan arah pembangunan daerah agar mampu mengangkat potensi lokal sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi merupakan bentuk nyata pembangunan berbasis inovasi yang membutuhkan dukungan berbagai pihak agar manfaatnya semakin luas,” katanya.
Kasubdit Talenta, Inovasi, dan Prestasi DKPTI UMS, Muhammad Al Fatih Hendrawan, S.T., M.T., menjelaskan bahwa pelaksanaan PPK Ormawa berlangsung selama empat bulan, mulai Juli hingga Oktober 2026. Selama periode tersebut, setiap tim mendapatkan pendampingan intensif dari dosen, pemerintah daerah, pemerintah desa, hingga tokoh masyarakat untuk memastikan seluruh indikator keberhasilan program dapat tercapai.
“Program ini tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi menjadi syarat utama keberhasilan sehingga dukungan pemerintah kabupaten, pemerintah desa, dan seluruh mitra menjadi sangat penting,” ujarnya.
Melalui sinergi tersebut, UMS dan Pemerintah Kabupaten Boyolali berharap program-program PPK Ormawa tidak hanya memberikan pengalaman belajar bagi mahasiswa, tetapi juga menghadirkan inovasi yang mampu memperkuat ekonomi desa, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta mempercepat pembangunan daerah berbasis potensi lokal. (*)

