SOLO, MENARA62.COM – Sebanyak 42 dietisien baru Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id resmi mengucapkan sumpah profesi. Mereka dituntut tidak hanya menguasai ilmu gizi, tetapi juga mampu menjawab tantangan masalah gizi yang semakin kompleks di tengah masyarakat.
Sumpah profesi Program Studi Pendidikan Profesi Dietisien Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UMS Angkatan II tersebut berlangsung di The Royal Heritage Solo, Selasa (6/10/2026).
Puluhan lulusan itu sebelumnya telah menyelesaikan seluruh rotasi mata kuliah sebanyak 38 SKS, meliputi praktik gizi klinik, gizi masyarakat, dan gizi institusi. Mereka juga dinyatakan lulus Objective Structured Clinical Examination (OSCE).
Tak hanya itu, seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Dietisien Angkatan II UMS berhasil lulus OSCE dan Uji Kompetensi Nasional (UKOMNAS) berbasis Computer Based Test (CBT). Tingkat kelulusan keduanya mencapai 100 persen.
Berdasarkan rekapitulasi nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), OSCE, dan Try Out Internal Uji Kompetensi Profesi Dietisien, tiga lulusan dengan capaian terbaik juga ditetapkan.
Posisi terbaik pertama diraih Afiya Hasna Nabila, S.Gz., Dietisien, disusul Fila Rachmad Ramadan, S.Gz., Dietisien sebagai terbaik kedua dan Nabila Aliya Putri, S.Gz., Dietisien sebagai terbaik ketiga.
Kepala Program Studi Pendidikan Profesi Dietisien FIK UMS Dr. Dwi Sarbini, SST., M.Kes., mengatakan capaian tersebut bukan semata-mata menunjukkan keberhasilan akademik.
Menurut dia, prestasi tersebut sekaligus mencerminkan kesungguhan mahasiswa dalam membangun kompetensi profesional sebagai dietisien.
“Prestasi ini tidak hanya mencerminkan capaian akademik, tetapi juga menunjukkan kesungguhan mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi profesional sebagai calon Dietisien,” kata Dwi.
Ia berharap para lulusan tidak berhenti setelah memperoleh gelar profesi. Mereka didorong untuk terus meningkatkan kompetensi, menjunjung profesionalisme, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
UMS Raih Akreditasi Unggul
Dwi juga menyampaikan sejumlah capaian Program Studi Pendidikan Profesi Dietisien FIK UMS pada 2026.
Program studi tersebut memperoleh akreditasi Unggul dari LAM-PTKes yang berlaku selama lima tahun hingga 27 Maret 2031.
Selain akreditasi nasional, Program Studi Pendidikan Profesi Dietisien FIK UMS juga mengantongi akreditasi internasional selama lima tahun hingga 30 September 2031 dari Accreditation Agency for Study Programs in Health and Social Sciences (AHPGS) Jerman.
Menurut Dwi, capaian tersebut menjadi pengakuan terhadap komitmen program studi dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan, pembelajaran, praktik profesi, serta penyelenggaraan pendidikan dietisien sesuai standar nasional dan internasional.
Dietisien Diminta Jadi Agen Perubahan
Wakil Ketua DPD PERSAGI Jawa Tengah Florentinus Nurtitus, S.SiT., M.Gz., RD., mengingatkan para dietisien baru bahwa tantangan yang dihadapi profesi mereka tidak semakin ringan.
Salah satu persoalan yang masih menjadi perhatian adalah beban ganda masalah gizi atau double burden of malnutrition. Persoalan tersebut mencakup stunting, obesitas, hingga meningkatnya penyakit tidak menular yang berkaitan dengan pola konsumsi dan diet masyarakat.
Menurut Florentinus, masalah gizi tidak berdiri sendiri. Persoalan tersebut merupakan hasil interaksi berbagai faktor, mulai dari kondisi individu hingga aspek sosial, ekonomi, budaya, dan perkembangan masyarakat.
Karena itu, dietisien dituntut mampu melihat persoalan secara komprehensif sekaligus memberikan intervensi berbasis ilmu pengetahuan dan bukti ilmiah.
“Maka teman-teman semuanya, sebagai dietitian, saudara adalah agen perubahan. Saya berharap rekan-rekan semua tidak berhenti belajar, terus tingkatkan kompetensi, lifelong learning,” ujarnya.
Ia juga meminta para lulusan adaptif terhadap perkembangan teknologi kesehatan. Kolaborasi dengan dokter, perawat, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya juga dinilai penting dalam memberikan pelayanan yang optimal.
Di atas semuanya, Florentinus mengingatkan agar para dietisien menjunjung tinggi etika, profesionalisme, dan keselamatan pasien.
“Janji kepada masyarakat bahwa dalam menjalankan tugas pelayanan gizi dan dietetik, saudara akan selalu mengedepankan etika, profesionalisme, serta keselamatan pasien di atas segalanya,” katanya.
Rektor UMS: Jangan Jadi Follower
Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., juga berpesan agar para lulusan tidak melupakan peran dan pengorbanan orang tua yang mendukung perjalanan pendidikan mereka.
Ia menilai keberhasilan para lulusan tidak terlepas dari doa, usaha, dan dukungan keluarga.
Di sisi lain, Harun menekankan pentingnya kualitas pelayanan karena dietisien berhadapan langsung dengan masyarakat.
“Karena usaha di sektor food, di sektor minuman itu berhubungan langsung dengan masyarakat, saya kira tanpa disurvei yang menentukan apa? Services. Jadi pelayanan menjadi penting, di dalam pelayanan itu ada kata-kata yang sopan, ada kata-kata yang baik,” tuturnya.
Harun juga mendorong para dietisien baru berani mengambil peran dan tidak sekadar menjadi pengikut.
“Selamat dan sukses, mudah-mudahan Anda berani mengambil peran itu, jangan menunggu, jangan menjadi follower, tapi jadilah khotwah. Jadilah pelopor sebagai nama besar dan visi UMS sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ipteks yang islami, mencerahkan, unggul, mendunia, dan sebagai penggerak arah perubahan,” pesannya.
Sumpah Profesi Jadi Awal Tanggung Jawab
Perwakilan dietisien baru, Fila Rachmad Ramadhan, mengatakan sumpah profesi bukan sekadar seremoni penutup pendidikan. Baginya, sumpah tersebut justru menjadi awal tanggung jawab baru sebagai tenaga profesional.
“Di tempat ini, kami tidak hanya berdiri sebagai mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan profesi. Mulai hari ini, kami membawa sebuah identitas, tanggung jawab, amanah sebagai seorang dietitian,” ujarnya.
Menurut Fila, profesi dietisien bukan sekadar persoalan memperoleh gelar. Di balik profesi tersebut terdapat kepercayaan masyarakat yang harus dijaga.
“Menjadi seorang dietitian bukanlah sekadar memperoleh sebuah gelar atau menyelesaikan pendidikan. Di balik profesi ini, terdapat manusia yang mempercayakan kondisi kesehatannya kepada kami,” katanya.
Para dietisien, lanjut dia, akan berhadapan dengan masyarakat dalam berbagai kondisi. Mulai pasien yang menjalani pemulihan, ibu hamil, anak yang membutuhkan dukungan tumbuh kembang, hingga keluarga yang membutuhkan edukasi mengenai makanan dan kesehatan.
Karena itu, sumpah profesi menjadi pengingat agar para lulusan terus belajar, menjaga etika, memberikan pelayanan berdasarkan bukti ilmiah, menghargai kebutuhan setiap pasien, serta menempatkan kepentingan dan keselamatan pasien sebagai prioritas.
Pesan serupa disampaikan Drs. Mudji Lasmono, ayahanda Fila. Ia berharap ilmu yang diperoleh para lulusan tidak berhenti menjadi pencapaian pribadi, tetapi memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Karena itu, pesan kami kepada kalian sederhana: Jadilah dietitian yang berguna bagi masyarakat. Gunakan ilmu yang telah kalian dapat untuk memberikan manfaat. Jangan hanya bertanya, apa yang akan saya dapatkan dari profesi ini?, tetapi sesekali tanyakan pada diri sendiri, apa yang bisa saya berikan melalui profesi ini,” pesannya.
Ia menyadari para dietisien tidak mungkin membantu seluruh masyarakat. Namun, setiap orang yang berada di hadapan mereka dapat dilayani dengan sebaik-baiknya.
“Mungkin kalian tidak dapat membantu semua orang, tetapi bantulah orang yang ada di hadapan kalian dengan sebaik-baiknya,” ujarnya. (*)
