SUKOHARJO, MENARA62.COM — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Dyah Nur’aini, mantan Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah periode 2010–2015 dan 2015–2022. Haedar mengenang almarhumah sebagai sosok kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang gigih serta berdedikasi dalam menjalankan amanah organisasi.
Haedar menyampaikan pernyataan tersebut saat melepas jenazah Dyah Nur’aini di Kartasura, Ahad (23/8/2026). Dyah wafat pada Sabtu (22/8/2026) dalam usia 69 tahun.
Menurut Haedar, kepergian Dyah menjadi kehilangan bagi keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Namun, duka tersebut harus diterima dengan keikhlasan, kesabaran, dan ketawakalan kepada ketetapan Allah SWT.
“Tentu kami sangat kehilangan. Tetapi, betapapun duka dan kehilangan, Allah telah menggariskan nazar beliau, Ibu Dyah, untuk menghadap ke hadirat-Nya sesuai dengan ketetapan-Nya,” ujar Haedar.
Ia mengingatkan bahwa ketika ajal telah tiba, tidak seorang pun dapat mencegah, mempercepat, maupun menundanya. Menurut Haedar, kondisi sakit maupun tidak sakit hanyalah wasilah dalam ketetapan Allah SWT.
Haedar kemudian mengutip firman Allah SWT dalam QS Yunus ayat 49 yang menegaskan bahwa apabila ajal telah datang, manusia tidak dapat meminta penundaan ataupun percepatan walau sesaat.
Kenang Dedikasi Dyah Nur’aini
Haedar mengatakan, wafatnya Dyah Nur’aini hendaknya menjadi momentum bagi keluarga besar Muhammadiyah untuk memberikan kesaksian atas perjalanan pengabdian almarhumah.
“Kami dari keluarga besar Muhammadiyah memberikan kesaksian bahwa Mbak Dyah adalah sosok ‘Aisyiyah dan kader Muhammadiyah. Perjalanan hidupnya adalah upaya untuk menjadi hamba Allah sekaligus khalifatullah melalui Persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah,” katanya.
Menurut Haedar, kegigihan Dyah selama berkhidmat di Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah merupakan keteladanan yang akan terus dikenang. Ia berharap seluruh perjuangan dan pengabdian almarhumah menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
“Beliau bisa menjadi contoh kegigihan dan khidmat. Semoga seluruh pengabdian beliau menjadi amal jariyah yang tidak pernah putus di akhirat,” ujarnya.
Haedar juga memiliki kenangan panjang bersama Dyah Nur’aini. Ia mengenal almarhumah sejak periode 1979–1982 ketika Haedar aktif di IPM Wilayah DIY, sedangkan Dyah berkiprah di Tapak Suci.
Dari perjalanan tersebut, Haedar menyaksikan langsung kegigihan Dyah dalam menjalankan amanah organisasi. Kiprah itu kemudian berlanjut ketika Dyah dipercaya menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul ‘Aisyiyah periode 1995–2000.
Setelah itu, Dyah melanjutkan pengabdiannya di PP ‘Aisyiyah sebagai Sekretaris Umum selama dua periode, 2010–2015 dan 2015–2022.
“Betapa perjuangan dan kepintaran beliau dalam mengurus ‘Aisyiyah, hingga ke Solo, tidak pernah lelah,” tutur Haedar.
Ketulusan dan Kegigihan Jadi Kunci Khidmat
Bagi Haedar, perjalanan Dyah Nur’aini menunjukkan bahwa ketulusan dan kegigihan menjadi kunci penting dalam menjalankan amanah dan khidmat di Persyarikatan.
Ia menekankan, pengabdian tidak semata-mata dilakukan untuk menjalankan tugas organisasi, tetapi harus diarahkan sebagai ikhtiar untuk memperoleh rida Allah SWT.
“Bahwa kunci khidmat adalah ketulusan dan kegigihan, serta ikhtiar kita yang lebih hakiki berdasarkan ridha Allah,” katanya.
Haedar kemudian mengajak keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang hadir untuk mengantarkan almarhumah dengan doa dan keikhlasan.
“Ketika kita mendengar kabar duka ini, kita sedih. Insyaallah kita berada di tempat ini untuk menghantarkan beliau ke pemakaman dengan doa. Insyaallah Mbak Dyah husnul khatimah dan menjadi ahlul jannah. Kita bersama-sama berdoa untuk melepas kepergian Mbak Dyah,” pungkas Haedar. (N/*)

