KUBU RAYA, MENARA62.COM — Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat melalui MDMC Kalimantan Barat merespons kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Respons dilakukan melalui patroli, pemantauan kondisi lapangan, assessment, hingga pemadaman untuk mencegah api meluas dan mengancam keselamatan masyarakat.
Berdasarkan siaran pers MDMC, Jumat (21/8/2026), sejumlah titik karhutla yang menjadi perhatian tim berada di Parit Seruat, kawasan SMA 4 Sungai Raya, belakang Perumahan Taman Bumi Serdam, TPA Rasau Jaya, serta sekitar Kantor DKPP Kubu Raya.
Kebakaran tercatat terjadi pada 14–22 Juli, 25–30 Juli, serta 4–6 Agustus 2026.
Meski kebakaran melanda sejumlah kawasan, MDMC menyebut tidak terdapat laporan korban meninggal dunia, luka-luka, maupun hilang. Dampak yang tercatat berupa terbakarnya hutan dan semak belukar.
Sementara itu, tidak ada Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang dilaporkan terdampak karhutla.
MDMC Pantau Titik Api Dekat Permukiman
MDMC Kalimantan Barat telah melakukan respons sejak awal Juli 2026 dan terus memantau sejumlah titik yang berpotensi mengalami perluasan kebakaran.
Pengecekan dan pemadaman terutama dilakukan pada titik api yang berada di sekitar permukiman dan fasilitas pendidikan di Kecamatan Sungai Raya.
Dalam penanganannya, MDMC berkoordinasi dengan berbagai pihak, di antaranya BPBD Kabupaten Kubu Raya, BPBD Kalimantan Barat, TNI/Polri, Manggala Agni, serta relawan pemadam kebakaran setempat.
Respons lapangan melibatkan SAR Muhammadiyah LRB-MDMC Kalimantan Barat, Tim Assessment MDMC Kalimantan Barat, dan kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Pontianak.
Selain melakukan pemadaman, tim juga melakukan assessment untuk mengetahui kondisi serta kebutuhan masyarakat dan tim di wilayah terdampak.
Kebutuhan Pemadaman Masih Diperlukan
Dalam mendukung respons karhutla, MDMC mencatat sejumlah kebutuhan yang masih diperlukan di lapangan.
Kebutuhan tersebut meliputi masker bagi warga, konsumsi tim pemadam, vitamin, kebutuhan relawan, bahan bakar minyak (BBM) untuk mesin pemadam dan kendaraan operasional, serta peralatan pendukung tim media.
MDMC juga membutuhkan kendaraan operasional dan mesin pemadam berkapasitas besar beserta perlengkapannya untuk memperkuat penanganan di lapangan.
Keterbatasan sarana menjadi salah satu tantangan yang dihadapi relawan. Kendaraan operasional yang terbatas membuat mobilitas tim menuju titik api belum optimal.
Selain itu, kapasitas alat pemadam juga menjadi kendala dalam menangani kebakaran di sejumlah lokasi.
MDMC mencatat belum tersedianya kamera drone untuk membantu mengidentifikasi titik api secara lebih cepat dan akurat. Keterbatasan alat pelindung diri (APD) bagi relawan juga masih menjadi perhatian.
Koordinasi Penanganan Terus Diperkuat
MDMC Kalimantan Barat memastikan pemantauan dan penanganan karhutla terus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur.
Koordinasi lintas lembaga tersebut menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran meluas, sekaligus mengurangi risiko terhadap keselamatan masyarakat dan kerusakan lingkungan.
MDMC juga mengajak seluruh unsur terkait untuk terus memperkuat kesiapsiagaan dan respons terhadap potensi karhutla, terutama di wilayah yang memiliki titik api berdekatan dengan permukiman dan fasilitas publik.
Dengan pemantauan berkelanjutan, penanganan diharapkan dapat dilakukan lebih cepat sehingga potensi meluasnya kebakaran dapat ditekan. (*)

