SOLO, MENARA62.COM — Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) Kwartir Daerah (Kwarda) Kota Surakarta menggelar Pelatihan Jaya Melati 1 Tahun 2026 sebagai upaya memperkuat kaderisasi dan mencetak pelatih kepanduan yang berkarakter Islami serta profesional.
Kegiatan bertema “Mencetak Pelatih Berkarakter Islami dan Profesional untuk Mewujudkan Generasi Pandu yang Kreatif, Inovatif, dan Berkemajuan” itu diikuti 77 peserta dari tingkat Atfal, Pengenal, dan Penghela.
Pelatihan dilaksanakan dalam dua sesi. Sesi pertama berlangsung pada Sabtu-Ahad (22-23/8/2026) di Aula Balai Muhammadiyah Kota Surakarta. Sementara sesi kedua dijadwalkan Jumat-Ahad (11-13/9/2026) di Kampoeng Karet, Karanganyar.
Pembukaan pelatihan dihadiri perwakilan PDM Kota Surakarta Ramanda H Ahmad Sukidi, Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PDM Kota Surakarta Dr. Suyanto, serta ketua atau perwakilan organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah tingkat daerah, seperti Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).
Pandu senior HW Ramanda HMA Dimyati juga hadir memberikan motivasi kepada para peserta.
Ketua Kwarda HW Kota Surakarta, Ramanda Parimin T P, mengatakan Jaya Melati 1 menjadi bagian penting dalam menyiapkan pelatih yang mampu mengembangkan kegiatan kepanduan di masing-masing kabilah.
“Harapannya, dalam pelatihan Jaya Melati ini para pelatih benar-benar bisa menjadi pelatih di kabilah masing-masing yang kreatif, inovatif, dan berkemajuan,” ujarnya.
Menurut Parimin, sesi pertama difokuskan pada penguatan materi di Balai Muhammadiyah. Selanjutnya, peserta akan mengikuti kegiatan perkemahan selama tiga hari di Kampoeng Karet Karanganyar untuk memperdalam berbagai materi kepanduan HW melalui pembelajaran di lapangan.
“Insyaallah tiga hari berkemah di sana untuk memperdalam materi-materi yang ada di luar dalam Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan,” katanya.
Ia berharap pelatihan tersebut memberikan dampak positif terhadap perkembangan HW di Kota Surakarta, terutama dalam penguatan kabilah dan regenerasi pelatih.
PDM: Jadikan Pelatihan sebagai Ajang Pembentukan Pemimpin
Perwakilan PDM Kota Surakarta, Ramanda H Ahmad Sukidi, mengapresiasi pelaksanaan Jaya Melati 1 yang dinilai menjadi bagian penting dari proses perkaderan di lingkungan HW dan Muhammadiyah.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan langkah positif untuk memperkuat pembinaan kader sekaligus menyiapkan calon pemimpin masa depan.
“PDM Kota Surakarta mengapresiasi Ortom HW yang telah melaksanakan pelatihan Jaya Melati 1. Ini merupakan salah satu pengaderan yang ada di HW,” kata Sukidi.
Ia berpesan kepada seluruh peserta agar mengikuti pelatihan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.
“Jadikan tempat ini sebagai ajang melatih diri menjadi calon-calon pemimpin yang handal dan hebat untuk masa depan,” ujarnya.
Sukidi juga menyampaikan apresiasi kepada Kwarda HW Kota Surakarta beserta panitia yang telah mempersiapkan kegiatan tersebut.
Ia menilai keterlibatan sekolah dan unsur Muhammadiyah dalam kegiatan kaderisasi semacam ini perlu terus diperkuat agar pembinaan generasi muda berjalan berkesinambungan.
Pandu Senior Ingatkan Keteladanan Jenderal Sudirman
Sementara itu, Pandu Senior HW, Ramanda HMA Dimyati, mengingatkan bahwa semangat kepanduan HW memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Muhammadiyah dan bangsa Indonesia.
Ia menyebut HW lahir pada 1918 dan hingga kini semangat kepanduannya tetap relevan dalam membentuk karakter generasi muda.
Dimyati juga mengangkat keteladanan Jenderal Sudirman sebagai salah satu tokoh yang memiliki kedekatan kuat dengan nilai-nilai kepanduan.
Menurut dia, semangat Jenderal Sudirman dalam memimpin perjuangan gerilya selama berbulan-bulan, meski dalam kondisi sakit, menjadi contoh penting tentang keteguhan, keberanian, dan pengabdian.
“Yang memberikan semangat dan menjiwai adalah Undang-Undang Pandu Hizbul Wathan,” ujar Dimyati.
Ia berharap nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai materi atau hafalan dalam kegiatan kepanduan, tetapi benar-benar menjiwai perilaku para peserta.
Dimyati juga menyinggung perjalanan HW di Solo. Ia mengatakan deklarasi Kepanduan Hizbul Wathan di Solo berlangsung pada 20 Oktober 2002. Pada momentum tersebut, dirinya dilantik sebagai Ketua Kwarda HW Solo yang pertama.
Kini, semangat tersebut terus dilanjutkan melalui proses kaderisasi, salah satunya Jaya Melati 1.
Pelatihan ini diharapkan mampu melahirkan pelatih HW yang tidak hanya menguasai keterampilan kepanduan, tetapi juga memiliki karakter Islami, kemampuan kepemimpinan, kreativitas, dan profesionalisme untuk membina generasi pandu di masing-masing kabilah. (*)
