JAKARTA, MENARA62.COM – Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) melalui program SUMU Catalyst bersama Center for Quality, Resilience and Sustainability (CQRS) Indonesia membahas strategi membangun bisnis yang tangguh menghadapi krisis dan ketidakpastian.
Pembahasan tersebut mengemuka dalam webinar bertajuk “Situasi Boleh Krisis, Tapi Bisnis Harus Mampu Bertahan”, Senin (24/8/2026). Webinar menghadirkan Founder CQRS Indonesia, Yuliasman Chaniago, sebagai narasumber.
Yuliasman yang juga merupakan pendiri sejumlah perusahaan dan platform bisnis tersebut mengupas strategi dan implementasi Sistem Manajemen Kelangsungan Usaha (SMKU) atau Business Continuity Management (BCM).
Menurut Yuliasman, pelaku usaha perlu memahami bahwa manajemen risiko dan business continuity management merupakan dua konsep berbeda, meski saling berkaitan.
Manajemen risiko berfokus pada upaya mencegah dan mengendalikan potensi gangguan. Sementara itu, BCM memastikan fungsi bisnis prioritas tetap dapat berjalan ketika gangguan benar-benar terjadi.
“Ketahanan bisnis bukan sekadar memiliki prosedur ketika krisis terjadi, tetapi membangun kapabilitas agar organisasi mampu tetap beroperasi ketika kondisi normal terganggu,” ujarnya.
Krisis Tak Selalu Bisa Dicegah
Yuliasman menjelaskan, organisasi modern menghadapi berbagai jenis gangguan yang mungkin memiliki probabilitas relatif rendah, tetapi berpotensi menimbulkan dampak sangat besar.
Karena itu, perusahaan perlu memiliki mekanisme kelangsungan usaha yang bukan sekadar tersimpan dalam dokumen. Sistem tersebut harus diuji dan terintegrasi dengan proses pengambilan keputusan bisnis.
Salah satu faktor penting dalam menghadapi krisis adalah kecepatan respons. Dalam kondisi darurat, organisasi tidak selalu membutuhkan keputusan yang sempurna, melainkan keputusan yang cukup cepat untuk mencegah gangguan berkembang semakin luas.
Materi webinar menekankan bahwa respons yang memadai dalam waktu 30 menit dapat lebih bernilai dibandingkan respons sempurna yang baru dilakukan beberapa jam kemudian.
BCM Bukan Sekadar Urusan IT
Webinar juga menyoroti pentingnya pembagian peran dan akuntabilitas dalam membangun ketahanan organisasi.
Dalam model yang dipaparkan, unit bisnis menjadi pemilik risiko sekaligus kelangsungan operasional. Sementara fungsi SMKU korporat bertugas menyediakan standar dan metodologi, sedangkan audit internal memberikan jaminan secara independen.
Untuk organisasi yang memiliki struktur kompleks, pendekatan model hibrida dinilai dapat menjadi pilihan. Standar dan perangkat disediakan secara terpusat, sementara pelaksanaan dan rencana kelangsungan usaha tetap menjadi tanggung jawab unit bisnis.
Pendekatan tersebut penting karena gangguan bisnis tidak selalu bermula dari persoalan teknologi. Gangguan dapat berdampak pada fungsi kritis, proses operasional, teknologi dan data, hingga rantai pasok serta vendor.
BIA Jadi Dasar Menentukan Prioritas
Peserta webinar juga mendapatkan pemahaman mengenai Business Impact Analysis (BIA) untuk mengidentifikasi fungsi dan proses bisnis kritis, termasuk ketergantungannya terhadap teknologi, data, maupun pihak ketiga.
Salah satu indikator penting dalam BCM adalah Recovery Time Objective (RTO). Menurut materi yang disampaikan, RTO bukan sekadar angka teknis, tetapi merupakan keputusan manajemen mengenai batas waktu pemulihan suatu fungsi berdasarkan tingkat kerugian yang masih dapat ditoleransi.
Peserta juga diajak memahami perbedaan antara tanggap darurat, manajemen krisis, manajemen kelangsungan usaha, dan pemulihan bencana IT.
Keempat aspek tersebut memiliki fokus berbeda, tetapi perlu diintegrasikan agar organisasi mampu merespons gangguan secara menyeluruh.
SUMU Dorong Pengusaha Lebih Resilien
Melalui SUMU Catalyst, SUMU terus menghadirkan ruang pembelajaran dan penguatan kapasitas bagi pelaku usaha Muhammadiyah.
Webinar tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pengusaha tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga membangun kesiapan menghadapi risiko, gangguan operasional, serta berbagai kondisi krisis.
Ketahanan bisnis, dalam materi webinar, tidak cukup dibangun melalui dokumen atau keberadaan seorang manajer khusus. Resiliensi harus menjadi kemampuan yang melekat dalam seluruh organisasi.
Kapabilitas menghadapi krisis perlu diinstitusionalisasikan hingga menjadi bagian dari DNA organisasi.
Melalui SUMU Catalyst, SUMU berkomitmen memperluas akses pelaku usaha Muhammadiyah terhadap pengetahuan, jejaring, dan praktik bisnis yang mendukung pertumbuhan sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi ketidakpastian di masa depan. (*)

