33.5 C
Jakarta

ATLAS UMS Perkuat Desa Ngaglik Tangguh Longsor

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Association of Technology and Science Research (ATLAS) Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mendorong penguatan Desa Ngaglik, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, sebagai desa konservasi sekaligus tangguh bencana.

 

Upaya tersebut dilakukan melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “Penguatan Desa Konservasi dan Tangguh Bencana melalui Edukasi dan Partisipasi Masyarakat dalam Peningkatan Kesadaran Mitigasi Tanah Longsor di Desa Ngaglik”, Senin (24/8/2026).

 

Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi tanah longsor. Pelaksanaannya melibatkan Pemerintah Desa Ngaglik dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali.

 

Sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari perangkat desa, kepala dusun, sekretaris desa, bidan dan tenaga kesehatan desa, Linmas, Karang Taruna, unsur pemuda dan Banser, hingga perwakilan ketua RT dan RW.

 

Ketua Pelaksana Penelitian atau Pengabdian Ormawa (PPO) UKM ATLAS Fakultas Geografi UMS, Nizzamil Fikriyatus Syifa, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk penerapan ilmu geografi sekaligus kontribusi mahasiswa dalam meningkatkan kapasitas masyarakat.

 

“Kami ingin kegiatan ini tidak hanya menjadi sosialisasi satu kali, tetapi dapat memberikan pengetahuan yang benar-benar bisa diterapkan masyarakat. Melalui edukasi, diskusi, dan simulasi, kami berharap masyarakat Desa Ngaglik semakin memahami potensi tanah longsor serta mengetahui langkah yang tepat untuk menghadapinya,” jelas Nizzamil, Rabu (26/8/2026).

 

Kenali Risiko Longsor dari Lingkungan Sekitar

 

Kegiatan tidak hanya berisi penyampaian materi mengenai tanah longsor. Masyarakat juga diajak mengenali potensi risiko bencana yang berada di lingkungan sekitar.

 

Peserta mendapatkan edukasi mengenai karakteristik tanah longsor, mitigasi, kesiapsiagaan, serta langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.

 

Pendekatan partisipatif diterapkan agar masyarakat tidak sekadar menerima informasi, tetapi turut terlibat dalam membangun sistem kesiapsiagaan di tingkat desa.

 

Nizzamil menilai keterlibatan berbagai unsur masyarakat menjadi kekuatan penting dalam membangun desa tangguh bencana. Setiap unsur memiliki peran masing-masing, mulai dari pemerintah desa, tenaga kesehatan, Linmas, Karang Taruna, pemuda, hingga RT dan RW.

 

Salah seorang peserta mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi kebencanaan dengan materi dan simulasi seperti itu sebelumnya belum pernah dilakukan di Desa Ngaglik.

 

“Edukasi seperti ini sebelumnya belum ada di desa kami. Menurut saya kegiatan ini sangat bermanfaat karena kami jadi lebih mengetahui tentang tanah longsor, bagaimana cara mengantisipasinya, dan apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana,” ungkapnya.

 

Konservasi Lingkungan Jadi Bagian Mitigasi

 

Program UKM ATLAS juga mengintegrasikan aspek konservasi lingkungan dengan mitigasi bencana. Masyarakat diberikan pemahaman bahwa menjaga kondisi lingkungan merupakan bagian dari upaya mengurangi risiko tanah longsor.

 

Salah satu perhatian diarahkan pada keberadaan vegetasi di wilayah yang berpotensi mengalami erosi dan longsor. Kesadaran menjaga lingkungan diharapkan berjalan beriringan dengan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

 

Rangkaian program juga mencakup edukasi karakteristik longsor, pemetaan jalur evakuasi secara partisipatif, simulasi evakuasi bersama BPBD, serta edukasi visual melalui media mitigasi.

 

Dengan pendekatan tersebut, konsep desa konservasi dan tangguh bencana tidak hanya menekankan kemampuan masyarakat merespons bencana, tetapi juga membangun kesadaran untuk mencegah dan mengurangi risiko melalui pengelolaan lingkungan.

 

BPBD Bekali Warga Respons Darurat

 

BPBD Kabupaten Boyolali turut memberikan penguatan materi dan pendampingan teknis kebencanaan. Tim BPBD menjelaskan langkah yang perlu dilakukan masyarakat ketika menghadapi kondisi darurat sekaligus mendampingi simulasi evakuasi mandiri.

 

Perwakilan BPBD Kabupaten Boyolali, Dwi Noor Cahya, mengatakan masyarakat memiliki posisi penting dalam penanggulangan bencana. Karena itu, edukasi dan simulasi perlu dilakukan secara berkelanjutan.

 

“Masyarakat merupakan bagian penting dalam penanggulangan bencana. Karena itu, edukasi seperti ini perlu terus dilakukan agar masyarakat mampu mengenali potensi ancaman di lingkungannya dan mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika terjadi bencana,” ujarnya.

 

Menurut Dwi, pengetahuan kebencanaan yang diperoleh masyarakat diharapkan tidak berhenti pada peserta kegiatan, tetapi dapat diteruskan kepada warga lainnya.

 

Desa Dorong Keberlanjutan Program

 

Pemerintah Desa Ngaglik turut mendukung pelaksanaan kegiatan melalui koordinasi dan pelibatan berbagai unsur masyarakat. Kepala Desa Ngaglik, Daryanto, menilai kolaborasi tersebut memberikan tambahan pengetahuan mengenai mitigasi bencana, khususnya potensi tanah longsor.

 

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan mahasiswa Fakultas Geografi UMS di Desa Ngaglik. Edukasi seperti ini memberikan pengetahuan tambahan kepada masyarakat mengenai bagaimana mengenali potensi bencana dan bagaimana mempersiapkan diri,” ungkapnya.

 

Ke depan, kerja sama UKM ATLAS Fakultas Geografi UMS, Pemerintah Desa Ngaglik, BPBD Kabupaten Boyolali, dan masyarakat diharapkan terus berlanjut. Salah satu arah keberlanjutan program adalah penguatan kelompok siaga bencana serta pendampingan yang melibatkan pemerintah desa, BPBD, dan unsur masyarakat.

 

Melalui program tersebut, UKM ATLAS Fakultas Geografi UMS berharap Desa Ngaglik semakin memiliki kapasitas menghadapi potensi tanah longsor sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap konservasi lingkungan.

 

Kolaborasi mahasiswa, pemerintah, BPBD, dan masyarakat menjadi langkah strategis untuk membangun desa yang lebih sadar risiko, peduli lingkungan, dan tangguh menghadapi bencana. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!