JOMBANG, MENARA62.COM — Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ukhuwah dan persaudaraan antarelemen umat Islam dengan menyiapkan 700 personel untuk mengawal sekaligus mendukung kesuksesan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Jombang, Jawa Timur.
Tak hanya melalui pengamanan dan kesiapsiagaan personel, Muhammadiyah juga menghadirkan dukungan nyata bagi para penggembira Muktamar NU. Sebanyak 10.000 porsi bakso dan telur disiapkan di Posko Muhammadiyah Jombang untuk para peserta dan penggembira Muktamar.
Langkah tersebut menjadi simbol nyata persaudaraan antara Muhammadiyah dan NU sekaligus ikhtiar merawat trilogi ukhuwah, yakni ukhuwah Islamiyah, ukhuwah insaniyah, dan ukhuwah wathaniyah.
Dari Jombang, semangat persaudaraan itu diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar bersama agar NU terus berkhidmat untuk Indonesia yang aman, damai, maju, dan berdaulat.
Komandan Kokam, Ashuri, menegaskan bahwa Muhammadiyah dan NU merupakan dua kekuatan besar umat Islam Indonesia yang memiliki sejarah panjang dalam membangun bangsa.
“Muhammadiyah adalah saudara tua NU. Karena itu, Muhammadiyah berdoa dan berharap NU tetap berada di jalan yang lurus dan istiqamah dalam berkhidmat untuk kemaslahatan umat dan bangsa,” ujar Ashuri di Jombang, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, dukungan Kokam terhadap Muktamar NU bukan semata-mata dalam konteks kesiapsiagaan pengamanan, tetapi juga sebagai bentuk persaudaraan kebangsaan. Muhammadiyah ingin memastikan bahwa momentum Muktamar menjadi ruang untuk memperkuat persatuan dan kontribusi umat bagi Indonesia.
Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Dr. Amirsyah Tambunan, berharap Muktamar NU ke-35 dapat melahirkan kepemimpinan jam’iyah yang kompak, energik, dan kuat untuk membawa NU memasuki abad kedua.
“Harapannya, Muktamar NU menghasilkan kepemimpinan jam’iyah yang kompak, energik, dan kuat untuk memasuki NU abad kedua. Kepemimpinan tersebut harus mampu menjaga kedaulatan NU, baik dalam kepemimpinan maupun dalam pengembangan keilmuan,” ujar Buya Amirsyah.
Buya Amirsyah menilai tantangan umat ke depan semakin kompleks, terutama di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI). Perkembangan tersebut, menurutnya, tidak boleh membuat otoritas keilmuan para ulama dan ustaz terpinggirkan.
“Kita memasuki era digital dan AI yang berkembang sangat cepat. Karena itu, NU perlu terus memperkuat tradisi keilmuan dan otoritas para ulama serta ustaz agar perkembangan teknologi tetap berada dalam koridor kemaslahatan umat,” tegasnya.
Ia menambahkan, penguatan ukhuwah antara Muhammadiyah dan NU merupakan modal sosial yang sangat penting bagi masa depan Indonesia. Kedua organisasi Islam terbesar tersebut memiliki tanggung jawab moral untuk terus menghadirkan kesejukan, mencerdaskan umat, serta menjaga persatuan bangsa.
“Semoga dari Jombang lahir semangat baru bahwa NU terus berkhidmat untuk Indonesia yang aman, damai, dan berdaulat. Muhammadiyah dan NU harus terus menjadi kekuatan perekat umat dan bangsa,” pungkas Buya Amirsyah.

