SOLO, MENARA62.COM – Program Studi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ menggelar EXIT 2026: Architecture of Exhibition dengan mengangkat tema “Epilogue, The Journey Shapes Us”. Pameran tugas akhir mahasiswa ini berlangsung 15–17 September 2026 di Hall Auditorium Mohammad Djazman UMS.
Pameran yang terbuka untuk masyarakat secara gratis tersebut tidak sekadar menampilkan desain bangunan. Beragam karya mahasiswa justru berangkat dari persoalan nyata di masyarakat dan lingkungan, kemudian dicari solusinya melalui pendekatan arsitektur.
Ketua Panitia EXIT 2026, Gilang Maulana Ardyawan, mengatakan pameran merupakan bagian dari rangkaian tugas akhir mahasiswa Arsitektur UMS, khususnya mahasiswa yang lulus pada periode pertama.
“Architecture of Exhibition ini salah satu rangkaian dari pameran tugas akhir teman-teman mahasiswa arsitektur, khususnya yang lulus di periode satu ini,” kata Gilang, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, mahasiswa mengerjakan tugas akhir sekitar dua setengah bulan, sedangkan persiapan pameran dilakukan selama satu bulan sebelum pelaksanaan.
Dalam prosesnya, mahasiswa tidak langsung merancang sebuah bangunan. Mereka terlebih dahulu mengidentifikasi persoalan yang terdapat di suatu wilayah, melakukan riset, menyusun konsep, kemudian menerjemahkannya ke dalam rancangan arsitektur.
“Teman-teman itu mulai berangkat dari isu masing-masing, isu kota masing-masing. Ada yang di Temanggung, Jakarta, Bandung, Solo dan sebagainya. Mereka gali isunya, mereka konsep dan buat tugas akhir ini,” ujarnya.
Gilang menambahkan, proses tersebut menunjukkan bahwa arsitektur tidak berdiri sendiri. Perancangan bangunan juga bersinggungan dengan berbagai disiplin ilmu, termasuk psikologi dan kesehatan.
Hingga hari kedua pelaksanaan, EXIT 2026 telah dikunjungi hampir 300 orang. Pengunjung berasal dari mahasiswa UMS, mahasiswa kesehatan, mahasiswa Arsitektur UMS, dosen, masyarakat sekitar kampus, hingga masyarakat umum.
Pamerkan 115 Poster dan 36 Maket
Koordinator Tugas Akhir Program Studi Arsitektur UMS, Fadhilla Tri Nugrahaini, S.T., M.Sc., mengatakan pameran merupakan agenda rutin setelah mahasiswa menyelesaikan ujian tugas akhir dan menjadi sarana publikasi karya sebelum wisuda.
“Penyelenggaraan pameran tahun ini merupakan hal yang rutin kita lakukan setelah mereka ujian, kemudian persiapan wisuda. Kami mewajibkan mereka melaksanakan pameran untuk publikasi karya,” kata Fadhilla.
Pada EXIT 2026, sebanyak 115 poster dan 36 maket karya mahasiswa dipamerkan. Menurut Fadhilla, karya-karya tersebut juga dapat menjadi referensi bagi mahasiswa, terutama mahasiswa baru, untuk memahami standar produk arsitektur sekaligus kompleksitas proses perancangannya.
Ia menjelaskan, sebelum menghasilkan desain, mahasiswa harus memahami persoalan yang terdapat pada site atau lokasi yang menjadi objek kajian. Dari sana, mereka mempertimbangkan fungsi bangunan dan berbagai kebutuhan pengguna agar dapat diakomodasi secara seimbang.
Salah satu pendekatan yang cukup banyak digunakan mahasiswa adalah healing environment, terutama yang berkaitan dengan aspek psikologi.
“Beberapa karya mengangkat desain pusat rehabilitasi serta pusat pengembangan atau penyembuhan mental,” jelasnya.
Selain isu kesehatan dan psikologi, sejumlah karya juga diarahkan pada pemberdayaan masyarakat.
Salah satunya karya mahasiswa bernama Aryan yang merancang pusat edukasi di kawasan Yogyakarta dengan mengangkat persoalan pegunungan karst.
Dalam risetnya, kawasan tersebut diketahui memiliki kondisi gersang dan keterbatasan dalam menyimpan air. Namun, kajian lebih lanjut menunjukkan adanya potensi penyimpanan air di bagian dalam kawasan pegunungan karst.
Potensi tersebut kemudian diterjemahkan dalam rancangan ekosistem yang mengintegrasikan museum dengan aktivitas UMKM masyarakat sekitar.
Arsitektur sebagai Respons atas Masalah
Fadhilla menegaskan, karya tugas akhir yang dipamerkan tidak selalu dimaksudkan untuk langsung dibangun di lokasi yang menjadi objek kajian.
Hal terpenting, kata dia, adalah bagaimana mahasiswa mampu membaca persoalan di lapangan dan menawarkan respons melalui pendekatan arsitektur.
“Paling gampang menjelaskan pameran ini adalah kita punya satu isu di lapangan, kemudian ada masalah-masalah yang ada di masyarakat, kemudian kita berusaha untuk menyelesaikannya dari sisi arsitektural,” ujarnya.
Tema “Epilogue, The Journey Shapes Us” juga merepresentasikan perjalanan mahasiswa selama mengerjakan tugas akhir. Epilog dimaknai sebagai sebuah akhir yang belum benar-benar selesai karena proses tersebut tidak hanya menghasilkan karya, tetapi turut membentuk cara berpikir dan karakter mahasiswa.
Gilang berharap penyelenggaraan EXIT berikutnya dapat dipersiapkan dengan waktu yang lebih panjang serta menggunakan ruang pamer yang lebih luas. Dengan demikian, karya mahasiswa dapat menjangkau masyarakat yang lebih beragam.
Fadhilla juga berharap mahasiswa Arsitektur UMS terus menghasilkan desain yang atraktif sekaligus relevan dengan persoalan yang berkembang di masyarakat.
“Harapan saya ke depan, desain-desain yang dihasilkan oleh mahasiswa arsitektur UMS itu jauh lebih atraktif lagi, kemudian jauh lebih menyelesaikan masalah-masalah, baik itu masalah yang memang dulu-dulu sudah ada maupun masalah-masalah yang terkini,” pungkasnya. (*)

