SOLO, MENARA62.COM – Mengaku mencintai Rasulullah Muhammad SAW tidak cukup hanya melalui ucapan. Kecintaan kepada Nabi perlu diwujudkan dalam perilaku dan kebiasaan sehari-hari, mulai dari menjaga salat, membaca Al-Qur’an, memperbanyak selawat, hingga peduli terhadap sesama.
Pesan tersebut disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, saat menjadi imam sekaligus khatib salat Jumat di Masjid Al-Mustaqim, Jalan MT Haryono No. 50, Mangkubumen, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jumat (18/9/2026).
Dalam khutbahnya, Jatmiko mengingatkan bahwa Rasulullah SAW diutus Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, mencintai Rasulullah tidak semestinya berhenti pada pujian dan selawat, tetapi diwujudkan dengan mengikuti sunah serta menjadikan Nabi sebagai teladan.
“Makna cinta yang sesungguhnya kepada Nabi SAW adalah mengamalkan apa yang diamalkan oleh Rasulullah. Mencintai Nabi SAW adalah ibadah,” kata Jatmiko.
Ia kemudian menyampaikan empat kebiasaan yang dapat menjadi bentuk nyata kecintaan kepada Rasulullah SAW.
1. Salat Tepat Waktu
Menurut Jatmiko, kecintaan kepada Rasulullah dapat dimulai dengan menjaga ketaatan kepada Allah SWT. Salah satunya melalui pelaksanaan salat tepat waktu.
Ketaatan, kata dia, tidak cukup hanya dipahami sebagai pengetahuan agama, tetapi harus diwujudkan melalui pelaksanaan kewajiban sehari-hari.
2. Rutin Membaca Al-Qur’an
Kebiasaan kedua adalah memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an secara rutin diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman keagamaan, tetapi juga mendorong umat mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Jatmiko mengingatkan, Al-Qur’an dan ajaran Rasulullah SAW perlu menjadi pedoman dalam membentuk perilaku seorang Muslim.
3. Memperbanyak Selawat
Selanjutnya, umat dianjurkan memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Jatmiko mengaitkan anjuran tersebut dengan QS Al-Ahzab ayat 56 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk berselawat kepada Nabi.
“Ketiga dengan memperbanyak selawat. Seperti yang tercantum dalam QS Al-Ahzab ayat 56 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk berselawat kepada Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
4. Peduli kepada Sesama
Bentuk kecintaan berikutnya adalah menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Menurut Jatmiko, Rasulullah SAW mengajarkan persamaan, persatuan, saling menghargai, saling menolong, menjaga persaudaraan, perdamaian, serta akhlakul karimah.
Karena itu, kecintaan kepada Nabi seharusnya juga tercermin dalam hubungan sosial dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Guru PAI SD Muhammadiyah 1 Solo tersebut menegaskan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW harus melahirkan perubahan nyata dalam kehidupan. Mengikuti Rasulullah bukan sekadar mengenang sosoknya, tetapi berusaha menghadirkan keteladanannya dalam hubungan dengan Allah maupun sesama manusia.
“Sebab, ukuran cinta bukan hanya apa yang keluar dari lisan. Cinta yang sebenarnya adalah ketika keteladanan Rasulullah mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari, dengan peduli agama, manusia, lingkungan hingga sistem,” urainya.
Ajak Jamaah Perkuat Ketakwaan
Khotbah Jumat dimulai sekitar pukul 11.40 WIB. Pada awal khutbah, Jatmiko mengajak jamaah bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberikan kesempatan untuk menghadiri dan menjalankan ibadah Jumat.
Ia juga mendoakan agar ibadah yang dilakukan mendapat rida Allah SWT serta menjadi jalan bertambahnya keberkahan dalam kesehatan fisik, rohani, dan kehidupan ekonomi.
“Semoga Allah memberikan ridha-Nya terhadap ibadah Jumat yang kita lakukan di siang hari ini, diberikan tambahan berkah sehat fisik, rohani maupun ekonominya,” harapnya.
Selanjutnya, anggota Pimpinan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Solo itu menyampaikan wasiat takwa kepada jamaah. Ia mengajak umat menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi seluruh larangan-Nya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak hanya diwujudkan melalui ungkapan lisan, tetapi melalui ketaatan, ibadah, akhlak, dan kepedulian yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. (*)
