SOLO, MENARA62.COM – Siapa sangka daun salam yang selama ini hanya akrab dengan aroma masakan rumahan bisa berubah menjadi camilan cokelat bernilai ekonomi. Dari tanaman yang tumbuh di halaman rumah nenek, mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mengembangkan LeafChoco, inovasi dark chocolate berbasis daun salam yang kini melaju ke KMI Expo XVII 2026 kategori Makanan dan Minuman.
Inovasi tersebut dikembangkan Tim Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS.
Tim beranggotakan Laura Hardinantasa, Hermalla Ridho D, Ghendis Anggista, dan Yolanda N. Mereka mengusung inovasi bertajuk “LeafChoco: Camilan Dark Chocolate Herbal untuk Kesehatan Darah Berbasis Daun Salam”.
Bagi tim, LeafChoco bukan sekadar produk cokelat. Inovasi ini berangkat dari upaya melihat kembali potensi bahan lokal yang selama ini penggunaannya masih terbatas sebagai bumbu masakan.
Anggota tim, Hermalla Ridho Devara, mengatakan gagasan LeafChoco muncul dari pengamatan sederhana terhadap tanaman daun salam di halaman rumah neneknya.
“Ide LeafChoco sebenarnya berawal dari hal yang sederhana, yaitu dari halaman rumah nenek saya yang terdapat tanaman daun salam. Selama ini, daun salam lebih sering dikenal dan dimanfaatkan sebagai bumbu dalam masakan sehari-hari. Dari situ muncul pemikiran bahwa tanaman yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar tersebut sebenarnya masih memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah,” ujar Hermalla, Minggu (20/9/2026).
Padukan Daun Salam dan Dark Chocolate
Tim kemudian memilih dark chocolate sebagai media inovasi karena produk cokelat relatif dekat dengan konsumen dan memiliki daya tarik sebagai pangan olahan.
Proses pengembangan LeafChoco tidak berlangsung instan. Tim melakukan diskusi, riset, dan sejumlah uji coba formulasi untuk mendapatkan perpaduan dark chocolate dan daun salam yang dapat diterima konsumen.
Tantangan terbesar berada pada formulasi. Tim harus menemukan komposisi yang mampu menjaga keseimbangan rasa, aroma, tekstur, sekaligus karakteristik cokelat.
Dalam proses tersebut, mahasiswa mempelajari berbagai aspek teknis pengolahan cokelat, mulai dari tempering, pembentukan kristal lemak, reologi, viskositas, karakteristik glossy, snap, hingga melting. Penggunaan stevia juga dipelajari karena dapat memengaruhi tekstur produk.
Selain pengembangan produk, tim telah melakukan uji kandungan dan uji daya terima kepada masyarakat.
Dosen pendamping LeafChoco, Endang Setyaningsih, S.Si., M.Si., mengatakan kekuatan inovasi tersebut terletak pada proses yang menggabungkan pengetahuan akademik dengan pengembangan produk dan kewirausahaan.
Menurut dia, mahasiswa tidak hanya belajar membuat produk untuk dijual. Mereka juga terlibat dalam proses evaluasi, perbaikan formulasi, pengendalian produksi, pengujian, hingga validasi awal penerimaan konsumen.
“Menurut saya, kekuatan akademik LeafChoco dapat diringkas dalam tiga hal: science-based product development, local-resource innovation, dan evidence-based entrepreneurship. Mahasiswa belajar mengubah pengetahuan akademik menjadi produk, kemudian menguji apakah produk tersebut mempunyai peluang diterima oleh pasar,” kata Endang.
Sudah Diuji Lewat Penjualan
Perjalanan LeafChoco juga tidak berhenti di laboratorium atau tahap prototipe. Tim mulai menguji respons pasar melalui penjualan secara terbatas.
Pada Open Pre-Order Batch 1, LeafChoco terjual 40 pcs kepada 16 pembeli. Sementara Batch 2 menghasilkan penjualan 42 pcs dari 14 pembeli. Menariknya, terdapat enam konsumen yang melakukan pembelian ulang.
Endang menyebut capaian tersebut belum dapat digunakan untuk menggambarkan penerimaan pasar dalam skala besar. Namun, transaksi dan pembelian ulang tersebut menjadi sinyal awal yang penting bagi pengembangan usaha.
“Angka tersebut belum dapat dimaknai sebagai bukti pasar dalam skala besar karena jumlahnya masih terbatas. Tetapi data itu merupakan early market validation yang positif. Produk tidak berhenti sebagai prototipe mahasiswa, tetapi sudah mulai menghasilkan transaksi dan bahkan pembelian ulang,” ujarnya.
Menurut Endang, tahapan berikutnya masih membutuhkan penguatan pada sejumlah aspek, antara lain standardisasi bahan baku, konsistensi formulasi, data mutu dan keamanan, shelf life, legalitas, kapasitas produksi, serta strategi branding.
Didorong Jadi Usaha Berkelanjutan
Pendampingan terhadap tim LeafChoco juga diarahkan agar mahasiswa mampu mengambil keputusan secara mandiri.
Endang berperan sebagai fasilitator, penasihat ilmiah, critical reviewer, sekaligus memberikan pengawasan kualitas. Sementara itu, keputusan dan eksekusi pengembangan produk tetap berada di tangan mahasiswa.
Pendampingan mencakup berbagai aspek, mulai dari stabilitas cokelat, bahan baku, tempering, mixing, harga pokok produksi (HPP), branding, target pasar, kemasan, uji kandungan, uji daya terima, Nomor Induk Berusaha (NIB), Hak Cipta, promosi, hingga pemasaran.
Kini, kelolosan ke KMI Expo XVII 2026 menjadi tahapan baru bagi tim untuk mengembangkan LeafChoco. Ajang tersebut diharapkan bukan menjadi tujuan akhir, melainkan jembatan menuju pengelolaan usaha yang lebih matang.
Endang berharap mahasiswa terus mengembangkan produk berdasarkan data dan bukti, sekaligus memperkuat aspek bisnis agar LeafChoco dapat tumbuh secara berkelanjutan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa dapat berangkat dari sesuatu yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, kemudian dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah,” katanya. (*)

