Salam Berbuah Doa, Dwi Jatmiko Ajak Jamaah Kejar Kaya Dunia Akhirat

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Kekayaan, kesehatan, dan kesempatan menunaikan ibadah ke Tanah Suci menjadi bagian dari doa yang disampaikan Dwi Jatmiko saat mengisi kajian Majelis Taklim Al Khoiriyah di Masjid Barokah, Joyotakan, Serengan, Solo, Ahad (8/11/2026).

 

Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat tersebut mengawali interaksi dengan jamaah melalui ajakan menjawab salam yang disertai doa penuh makna. Ia mendoakan agar jamaah yang menjawab salam memperoleh tambahan rezeki, kesehatan, serta kemampuan menunaikan ibadah umrah dan haji.

 

“Yang menjawab salam, semoga tambah kaya, tambah sehat. Sehat fisiknya, sehat rohaninya, sehat ekonominya, bisa umrah dan haji,” ujar Jatmiko yang juga merupakan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SD Muhammadiyah 1 Solo itu.

 

Ucapan tersebut sontak mengundang senyum dan antusiasme jamaah. Doa sederhana itu menyentuh harapan banyak orang: hidup berkecukupan, memiliki tubuh sehat, serta mendapatkan kesempatan beribadah ke Tanah Suci.

 

Namun, dalam kajian bertajuk Melepas Luka, Menata Hati tersebut, Jatmiko mengingatkan bahwa kesuksesan hidup tidak semata-mata diukur dari kekayaan materi. Hubungan manusia dengan Allah SWT (habluminallah) dan hubungan antarsesama manusia (habluminannas) juga harus senantiasa dijaga.

 

Ia mengajak jamaah menerapkan prinsip hidup 5T sebagai fondasi membangun hubungan sosial yang harmonis.

 

Lima prinsip tersebut meliputi ta’aruf atau saling mengenal, tafahum atau saling memahami, ta’awun atau saling menolong, takaful atau saling meringankan beban, serta tasamuh atau saling bertoleransi.

 

“Mari terapkan hidup 5T. Yang pertama ta’aruf, saling mengenal. Kedua, tafahum, artinya saling memahami. Ketiga, saling tolong-menolong. Keempat, takaful, artinya saling meringankan satu sama lain. Kelima, tasamuh, saling toleransi,” paparnya.

 

Menurut Jatmiko, kelima prinsip tersebut penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan saling mengenal, memahami, membantu, meringankan beban, dan bertoleransi, masyarakat dapat membangun kehidupan yang lebih damai dan penuh kepedulian.

 

Kaya Harta, Sehat Jiwa, Kuat Iman

 

Lebih lanjut, Jatmiko menekankan bahwa kekayaan, kesehatan, dan ketenangan batin semestinya berjalan beriringan. Iman dan takwa harus menjadi landasan agar manusia tidak hanya sibuk mengejar kesenangan dunia, tetapi juga mempersiapkan kehidupan akhirat.

 

“Semoga bisa umrah, bisa haji, depositonya bertambah,” lanjutnya, disambut antusias jamaah.

 

Pesan tersebut selaras dengan doa yang terkandung dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 201. Ayat ini mengajarkan umat Islam untuk memohon kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, serta perlindungan dari siksa neraka.

 

Doa tersebut menjadi pengingat bahwa seorang muslim tidak perlu mempertentangkan keberhasilan duniawi dengan kehidupan akhirat. Keduanya dapat berjalan beriringan selama harta dan kesuksesan digunakan untuk kebaikan serta tidak menjauhkan manusia dari Allah SWT.

 

Sementara itu, tema Melepas Luka, Menata Hati mengajak jamaah melakukan refleksi diri. Setiap orang perlu belajar berdamai dengan masa lalu, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperkuat kedekatan dengan Sang Pencipta.

 

Jatmiko mengingatkan, bertambahnya kekayaan hendaknya diikuti dengan bertambahnya rasa syukur, kepedulian sosial, dan kualitas ibadah.

 

Sebab, keberhasilan sejati bukan sekadar memiliki deposito yang terus bertambah atau harta yang melimpah. Lebih dari itu, bagaimana rezeki menjadi berkah, hubungan sosial terjaga, hati memperoleh ketenangan, dan kehidupan akhirat tetap menjadi tujuan utama.

 

“Deposito boleh bertambah, kekayaan boleh meningkat. Namun, jangan sampai hati justru kehilangan ketenangan dan kehidupan akhirat terlupakan.” (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!