SOLO, MENARA62.COM – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara auditor bekerja. Teknologi kini dapat membantu mendeteksi anomali transaksi, memetakan risiko, hingga memperluas cakupan pemeriksaan.
Namun, kemajuan tersebut juga membawa tantangan baru, mulai dari keamanan siber, manipulasi data, deepfake, bias algoritma, hingga perlindungan privasi.
Persoalan itu menjadi sorotan dalam Kuliah Umum “Pengauditan Keuangan Internasional di Era Digital” yang digelar Program Studi S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Muhammadiyah Surakarta https://www.ums.ac.id/ (UMS), Senin (21/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar Dr. H. Syamsudin, Gedung FEB UMS, tersebut menghadirkan Dr. Yussri bin Sawani dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia sebagai pembicara. Sebanyak 105 peserta mengikuti kegiatan tersebut.
Kaprodi S1 Akuntansi FEB UMS, Dr. Mahameru Rosy Rochmatullah, S.E., M.Si., mengatakan kuliah umum tersebut menjadi bagian dari upaya program studi memperluas wawasan akademik sekaligus membangun jejaring internasional mahasiswa.
“Melalui kehadiran akademisi dari UiTM Malaysia, mahasiswa memperoleh perspektif global mengenai perkembangan ilmu akuntansi, terutama audit keuangan,” ujar Mahameru.
Menurut dia, kolaborasi lintas perguruan tinggi diharapkan dapat terus dikembangkan untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan daya saing lulusan.
AI Bantu Auditor Deteksi Anomali
Dalam paparannya, Yussri menjelaskan perubahan praktik pengauditan keuangan seiring berkembangnya teknologi digital. Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan AI dan analitik data dalam proses audit.
Teknologi tersebut, kata dia, dapat dimanfaatkan auditor untuk mengolah data dalam jumlah besar dan membantu mengidentifikasi berbagai indikasi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
“Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu auditor mendeteksi anomali transaksi, menilai risiko, serta meningkatkan efisiensi dan cakupan pemeriksaan,” jelas Yussri.
Meski menawarkan berbagai kemudahan, penggunaan teknologi dalam audit tidak dapat dilepaskan dari risiko. Yussri menyoroti sejumlah tantangan, antara lain keamanan siber, manipulasi data, deepfake, bias algoritma, dan perlindungan privasi.
Karena itu, kemampuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kompetensi profesional auditor. Menurut Yussri, pertimbangan profesional, etika, dan tata kelola tetap menjadi aspek penting dalam menjaga kualitas proses audit.
“Pemanfaatan teknologi dalam audit tetap perlu diimbangi dengan pertimbangan profesional, etika, dan tata kelola. Hal tersebut penting untuk menjaga kepercayaan terhadap profesi auditor di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat,” tegasnya.
Mahasiswa Dapat Perspektif Praktik Audit
Bagi mahasiswa, kuliah umum tersebut menjadi kesempatan untuk memahami perkembangan profesi auditor dari perspektif akademisi internasional.
Rosyidah Azizah, mahasiswa Akuntansi semester 7, mengatakan materi yang disampaikan memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai praktik pengauditan, termasuk perkembangan dan penerapan ilmu audit.
“Materi disampaikan dengan bahasa yang sederhana sehingga menambah wawasan saya tentang cara kerja audit secara lebih detail,” kata Rosyidah.
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (15/9/2026) tersebut menjadi bagian dari upaya Prodi S1 Akuntansi FEB UMS menghubungkan pembelajaran akademik dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia profesi.
Melalui kuliah umum tersebut, mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada transformasi digital dalam audit, tetapi juga diajak memahami pentingnya etika, profesionalisme, dan tata kelola dalam menghadapi perubahan profesi akuntansi di tingkat global. (*)

