31.6 C
Jakarta

Mahasiswa Kristiani UMJT: Awalnya Tegang, Kini Makin Akrab

Baca Juga:

MADIUN, MENARA62.COM — Memasuki lingkungan kampus baru tidak selalu mudah bagi mahasiswa. Rasa canggung dan tegang menjadi pengalaman awal yang dirasakan sejumlah mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT), terutama karena mereka datang dari latar budaya dan agama yang beragam.

 

Tahun Akademik 2026/2027, UMJT yang sebelumnya bernama Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) menerima lima mahasiswa baru non-Muslim yang berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

Kelima mahasiswa tersebut yakni Irene Nata Wea dan Fransiskus Vian Baok dari Program Studi Administrasi Kesehatan. Kemudian Benedikta Yuyun Toda dan Shallom Putri Zefanya dari Program Studi Kesejahteraan Sosial, serta Miranda Emillia dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

 

Mereka kini mengikuti rangkaian Program UMJT Menyapa dan MASTA 2026. Bagi sebagian mahasiswa, kegiatan tersebut menjadi pengalaman awal untuk berinteraksi dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda.

 

Benedikta Yuyun Toda, yang akrab disapa Yuyun, mengaku sempat merasa tegang ketika pertama kali mengikuti kegiatan bersama mahasiswa baru lainnya.

 

“Awalnya menegangkan. Sejak kecil sampai SMA belum pernah ketemu orang yang lain budaya, agama, jadi canggung,” kata Yuyun.

 

Mahasiswa asal Maumere, Flores, NTT, itu mengatakan suasana mulai berubah setelah mengikuti program soft skill selama dua hari. Interaksi dan kegiatan kelompok membuat dirinya lebih mudah berkomunikasi dengan mahasiswa lainnya.

 

“Sekarang suasana sudah mulai biasa. Tidak begitu kaku seperti sebelumnya. Sudah berinteraksi dengan mahasiswa lainnya,” ujarnya.

 

Pengalaman serupa dirasakan Fransiskus Vian Baok. Mahasiswa yang akrab disapa Fian tersebut mengaku sempat ragu dan malu ketika pertama kali memasuki lingkungan akademik yang baru.

 

“Awalnya canggung, ragu, malu juga. Tapi sudah ketemu teman mahasiswa lainnya, bertemu dosen juga, jadi sudah mulai terbiasa,” ujar Fian.

 

Berbeda dengan Yuyun dan Fian, Irene Nata Wea mengaku tidak terlalu merasa asing dengan suasana hari pertama di kampus. Pengalaman pernah menjalani perkuliahan sebelumnya membuatnya lebih mudah beradaptasi.

 

“Biasa saja. Tadi sudah bisa berinteraksi dengan berkenalan, bicara dengan mahasiswa lain,” kata Irene.

 

UMJT Buka Ruang Keberagaman

 

Wakil Rektor I UMJT, Dr Fajar Junaedi, M.Si, mengatakan kehadiran mahasiswa dari berbagai latar belakang menjadi bagian dari dinamika kehidupan akademik di UMJT.

 

Menurut Fajar, kampus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar dan berinteraksi dalam lingkungan yang menjunjung toleransi dan keberagaman.

 

“UMJT membuka ruang toleransi dan keberagaman dalam pembelajaran yang adaptif. Siapapun berhak dan bisa kuliah di UMJT, kampus menjunjung tinggi toleransi. Jadi segera bergabung dengan UMJT,” terang Fajar.

 

Rangkaian UMJT Menyapa dan MASTA 2026 pun menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan kampus sekaligus membangun relasi dengan sesama mahasiswa.

 

Bagi lima mahasiswa baru asal NTT tersebut, proses adaptasi perlahan mengubah rasa canggung menjadi interaksi yang lebih akrab. Pertemuan lintas daerah, budaya, dan agama menjadi pengalaman baru dalam memulai perjalanan mereka sebagai mahasiswa UMJT. (MJK/*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!