SOLO, MENARA62.COM – Lebih dari 12.500 guru Muhammadiyah dari berbagai daerah di Jawa Tengah memadati Edutorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ Sabtu (7/11/2026). Dalam Silaturahmi Akbar Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Jawa Tengah tersebut, para pendidik diajak memperkuat sinergi, meningkatkan kompetensi, dan mengambil peran strategis dalam memajukan pendidikan nasional.
Kegiatan berskala besar ini menghadirkan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., serta tokoh Muhammadiyah Prof. Dr. KH. Din Syamsuddin, M.A., Ph.D.
Keduanya menyampaikan perspektif berbeda yang saling melengkapi, mulai dari arah kebijakan pendidikan nasional, tantangan kesejahteraan dan profesionalisme guru, hingga pentingnya membangun pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Dirjen GTK: Pendidikan Nasional Tidak Bisa Lepas dari Guru Muhammadiyah
Dalam pemaparan materi Arahan dan Kebijakan Pendidikan, Nunuk Suryani menegaskan bahwa kemajuan pendidikan Indonesia tidak mungkin terwujud tanpa kontribusi lembaga pendidikan swasta, termasuk sekolah-sekolah Muhammadiyah.
Menurutnya, guru swasta merupakan salah satu pilar penting pendidikan nasional. Mereka tidak hanya memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan, tetapi juga berkontribusi meningkatkan mutu pembelajaran dan memberikan pengabdian nyata kepada masyarakat.
“Pendidikan di Indonesia tidak akan menjadi besar tanpa kontribusi Bapak dan Ibu semuanya di pendidikan swasta, terutama dari Muhammadiyah,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam membangun pendidikan di Indonesia, bahkan sejak sebelum kemerdekaan. Warisan pengabdian tersebut perlu dilanjutkan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan profesionalisme pendidik.
Nunuk juga menyoroti empat tantangan utama yang masih dihadapi guru, yakni kesejahteraan, profesionalisasi, kompetensi, dan perlindungan guru.
Keempat persoalan tersebut, menurutnya, harus menjadi perhatian bersama dalam agenda transformasi pendidikan. Sebab, peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada guru, tetapi membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan.
“Kita perlu mengakui bahwa kesejahteraan guru swasta adalah tanggung jawab kita semua,” tegasnya.
Ia berharap guru-guru Muhammadiyah terus mengembangkan kapasitas diri melalui budaya belajar, berbagi pengetahuan, dan bertumbuh bersama. Kebijakan pendidikan, lanjutnya, juga harus berpijak pada kondisi nyata yang dihadapi para guru di lapangan.
Din Syamsuddin: Guru Harus Bangun Head, Heart, dan Hand
Sementara itu, dalam tausiyah pendidikan, Prof. Dr. KH. Din Syamsuddin, M.A., Ph.D., mengingatkan bahwa menjadi guru merupakan profesi mulia dalam perspektif Islam.
Ia menyebut guru sebagai sosok yang memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk manusia dan menyiapkan generasi penerus peradaban.
“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Meskipun kecil gajinya, besar pahalanya,” tuturnya.
Din menjelaskan bahwa setiap manusia dilahirkan membawa fitrah kemanusiaan dan potensi untuk berkembang. Namun, perkembangan fitrah tersebut sangat dipengaruhi lingkungan eksternal, baik di sekolah maupun keluarga.
Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya dipandang sebagai tanggung jawab lembaga sekolah. Keluarga, terutama orang tua, memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan perkembangan anak.
Ia juga mengaitkan pendidikan dengan tugas manusia sebagai khalifah fil ardh, yakni pemimpin atau wakil Allah di muka bumi yang bertanggung jawab membangun kehidupan dan peradaban.
Untuk menjalankan tanggung jawab tersebut, pendidikan Muhammadiyah harus dikembangkan secara komprehensif dan holistik melalui tiga aspek utama, yaitu head, heart, dan hand.
Ketiganya merepresentasikan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Artinya, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga harus membentuk karakter, akhlak, dan keterampilan.
Din juga mengingatkan bahwa penguasaan materi pelajaran saja tidak cukup bagi seorang guru. Pendidik harus memiliki kompetensi dan menguasai metodologi pembelajaran agar ilmu dapat disampaikan secara efektif.
Ia mengutip prinsip pendidikan Islam, Al-thariqah ahammu min al-maddah, yang berarti metode lebih penting daripada materi.
“Al-thariqah ahammu min al-maddah, yang berarti metode lebih penting daripada materi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mendorong guru Muhammadiyah menerapkan konsep prophetic teaching. Pendekatan ini tidak hanya berkaitan dengan metode pembelajaran mendalam (deep learning), tetapi juga bagaimana guru menghadirkan dan menghidupkan nilai-nilai kenabian serta keislaman dalam proses pendidikan.
FGM Klaten Raih Penghargaan, Lima Daerah Jadi yang Teraktif
Selain menghadirkan arahan kebijakan dan tausiyah pendidikan, Silaturahmi Akbar FGM Jawa Tengah juga menjadi ajang apresiasi terhadap kiprah Forum Guru Muhammadiyah di berbagai daerah.
FGM Kabupaten Klaten berhasil meraih penghargaan dalam dua kategori sekaligus, yakni jumlah Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM) terbanyak dan jumlah peserta terbanyak.
Sementara itu, penghargaan sebagai FGM paling aktif dalam kegiatan diberikan kepada lima daerah, yaitu Surakarta, Purworejo, Sukoharjo, Cilacap, dan Salatiga.
Pemberian penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas partisipasi, konsistensi, dan kontribusi FGM daerah dalam menggerakkan aktivitas serta memperkuat jaringan guru Muhammadiyah.
Kehadiran lebih dari 12.500 guru dalam satu forum menunjukkan besarnya potensi kekuatan sumber daya pendidik Muhammadiyah di Jawa Tengah.
Silaturahmi Akbar ini diharapkan tidak berhenti sebagai ajang pertemuan dan konsolidasi organisasi. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ruang membangun kesadaran kolektif bahwa kemajuan pendidikan Muhammadiyah membutuhkan guru yang sejahtera, profesional, kompeten, berkarakter, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Dengan sinergi antarguru, penguatan kompetensi, serta pengamalan nilai-nilai keislaman dalam pembelajaran, FGM Jawa Tengah diharapkan semakin memperkuat kontribusi Muhammadiyah dalam membangun pendidikan dan peradaban bangsa. (*)
