28.7 C
Jakarta

Mahasiswa UMS Suarakan Keadilan Iklim di Forum Asia Pasifik

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM  – Mahasiswa Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial-Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jody Julian Putra Caesar, membawa isu pengurangan sampah pangan ke forum internasional Asia Pasifik.

 

Jody tampil sebagai pembicara dalam 2nd Regional Congress on Organic and Climate yang digelar secara hibrida di JS Luwansa Hotel, Jakarta, Rabu (23/9/2026).

 

Forum tersebut mempertemukan pakar iklim, praktisi lingkungan, organisasi masyarakat sipil internasional, hingga pembuat kebijakan dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik.

 

Kegiatan yang diselenggarakan GAIA Asia Pacific bersama Dietplastik Indonesia dan Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) itu membahas strategi regional untuk menekan emisi gas rumah kaca dan metana melalui pengelolaan sampah organik yang berkeadilan.

 

Bawa Gerakan Food Rescue ke Forum Internasional

 

Dalam sesi panel bertajuk “Closing the Food Gap – Intercepting Food Loss and Food Waste”, Jody berbagi panggung dengan sejumlah panelis dari berbagai negara, termasuk perwakilan Foodbank of Indonesia dan CAG dari India.

 

Mewakili gerakan anak muda Indonesia, Jody mempresentasikan makalah berjudul “Youth Movement to Food Rescue”.

 

Ia memaparkan pengalaman mengembangkan Carefood Solo, gerakan yang dirintisnya sejak 2020 untuk mengurangi sampah makanan sekaligus menyalurkan pangan berlebih kepada masyarakat yang membutuhkan.

 

“Melalui gerakan ini, kami ingin menunjukkan bahwa makanan berlebih tidak selalu harus berakhir menjadi sampah. Ada peluang untuk menyelamatkannya dan menghubungkannya dengan masyarakat yang membutuhkan,” kata Jody dalam paparannya.

 

Hingga 2025, Carefood Solo disebut telah menyelamatkan lebih dari 46.040 kilogram makanan berlebih untuk kemudian didistribusikan kepada komunitas rentan.

 

Capaian tersebut menjadi salah satu contoh konkret keterlibatan anak muda dalam mengatasi persoalan food loss and food waste di tingkat perkotaan.

 

Soroti Fenomena FOMO Generasi Muda

 

Dalam forum tersebut, Jody juga menyoroti pola konsumsi generasi muda yang dipengaruhi tren dan fenomena Fear of Missing Out (FOMO).

 

Menurut dia, anggapan bahwa makanan merupakan sesuatu yang murah dan mudah diperoleh dapat mendorong perilaku konsumtif sekaligus meningkatkan potensi makanan terbuang.

 

Karena itu, keterlibatan anak muda dinilai penting, bukan hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai bagian dari solusi.

 

Melalui Carefood Solo, anak muda terlibat dalam pemetaan calon donor pangan, penyelamatan makanan berlebih, hingga distribusinya kepada komunitas yang membutuhkan.

 

Model tersebut kemudian menjadi bahan diskusi dalam kongres, khususnya terkait kemungkinan memperluas peran pemuda dalam gerakan pengurangan sampah pangan di kawasan Asia Pasifik.

 

Dorong Regulasi Pengelolaan Sampah Pangan

 

Tak hanya berbicara mengenai gerakan sosial, Jody juga membawa perspektif hukum dan kebijakan publik yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di FHIP UMS.

 

Ia menekankan bahwa persoalan sampah pangan tidak cukup diselesaikan melalui aksi amal atau proyek jangka pendek. Menurutnya, diperlukan kebijakan yang dapat memastikan gerakan tersebut berjalan secara berkelanjutan.

 

Dalam paparannya, Jody menyampaikan proses advokasi yang dilakukannya bersama Pemerintah Kota Surakarta untuk mendorong lahirnya rancangan Surat Edaran Wali Kota tentang Pengelolaan Food Loss and Food Waste.

 

Langkah tersebut menjadi contoh bagaimana gerakan masyarakat dan mahasiswa dapat dikembangkan menjadi agenda kebijakan di tingkat lokal.

 

Dari perspektif yang dibawa Jody, kebijakan lokal mengenai pengelolaan pangan dan sampah dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih luas dalam mendukung komitmen aksi iklim Indonesia, termasuk Nationally Determined Contributions (NDC).

 

Kiprah Jody di forum Asia Pasifik tersebut mendapat apresiasi dari Dekanat FHIP dan Rektorat UMS.

 

Partisipasinya dinilai menunjukkan bahwa mahasiswa UMS tidak hanya aktif di lingkungan kampus, tetapi juga mampu membawa gagasan berbasis gerakan sosial, hukum, dan kebijakan publik ke ruang diskusi internasional. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!