33.8 C
Jakarta

UMS Beri Keris 500 Tahun kepada Wakil Dubes RI di Malaysia

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Bukan sekadar cendera mata. Sebilah keris berusia lebih dari 500 tahun menjadi simbol budaya dan penghormatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id kepada perwakilan diplomatik Indonesia di Malaysia.

 

Keris tersebut diberikan UMS kepada Wakil Kepala Perwakilan atau Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI Kuala Lumpur sekaligus Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia, Dr. Danang Waskito, serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, Dr. R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, Kamis (24/9/2026).

 

Pemberian cendera mata berlangsung di sela kuliah umum Danang Waskito di Gedung Ahmad Syafii Maarif UMS. Keris dipilih sebagai medium untuk memperkenalkan kekayaan sejarah dan filosofi budaya Jawa dalam ruang diplomasi dan kerja sama kelembagaan.

 

Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMS, Prof. Dr. Drs. Sabar Narimo, M.M., M.Pd., mengatakan keris yang diberikan memiliki nilai sejarah sekaligus filosofi yang kuat.

 

Salah satunya merupakan keris luk 13 dengan pamor Mos Utah. Pamor tersebut memiliki filosofi yang berkaitan dengan kesejahteraan dan kemakmuran.

 

“Pamor Mos Utah itu seperti beras tumpah atau pedaringan kebak, yang melambangkan kesejahteraan, kekayaan, dan kemakmuran,” jelas Sabar.

 

Keris Tangguh Mataram dari Abad ke-16

 

Keris tersebut memiliki tangguh Mataram dan diperkirakan dibuat pada masa Panembahan Senopati sekitar 1586. Dengan usia lebih dari lima abad, keris itu menjadi benda budaya yang menyimpan perjalanan sejarah sekaligus nilai simbolik.

 

Sabar mengatakan pemberian keris tidak dimaksudkan sekadar sebagai buah tangan. Ada pesan filosofis yang ingin disampaikan UMS kepada para penerimanya.

 

Selain keris tangguh Mataram, UMS memberikan keris dengan tangguh Madiun, berpamor kulit semangka dan berdapur carubuk luk tujuh.

 

“Keris ini tangguh Madiun. Pamornya kulit semangka dan dapurnya carubuk luk tujuh. Saya berharap maknanya dapat menjadi bagian dari semangat dan perjalanan beliau dalam menjalankan tugas,” ungkap Sabar.

 

Pemberian tersebut sekaligus menjadi cara UMS membawa kekayaan budaya lokal ke dalam ruang hubungan internasional. Keris tidak hanya ditempatkan sebagai benda pusaka, tetapi juga sebagai bagian dari narasi budaya yang menyertai hubungan antarlembaga.

 

Danang: Ini Bukan Sekadar Cendera Mata

 

Danang Waskito mengapresiasi cendera mata yang diberikan UMS. Baginya, keris tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar benda kenang-kenangan.

 

“Lebih dari cendera mata, ini menjadi cendera hati kami. Semoga menjadi penyemangat untuk terus melakukan kolaborasi dan kerja sama untuk kemajuan bangsa,” ujarnya.

 

Menurut Danang, pemberian keris tersebut menjadi bagian dari hubungan baik yang terus dibangun antara UMS dan perwakilan Indonesia di Malaysia.

 

Ia juga mengapresiasi perkembangan UMS sebagai salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia.

 

Sementara itu, Ahmad Romadhoni mengaku senang menerima keris yang memiliki nilai sejarah tersebut. Sebagai orang Jawa, ia mengaku memiliki ketertarikan terhadap keris, meski belum banyak mempelajari seluk-beluk keris, termasuk cara merawatnya.

 

“Terima kasih banyak dengan keris itu. Ini menjadi tugas saya untuk kemudian bisa merawatnya. Tadi saya langsung bertanya bagaimana cara perawatannya,” ungkapnya.

 

Keris Jadi Jembatan Budaya dan Diplomasi

 

Menurut Ahmad Romadhoni, keris tidak hanya memiliki nilai sebagai benda budaya. Di balik bentuk dan pembuatannya terdapat filosofi yang melekat dalam tradisi masyarakat Jawa.

 

Ia menilai masyarakat Jawa memiliki perhitungan dan pemaknaan tertentu dalam menciptakan berbagai produk budaya, termasuk keris.

 

Pemberian keris tersebut pun menjadi bagian dari upaya UMS memperkenalkan warisan budaya lokal dalam ruang diplomasi. Nilai sejarah dan filosofi Jawa turut menjadi bagian dari hubungan kerja sama UMS dengan perwakilan Republik Indonesia di Malaysia.

 

Melalui sebilah keris yang telah melewati lebih dari lima abad perjalanan sejarah, UMS membawa pesan bahwa diplomasi tidak hanya dibangun melalui pembicaraan politik dan kerja sama kelembagaan, tetapi juga dapat diperkuat melalui budaya, sejarah, dan hubungan antarmanusia. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!