33.2 C
Jakarta

UMS Buka Hackathon Inovasi Kesehatan, Hadiah Ratusan Juta

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id membuka peluang bagi mahasiswa, dosen, praktisi, dan profesional lintas disiplin untuk mengembangkan solusi inovatif di bidang kesehatan melalui program Health Innovation Hackathon 2026. Program yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) ini menargetkan 15 tim peserta dengan dukungan pendanaan mencapai ratusan juta rupiah.

 

Untuk pertama kalinya, UMS menjadi penyelenggara program Hackathon 2026. Ajang ini dirancang untuk mendorong lahirnya inovasi berbasis teknologi yang mampu menjawab persoalan nyata di bidang kesehatan, obat, dan industri.

 

Ketua Tim Task Force Program Hackathon 2026 UMS, Prof. Dr. Ir. Suranto, S.T., M.M., M.Si., IPU., menjelaskan bahwa program tersebut terbuka bagi peserta dari berbagai latar belakang keahlian. Peserta tidak hanya berasal dari lingkungan UMS, tetapi juga dapat melibatkan mahasiswa dan dosen perguruan tinggi lain, praktisi, hingga kalangan profesional.

 

“Program Hackathon ini terbuka bagi dosen, mahasiswa, praktisi, dan profesional dari berbagai bidang keahlian, atau multidisiplin, agar para peserta didorong dan dapat berkolaborasi dalam tim lintas ilmu untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi mitra,” jelas Suranto, Sabtu (10/10/2026).

 

Menurutnya, dari sejumlah proposal yang diajukan, sebanyak 17 perguruan tinggi dinyatakan lolos sebagai penyelenggara program Hackathon 2026. UMS berharap kesempatan tersebut dapat memperkuat kolaborasi lintas bidang sekaligus menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan mitra.

 

Pendaftaran Dibuka hingga 15 Oktober 2026

 

UMS Health Innovation Hackathon 2026 memberikan kesempatan kepada peserta untuk memulai pengembangan inovasi dari sebuah gagasan. Peserta tidak diwajibkan memiliki produk atau purwarupa (prototype) ketika mendaftar.

 

Pendaftaran dibuka hingga 15 Oktober 2026. Peserta terlebih dahulu membentuk kelompok dan mengajukan proposal yang berisi gagasan untuk menyelesaikan permasalahan nyata yang dihadapi mitra.

 

Setelah itu, peserta akan mendapatkan pembekalan dan pendampingan untuk mengembangkan gagasan menjadi purwarupa, baik berupa produk maupun perangkat lunak (software). Inovasi yang dihasilkan selanjutnya diuji bersama mitra untuk mengetahui kesesuaiannya dengan kebutuhan di lapangan.

 

“Adapun proposal yang diajukan dapat berangkat dari gagasan inovasi yang dikembangkan berdasarkan permasalahan nyata yang dihadapi mitra,” ungkapnya.

 

Melalui mekanisme tersebut, UMS ingin memastikan Hackathon tidak sekadar menjadi ajang kompetisi ide. Program ini diarahkan untuk menghasilkan solusi yang dapat diuji, dikembangkan, dan berpeluang diterapkan secara langsung.

 

Informasi lengkap mengenai persyaratan dan mekanisme pendaftaran dapat diakses melalui laman resmi UMS Health Innovation Hackathon 2026 di https://ihub.ums.ac.id/hackathon.

 

Targetkan 15 Tim, Lima Kelompok Jadi Pemenang

 

Dalam penyelenggaraan tahun ini, UMS menargetkan partisipasi 15 kelompok. Setiap kelompok terdiri atas tiga hingga enam orang dengan latar belakang keahlian yang beragam untuk mendukung kolaborasi multidisiplin.

 

Dari kelompok yang berpartisipasi, panitia menargetkan lima kelompok terpilih sebagai pemenang.

 

Suranto menjelaskan, besaran dana untuk setiap tim belum ditetapkan secara terperinci. Alokasi anggaran akan mempertimbangkan kebutuhan pengembangan inovasi masing-masing kelompok, termasuk jenis produk yang dihasilkan.

 

Meski demikian, total dana yang disiapkan untuk program ini mencapai ratusan juta rupiah. Pendanaan tersebut diharapkan dapat mendukung proses pengembangan inovasi sekaligus mendorong peserta menghasilkan solusi yang memiliki nilai guna.

 

Dorong Inovasi hingga Hilirisasi dan Komersialisasi

 

UMS Health Innovation Hackathon 2026 tidak hanya berorientasi pada penciptaan purwarupa. UMS juga mendorong agar inovasi yang dihasilkan dapat berlanjut ke tahap implementasi, pengembangan produk, hilirisasi, hingga komersialisasi.

 

Inovasi yang dipilih dan dimanfaatkan oleh mitra berpeluang dikembangkan lebih lanjut melalui pendampingan lanjutan. Dengan demikian, hasil kerja peserta diharapkan tidak berhenti setelah kompetisi berakhir, tetapi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

 

“Harapan kami selaku pengelola, adanya implementasi inovasi, kolaborasi lanjutan, pengembangan dan komersialisasi produk,” ujar Suranto.

 

Ia menambahkan, pengelola program masih mendiskusikan panduan lebih lanjut terkait kerja sama apabila inovasi peserta digunakan oleh mitra. Pembahasan tersebut mencakup pengaturan pendapatan, royalti, kontrak kerja sama, hingga kemungkinan pemberian hak eksklusif atas inovasi yang dikembangkan.

 

Melalui Health Innovation Hackathon 2026, UMS berharap tercipta ekosistem kolaborasi yang mempertemukan akademisi, praktisi, profesional, dan mitra untuk menghasilkan solusi berbasis teknologi sesuai kebutuhan nyata.

 

Program ini sekaligus membuka peluang bagi peserta untuk mengembangkan gagasan menjadi produk inovatif yang berpotensi diterapkan, memberikan manfaat bagi masyarakat, serta memiliki nilai ekonomi. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!