Haedar Nashir: Guru Muhammadiyah Wajib Jaga Integritas dan Idealisme

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., mengingatkan para guru Muhammadiyah agar senantiasa menjaga integritas, kompetensi, dan idealisme dalam menjalankan profesinya. Guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan sekaligus pembentuk karakter generasi bangsa.

 

Pesan tersebut disampaikan Haedar melalui tayangan video dalam kegiatan Silaturahmi Akbar Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Jawa Tengah di Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Sabtu (7/11/2026).

 

Menurut Haedar, silaturahmi akbar tersebut bukan sekadar ajang pertemuan antarguru, melainkan momentum memperkuat persaudaraan sekaligus meneguhkan kembali komitmen dan semangat profesi pendidik.

 

Ia menegaskan, kemuliaan profesi guru tidak hanya terletak pada kemampuan menyampaikan materi pembelajaran. Lebih dari itu, seorang guru harus mampu membentuk karakter dan menghadirkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

 

“Dalam tradisi klasik, kita mengenal guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru. Bagaimana menjadi guru yang selalu diikuti oleh siswa-siswinya karena kemampuannya sebagai sosok yang memberi pelajaran, mentransfer ilmu, berbagi pengalaman, dan ditiru karena keteladanannya,” ungkapnya.

 

Haedar mengakui, meskipun profesi guru saat ini telah memperoleh berbagai bentuk pengakuan, termasuk melalui sertifikasi, masih banyak pendidik yang harus menjalankan tugas dalam keterbatasan.

 

Karena itu, ia mengingatkan agar kondisi tersebut tidak mengurangi komitmen dan integritas guru. Pendidik harus tetap menjalankan tiga peran sekaligus, yakni mengajarkan ilmu pengetahuan dan keahlian, membentuk karakter, serta menjadi guru kehidupan bagi peserta didik.

 

Guru Jadi Penentu Kualitas Pendidikan

 

Selain integritas, peningkatan kompetensi dan keahlian menjadi perhatian penting Haedar. Menurutnya, guru merupakan aktor utama yang menentukan tinggi rendahnya kualitas pendidikan.

 

Kemajuan lembaga pendidikan, termasuk sekolah-sekolah Muhammadiyah, sangat dipengaruhi kualitas para pendidiknya. Terlebih, dunia pendidikan saat ini menghadapi persaingan yang semakin ketat, baik di tingkat nasional maupun internasional.

 

“Guru adalah aktor utama tingginya kualitas pendidikan, termasuk di Muhammadiyah tercinta ini. Dengan peningkatan kualitas, maka insyaallah institusi pendidikannya ikut naik,” tegasnya.

 

Haedar juga mengingatkan agar idealisme guru tidak luntur akibat berbagai tantangan dan keterbatasan. Semangat mencerdaskan kehidupan bangsa harus tetap terpelihara, termasuk bagi guru yang mengabdi di daerah dengan akses pendidikan terbatas.

 

Ia menilai, ungkapan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa tetap relevan untuk menggambarkan kemuliaan profesi pendidik.

 

“Guru adalah buku yang hidup, buku yang berjalan, dan buku yang menjadi teladan,” tuturnya.

 

Tiga Pijakan Guru Muhammadiyah

 

Secara khusus, Haedar menekankan tiga pijakan utama yang harus dipahami dan diamalkan oleh setiap guru di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, yakni paham agama, ideologi, dan sistem gerakan Muhammadiyah.

 

Pertama, guru harus memahami paham keislaman Muhammadiyah yang berlandaskan Manhaj Tarjih dan prinsip ar-ruju’ ila al-Qur’an wa as-Sunnah. Pemahaman tersebut meliputi akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah.

 

Kedua, guru perlu memahami sekaligus mengamalkan ideologi Muhammadiyah yang tercermin dalam Kepribadian Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), serta Khittah Muhammadiyah.

 

Nilai-nilai tersebut harus menjadi pedoman dalam menjalankan kehidupan keumatan, kebangsaan, hingga pergaulan global.

 

Ketiga, guru harus memahami dan mengikuti sistem gerakan Muhammadiyah dengan menaati berbagai peraturan serta ketentuan Persyarikatan. Sistem tersebut menjadi landasan keteraturan agar setiap warga Muhammadiyah dapat menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya secara optimal.

 

Menutup amanahnya, Haedar berharap Silaturahmi Akbar FGM Jawa Tengah menjadi momentum memperkuat persaudaraan, komitmen, integritas, dan idealisme guru Muhammadiyah.

 

Ia juga mendorong forum tersebut menjadi ruang untuk meningkatkan kualitas pendidik sekaligus memperteguh identitas guru dalam paham agama, ideologi, dan sistem gerakan Muhammadiyah.

 

Haedar mengajak seluruh guru untuk senantiasa bergembira dalam bermuhammadiyah. Dengan demikian, aktivitas di Persyarikatan tidak sekadar menjadi kewajiban organisasi, tetapi juga ruang pengabdian yang menyenangkan, penuh harapan, dan memberikan makna bagi kehidupan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!