28.9 C
Jakarta

Cegah Stunting dan Penuhi Asupan Gizi Tidak Harus Makanan Mahal

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Upaya Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dalam menurunkan kasus stunting adalah melakukan kombinasi intervensi spesifik dan sensitif berupa pemberian makanan yang berasal dari bahan pangan lokal dengan mekanisme pemberdayaan masyarakat dalam bentuk kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) di Kampung KB (Keluarga Berkualitas).

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan salah satu upaya perbaikan gizi adalah melalui edukasi dan perbaikan konsumsi pangan ibu hamil, menyusui dan balita dari berbagai pangan yang tersedia, bergizi dan terjangkau dengan citarasa yang sesuai dengan selera mereka.

Indonesia kaya akan sumberdaya pangan yang diproduksi, diperjual-belikan dan tersedia di Indonesia, yang sering disebut sebagai pangan lokal Indonesia atau pangan nusantara,” ucap Hasto pada saat membuka Webinar MENU SEHAT DASHAT: Ragam Menu Dapur Sehat Atasi Stunting di Kampung Keluarga Berkualitas, Jumat (13/8).

BKKBN menurut Hasto, sudah bertekad untuk merubah Kampung Keluarga Berencana menjadi Kampung Keluarga Berkualitas, sesuai arahan Presiden Joko Widodo. Oleh karena Hasto melanjutkan, sesuai dengan namanya, maka Kampung KB saat ini diisi dengan salah satu kegiatan yang baru, yaitu dalam kegiatan DASHAT, diharapkan kegiatan ini dapat membawa Kampung KB menjadi berkualitas.

Sementara itu, Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN M. Rizal Martua Damanik mengatakan tidak hanya stunting yang menjadi masalah, akan tetapi anemia juga masih menjadi masalah yang belum dapat dituntaskan dari pemenuhan gizi yang ada di Indonesia.

“Padahal sumber utama gizi daripada anemia ini antara lain adalah sayur-sayuran dan buah-buahan yang begitu banyak tersedia di Indonesia, namun kondisi sekarang stunting mencapai hampir 27,7 persen, suatu angka yang luar biasa yang sangat tinggi sudah melebihi ambang batas yang dapat direkomendasi Badan Kesehatan Dunia maksimal yaitu 20 persen,” ungkap Rizal.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 bahwa penurunan prevalensi Stunting Balita di tingkat nasional sebesar 6,4% selama periode 5 tahun, yaitu dari 37,2% (2013) menjadi 30,8% (2018).

Selain itu, target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) adalah menghapuskan semua bentuk kekurangan gizi pada tahun 2030.

Sedangkan berdasarkan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019, saat ini telah terjadi penurunan prevalensi stunting dari 30,8% pada tahun 2018 (Riskesdas 2018) menjadi 27,67% tahun 2019.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!