SOLO, MENARA62.COM – Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk hidup jauh dari keluarga. Namun, bagi Asem Abdullah Ahmad Abdo, mahasiswa asal Yaman, jarak dan situasi keamanan di negaranya justru menjadi bagian dari perjalanan untuk menuntaskan pendidikan di Indonesia.
Alih-alih pulang setelah meraih gelar sarjana, Asem memilih melanjutkan studi S2 Fisioterapi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id. Ia membawa satu tujuan: mengumpulkan ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin sebelum kembali mengabdi di Yaman.
Asem merupakan penerima International Priority Scholarship (IPS) UMS. Ia menjadi salah satu wisudawan dalam Upacara Wisuda Program Sarjana, Magister, dan Doktor UMS Periode I Tahun Akademik 2026/2027 di Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Sabtu (26/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Asem berbincang langsung dengan Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum.
Empat Tahun Tak Pulang ke Yaman
Asem berasal dari Kota Taiz, Yaman. Selama menempuh pendidikan di UMS, ia belum sekalipun kembali ke negara asalnya karena situasi keamanan yang belum memungkinkan.
“Setiap kali saya mau balik, situasi keamanan tidak enak. Selama empat tahun belum pernah balik,” ungkap Asem.
Jauh dari keluarga membuatnya harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, selama tinggal di Surakarta, Asem justru menemukan lingkungan yang membuatnya merasa memiliki keluarga kedua.
Tak hanya belajar di ruang kelas, ia juga berinteraksi langsung dengan masyarakat Indonesia. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kawasan Gawok, Kartasura.
Di sana, Asem berbaur dengan warga sekaligus mulai belajar bahasa Jawa.
“Setitik-setitik,” ujarnya sambil menjelaskan kemampuan berbahasa Jawa yang dipelajarinya.
Dari Farmasi Beralih ke Fisioterapi
Perjalanan Asem di bidang kesehatan sebenarnya bermula dari Yaman. Sebelum datang ke Indonesia, ia sempat menjalani studi S1 Farmasi selama satu tahun.
Namun, ketertarikannya kemudian mengarah pada fisioterapi. Kesempatan melanjutkan pendidikan ke Indonesia datang setelah Asem memperoleh beasiswa berkat capaian akademiknya yang tinggi ketika menempuh pendidikan menengah.
Ia kemudian memilih UMS karena melihat perkembangan Program Studi Fisioterapi dan kesempatan memperoleh pengalaman praktik yang mendukung pembelajaran.
Selama menempuh S1, Asem menjalani praktik di sejumlah klinik dan rumah sakit di Solo. Ia juga mengikuti internship selama satu bulan di klinik fisioterapi, terutama dalam pelayanan rehabilitasi dan pendampingan pasien setelah operasi.
“Pengalaman yang saya dapat sangat akan bermanfaat nanti pas saya balik ke Yaman sana,” tuturnya.
Pengalaman tersebut tidak berhenti setelah ia menyelesaikan S1. Asem kini juga menjalani praktik homecare bagi warga Arab di Indonesia serta internship di sebuah klinik di Boyolali.
Sejumlah layanan fisioterapi telah dipraktikkannya, termasuk akupunktur dan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS).
Ingin Jadi Dosen dan Bawa Ilmu UMS ke Yaman
Keputusan Asem melanjutkan S2 Fisioterapi di UMS bukan sekadar untuk menambah gelar akademik. Ia ingin memperdalam kompetensi sebelum membawa ilmu tersebut kembali ke Yaman.
Saat ini, Asem telah memasuki pekan ketiga studi S2 melalui skema beasiswa.
Ia memiliki cita-cita menjadi dosen di Universitas Teknologi Yaman. Melalui jalur akademik tersebut, Asem ingin ikut mengembangkan pendidikan fisioterapi di negaranya.
“Insyaallah jadi dosen di sana biar ilmunya pindah. Jadi kita mau bawa UMS juga ke sana,” ujarnya.
Rencana tersebut juga berkaitan dengan hubungan akademik yang telah terjalin antara UMS dan University of Science and Technology Yemen (USTY).
Asem berharap pengalaman belajar di UMS dapat menjadi salah satu jembatan untuk memperkuat hubungan akademik kedua perguruan tinggi.
Ia juga memperhatikan berbagai fasilitas pembelajaran dan praktik fisioterapi yang tersedia di UMS. Berbagai pengalaman tersebut ingin dibawanya sebagai referensi ketika kelak kembali dan berkontribusi di Yaman.
“Harapan saya untuk kampus UMS, maju terus sampai target nomor satu di seluruh Indonesia, dan sampai internasional insyaallah,” kata Asem.
Rektor UMS: Jangan Berhenti pada Gelar
Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., mengatakan pendidikan tidak seharusnya berhenti ketika seseorang memperoleh gelar akademik.
Menurut dia, ilmu yang diperoleh selama masa pendidikan harus diwujudkan dalam tindakan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Jangan berhenti belajar, jangan berhenti pada gelar. Teruslah belajar, jadilah pembelajar sepanjang hayat. Karena ilmu yang hanya disimpan akan menjadi pengetahuan, ilmu itu harus diamalkan supaya menjadi manfaat,” jelas Harun.
Ia juga menekankan pentingnya pengalaman mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu sekaligus hidup bersama masyarakat.
“Knowing itu penting, tetapi doing itu penting, yang lebih penting lagi adalah living together,” tuturnya.
Perjalanan Asem menunjukkan bahwa pendidikan lintas negara tidak hanya mempertemukan mahasiswa dengan pengetahuan baru. Lebih dari itu, pengalaman akademik, praktik, dan interaksi sosial dapat menjadi bekal untuk membawa ilmu kembali ke masyarakat dan negara asal.
Bagi Asem, perjalanan dari Yaman ke UMS pada akhirnya bukan sekadar tentang meraih gelar. Ada misi yang ingin dibawa pulang: ilmu fisioterapi, pengalaman pendidikan, dan semangat untuk ikut membangun bidang kesehatan di negaranya. (*)

