SOLO, MENARA62.COM – Belajar agama tak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Siswa SMA Manafi’ul ‘Ulum PonpesMU Sambi diajak memperluas wawasan melalui pengalaman langsung dengan mengunjungi masjid dan menyaksikan pertunjukan Wayang Orang di Kota Surakarta, Kamis (25/9/2026).
Kegiatan bertajuk Literasi Agama dan Literasi Budaya itu mengajak para siswa mengunjungi dua destinasi keagamaan, yakni Masjid Zayyed dan Masjid Agung Surakarta. Rombongan juga mendatangi Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari untuk mengenal lebih dekat salah satu warisan seni pertunjukan Jawa.
Di Masjid Zayyed dan Masjid Agung Surakarta, para siswa mengikuti shalat berjamaah sekaligus mendapatkan pengalaman mengenal masjid dari perspektif yang lebih luas.
Masjid tidak hanya dipahami sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah, arsitektur, serta kehidupan sosial masyarakat.
Usai mengikuti rangkaian literasi agama, rombongan melanjutkan perjalanan menuju GWO Sriwedari. Di sana, siswa menyaksikan secara langsung pertunjukan Wayang Orang yang menjadi bagian dari kekayaan seni dan budaya Jawa.
Kepala SMA Manafi’ul ‘Ulum, Ari Rosmawati, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai pembelajaran kontekstual agar siswa tidak hanya memahami materi secara teoritis, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar dari buku dan materi di kelas, tetapi juga mengalami secara langsung. Ketika mereka berkunjung ke masjid, mereka belajar tentang nilai keagamaan. Ketika menyaksikan Wayang Orang, mereka belajar tentang budaya, sejarah, seni, sekaligus nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Menurut Ari, literasi agama dan budaya perlu ditempatkan sebagai dua hal yang saling melengkapi dalam pendidikan.
Generasi muda, kata dia, perlu memiliki fondasi keagamaan yang kuat sekaligus mengenal, memahami, dan menghargai budaya bangsa.
“Harapannya, anak-anak tumbuh menjadi generasi yang kuat secara spiritual, luas wawasannya, memiliki karakter, serta tidak tercerabut dari akar budaya bangsanya. Belajar agama dan belajar budaya bukan dua hal yang harus dipertentangkan, tetapi dapat saling menguatkan,” katanya.
Masjid dan Wayang Jadi Laboratorium Belajar
Kegiatan tersebut memperkenalkan konsep literasi yang lebih luas kepada siswa. Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami nilai agama, sejarah, seni, budaya, serta kehidupan sosial masyarakat.
Melalui kunjungan langsung, siswa diajak melihat hubungan antara keimanan, kebudayaan, dan pembentukan karakter.
Pertunjukan Wayang Orang juga menjadi ruang refleksi bagi siswa untuk mengenal warisan budaya sekaligus menggali nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam seni tradisi.
Ketua panitia kegiatan, Shodiq Mustaqim Syahida, bersama jajaran pendamping memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib dan edukatif.
Para pendamping terdiri atas Ustadz Sahudi, Ustadz Ulum, Ustadz Dani, Ustadz Arief, Ustadz Salahuddin, Ustadz Rahmad, Ustadzah Ari, Ustadzah Nazmiya, dan Ustadzah Haura.
Sementara itu, Mudir PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi, Pujiono, menekankan pentingnya menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti di ruang kelas.
Menurutnya, masjid dan ruang kebudayaan dapat menjadi laboratorium pembelajaran yang memberikan pengalaman nyata kepada siswa.
“Literasi agama membangun kedalaman spiritual, sedangkan literasi budaya menumbuhkan kecintaan terhadap identitas dan warisan bangsa. Keduanya perlu berjalan bersama dalam membentuk generasi yang beriman, beradab, berbudaya, dan berwawasan luas,” ungkap Pujiono.
Kegiatan Literasi Agama dan Literasi Budaya tersebut menjadi bagian dari upaya SMA Manafi’ul ‘Ulum menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna.
Dengan belajar langsung di tengah masyarakat, siswa diharapkan tidak sekadar mengetahui materi pembelajaran, tetapi mampu mengalami, memahami, dan mengambil nilai dari setiap proses yang mereka jalani.
Pembelajaran pun menjadi lebih dekat dengan kehidupan nyata: masjid menguatkan literasi keagamaan, sementara Wayang Orang membuka pintu bagi siswa untuk mengenal sejarah dan budaya bangsa. (*)
