32.9 C
Jakarta

Hadapi Era UHC, Rumah Sakit Swasta Harus Smart dan Safety

Baca Juga:

JAKARTA– Untuk kelima kalinya, Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) gelar Seminar Seminar Nasional. Kegiatan yang berlangsung sejak 17 Juli hingga 19 Juli 2018 tersebut sekaligus digelar bersamaan dengan HealthCare Expo IV.

Mengusung tema Mempersiapkan Rumah Sakit Indonesia Menghadapi Situasi Disrupsi Di Era yang Kompetitif, kegiatan seminar melibatkan sekitar 460 pesrta dari seluruh Tanah Air.

Ketua Umum ARSSI drg. Susi Setiawaty MARS mengatakan disrupsi terjadi dimana-mana dalam bidang industri apapun , bukan hanya berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi sajja. Disrupsi juga  telah mengubah banyak hal sehingga tanpa disadari perubahan tersebut sudah terjadi .

“Karenanya industri rumah sakit harus mengantisipasi perubahan yang akan terjadi dengan melakukan perubahan yang diperlukan sekarang,” kata Susi.

Tak hanya era disrupsi, menurut Susi, rumah sakit juga harus terus meningkatkan kemampuan dirii terutama dalam hal menyambut era cakupan semesta JKN atau universal health coverage per1 Januari 2019 mendatang.Rumah sakit harus smart  dalam merumuskan kembali strategi yang mampu menghadapi situasi disrupsi dan pelaksanaan UHC sehingga tetap menjadi rumah sakit pilihan bagi masyarakat yang memerlukan layanan kesehatan dengan mengedepankan layanan yang bermutu dan aman.

Menjadi rumah sakit yang “smart” dan “safety” dalam menghadapi situasi disrupsi dan pelaksanaan UHC lanjut Susi, tentunya merupakan tantangan kedepan. Berbagai upaya yang harus dilakukan antara lain melalui pelayanan yang cepat , tepat , aman dengan kendali mutu dan kendali biaya didukung sarana prasana dan perbekalan yang ramah lingkungan , operasional rumah sakit yang efektif dan efisien, manajemen SDM yang kompeten dan adaptif serta  sistem  informasi rumah sakit yang bertransformasi kearah digitalisasi.

Sementara itu Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes Bambang Wibowo mengatakan pentingnya peran rumah sakit sasta dalam pelaksanaan UHC. Sebab dari 2.849 rumah sakit yang ada di Indonesia, 64 persen adalah rumah sakit swasta.

“Artinya, pelayanan terhadap peserta JKN-KIS akan banyak ditangani rumah sakit swasta,” kata Dirjen

Karena itu, rumah sakit swasta yang tergabung dalam ARSSI diminta untuk meningkatkan mutu pelayanan dan inovasi-inovasi pengobatan. Ini penting agar ARSSI tetap menjadi pilihan masyarakat dalam hal layanan kesehatan.

Bambang mengemukakan, untuk tetap menjadi rumah sakit yang bermutu, kuncinya adalah tata kelola dan standar yang baik. Dua hal tersebut harus terus diperhatikan oleh manajemen rumah sakit swasta.

Bagi Bambang, layanan yang bermutu sesungguhnya tidak sekedar untuk menghadapi UHC. Tetapi juga sekaligus menjadi cara untuk tetapbertahan di era globalisasi. Dimana era globalisasi, persaingan atau kompetisi antar rumah sakit cukup tinggi.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!