AUCKLAND, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berkolaborasi dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) untuk internasionalisasi pendidikan. Kolaborasi ini terbentuk setelah rombongan dari UMS bersilaturahmi ke PCIM Selandia Baru di Auckland, Kamis (28/5).
PCIM Selandia Baru yang secara resmi baru berdiri sejak 2026 saat ini telah tumbuh kembang dengan pesat. Saat ini, PCIM Selandia Baru sedang tahap menyiapkan pendidikan anak-anak atau pendidikan dasar secara formal.
Selama kunjungan tersebut, Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., didampingi oleh Wakil Rektor II UMS Prof. Dr. Muhammad Da’i, M.Si., Apt. Harun menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk nyata internasionalisasi pendidikan Muhammadiyah yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga pengabdian kepada masyarakat global.
“Program ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan, baik bagi masyarakat Indonesia di Auckland maupun bagi alumni UMS yang memperoleh pengalaman internasional dalam bidang pendidikan dan dakwah,” ujarnya, Sabtu (30/5).
Dalam pertemuan itu kedua belak pihak sepakat bahwa UMS akan memperkuat pengembangan pendidikan anak bagi masyarakat Indonesia di Auckland, Selandia Baru. Dalam jangka pendek kerja sama akan difokuskan pada penyelenggaraan pendidikan dasar, taman kelompok bermain, hingga Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di kompleks PCIM Auckland.
Komitmen tersebut menjadi langkah strategis Muhammadiyah dalam memperluas dakwah pendidikan sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat diaspora Indonesia di Selandia Baru terhadap pendidikan berbasis nilai Islam dan keindonesiaan.
Dalam program jangka pendek, UMS akan mengirimkan alumni penerima Beasiswa Tahfidz UMS untuk bertugas mengajar di TPQ PCIM Auckland secara bergantian selama tiga bulan pada setiap angkatan. Program ini dirancang berkelanjutan sehingga estafet pengabdian dapat terus berjalan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya.
Ketua PCIM Auckland, Akmaloni, menyampaikan bahwa kehadiran pengajar dari UMS diharapkan mampu memperkuat pendidikan keislaman bagi anak-anak Indonesia yang tinggal di Auckland. Menurutnya, pendidikan berbasis Al-Qur’an dan karakter menjadi kebutuhan penting bagi diaspora agar generasi muda tetap memiliki identitas keislaman dan kebangsaan yang kuat meskipun berada di luar negeri.
Kolaborasi ini diharapkan akan berlanjut dan berkesinambungan yang tidak hanya berhenti pada program TPQ, kedua belah pihak juga tengah mempersiapkan pengembangan lembaga pendidikan yang lebih besar melalui rencana pendirian Muhammadiyah Academy College di Auckland.
“Kehadiran lembaga tersebut diharapkan menjadi pusat pendidikan berbasis nilai Islam modern yang dapat melayani masyarakat Indonesia maupun komunitas internasional di Selandia Baru,” tutup Akmal.
Kolaborasi UMS dan PCIM Auckland ini menjadi bukti nyata bahwa jejaring Muhammadiyah di tingkat global terus bergerak aktif menghadirkan pendidikan berkualitas, memperkuat nilai keislaman, serta membangun peradaban melalui kerja sama lintas negara. (*)

