SOLO, MENARA62.COM — Di tengah derasnya arus modernitas dan perkembangan zaman, mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki kekuatan spiritual, kematangan emosional, dan kepedulian sosial. Menjawab tantangan tersebut, kegiatan Baitul Arqom Mahasiswa hadir sebagai ruang pembinaan untuk meneguhkan nilai ibadah sekaligus membangun karakter generasi muda yang beradab.
Panitia pelaksana, Ustadz Suwinarno MPdI, menyampaikan bahwa Baitul Arqom bukan sekadar kegiatan seremonial keagamaan, melainkan sarana pembinaan yang bertujuan menyalakan kembali kesadaran ibadah dan tanggung jawab kemanusiaan mahasiswa.
“Mahasiswa hari ini menghadapi tantangan besar. Mereka harus mampu menjadi insan intelektual yang tidak kehilangan arah hidup dan tetap memiliki nilai moral serta kepedulian sosial,” ujarnya.
Sebagai pembuka kegiatan, digelar kuliah umum Baitul Arqom gelombang kedua dengan menghadirkan Direktur Sekolah Vokasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof Dr Ir Suranto ST MM MSi, sebagai pemateri utama.
Dalam pemaparannya, Prof Suranto menjelaskan bahwa Baitul Arqom menjadi momentum refleksi diri, penguatan ruhani, serta peneguhan identitas mahasiswa sebagai agen perubahan.
“Baitul Arqom bertujuan membangun karakter mulia mahasiswa agar tidak hanya memahami agama secara teoritis, tetapi juga mampu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata,” jelasnya.
Menurutnya, ibadah tidak hanya dimaknai sebagai ritual formal semata, melainkan pondasi dalam membentuk pola pikir, sikap, dan tindakan. Dari shalat lahir kedisiplinan, puasa melatih pengendalian diri, sementara dzikir menghadirkan ketenangan yang membentuk integritas pribadi.
Prof Suranto juga menekankan pentingnya penerapan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah melalui implementasi nilai-nilai rukun Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa mahasiswa memiliki amanah besar sebagai generasi intelektual umat yang harus mampu menjadi teladan dan pelopor perubahan positif di tengah masyarakat.
“Mahasiswa bukan sekadar pencari gelar, tetapi calon pemimpin masa depan yang menentukan wajah masyarakat. Kampus membutuhkan mahasiswa yang cerdas sekaligus beradab, kritis namun rendah hati, serta aktif bergerak tetapi tetap dekat dengan Sang Pencipta,” paparnya.
Melalui Baitul Arqom, diharapkan lahir pribadi-pribadi yang mampu menyeimbangkan kekuatan ibadah individual dengan kepedulian sosial. Nilai ibadah tersebut diwujudkan dalam perilaku sehari-hari seperti kejujuran akademik, disiplin waktu, menghormati dosen dan sesama mahasiswa, hingga menjauhi budaya instan dan manipulatif.
Selain itu, implementasi nilai ibadah juga harus tercermin dalam kehidupan sosial melalui semangat ukhuwah, kepedulian terhadap masyarakat kecil, budaya tolong-menolong, serta keberanian menyuarakan keadilan.
“Mahasiswa yang memahami hakikat ibadah akan sadar bahwa menuntut ilmu, menjaga amanah organisasi, hingga membantu sesama merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah,” tambahnya.
Prof Suranto berharap mahasiswa yang terbina melalui Baitul Arqom dapat menjadi agen perubahan sosial, penjaga moralitas publik, dan teladan di tengah masyarakat.
“Pada akhirnya, Baitul Arqom bukan sekadar agenda tahunan, melainkan proses membangun peradaban. Perubahan besar lahir bukan hanya dari kecerdasan pikiran, tetapi juga dari hati yang hidup, ibadah yang kuat, dan kepedulian nyata terhadap sesama,” pungkasnya. (*)


