26 C
Jakarta

Halal Bihalal Civitas Akademika UHAMKA, Sekjen MUI Ingatkan Pentingnya Silaturahmi

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Sekjen Majelis Ulama Indonesia MUI) Dr Amirsyah Tambunan memberikan tausiyah dalam acara Halal Bihalal dan Silaturahmi Idulfitri 1443H yang digelar civitas akademika Universitas Muhammadiyah DR Hamka (UHAMKA), Senin (9/5/2022). Kegiatan yang digelar secara virtual tersebut dihadiri sivitas akademika, jaringan alumni UHAMKA yang berjumlah sekitar  450 peserta.

Hadir Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) yang juga Ketua PP. Muhammadiyah Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si, Rektor UHAMKA, Prof. Dr. Gunawan Saputro dan seluruh jajaran pimpinan rektorat, dekanat, guru besar Prof. Dr. Yunan Yusuf sebagai dosen dan sejumlah mahasiswa, serta alumni.

Rektor UHAMKA Prof Gunawan dalam sambutan mengatakan tujuan silaturrahmi pasca puasa Ramadahan adalah untuk mengeratkan kebersamaan, karena kebersamaan dapat menjadi solusi dalam mengatasi berbagai permasalahan umat dan bangsa. Untuk itu tema silaturrahmi yang diambil adalah Tarbiah Ramadan untuk Indonesia Berkemajuan.

Dalam tausyiahnya, Buya Amirsyah menekankan pentingnya memperkuat silaturrahmi  setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan. Untuk memperkuat kebersamaan dalam memelihara eksistensi  semua hal, termasuk lembaga pendidikan seperti UHAMKA. “Kampus ini membawa nama besar Prof.Dr. Hamka sebagai Ketua Mejelis Ulama Indonesia (MUI) pertama yang dikenal sebagai ilmuan, sastrawan, muballigh, bukan saja di Indonesia akan tetapi juga di dunia internasional,” tutur Buya Amirsyah.

Untuk itu Buya Amirsyah berpesan agar ketokohan Buya Hamka menjadi perekat dalam meningkatkan hubungan silaturrahmi dengan semua kekuatan umat dan bangsa.

Menurutnya, momentum Syawal untuk Indonesia yang berkemajuan dapat dtempuh dengan beberapa langkah. Pertama, memperkuat hubungan kasih sayang (silaturrahmi) sesama civitas akademika dengan sejumlah lapisan masyarakat baik masyarakat perkotaan, pedesaan, dan juga petani. Karena pada umumnya  penduduk Indonesia yang kehidupannya  berasal dari petani  apalagi sebagai negara agraris  harus saling memperkuat kohesifitas sosial, berupa kepedulian, kepekaan sosial antara masyarakat perkotaan dengan pedesaan di tengah kesulitan ekonomi akibat dampak pandemi Covid 19.

Kedua, sebagai makhluk sosial manusia sebelum dilahirkan ke permukaan bumi telah membuat janji setia agar memperkuat hubungan silaturrahmi, namun manusia mengingkari janjinya sebagaimana firman Allah QS Ar-Ra’d ayat 25

وَٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعْدِ مِيثَٰقِهِۦ وَيَقْطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ ۙ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوٓءُ ٱلدَّارِ

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk.

Ketiga, kekuasaan menjadi media silaturrahmi, bukan sebaliknya merusak hubungan silaturrahmi, sebagaimana firman Allah

QS Muhammad ayat 22-23

فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ اِنۡ تَوَلَّيۡتُمۡ اَنۡ تُفۡسِدُوۡا فِى الۡاَرۡضِ وَتُقَطِّعُوۡۤا اَرۡحَامَكُمۡ اُولٰٓٮِٕكَ الَّذِيۡنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمۡ  وَاَعۡمٰٓى اَبۡصَارَهُمۡ ”

Apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan silaturrahmi atau kekeluargaan?. Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah lalu dibuat tuli (pendengarannya) dan dibutakan penglihatannya.”

Keempat, kewajiban untuk  memperbaiki dan memperkuat  hubungan silaturrahmi,dengan dasar  iman,  berhijrah sebagaimana QS Al Anfal ayat 75.

وَالَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡۢ بَعۡدُ وَهَاجَرُوۡا وَجَاهَدُوۡا مَعَكُمۡ فَاُولٰۤٮِٕكَ مِنۡكُمۡ‌ؕ وَاُولُوا الۡاَرۡحَامِ بَعۡضُهُمۡ اَوۡلٰى بِبَعۡضٍ فِىۡ كِتٰبِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيۡمٌ “

Dan orang-orang yang beriman setelah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka mereka termasuk golonganmu. Orang-orang yang mempunyai hubungan  silaturrahmi itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) menurut Kitab Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Kelima, salah satu tolak ukur  kemajuan peradaban bangsa karena hubungan silaturrahmi yang dapat mencegah perpecahan, adu domba, fitnah seperti yang dilakukan para buzzer. Harus segera dihentikan karena kontra produktif dengan peradaban  Indonesia yang berkemajuan.

Lebih lanjut, Buya Amirsyah mengingatkan bahwa Rasulullah SAW telah memerintahkan agar kita memelihara silaturrahmi yang baik  karena dapat memanjangkan umur dan meluaskan rezeki sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Dari Ibnu Syihab dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ingin lapangkan pintu rizqi untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari) [Shahih No.5986 Versi Fathul Bari.

Sementara itu Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si dalam sambutannya mengatakan bahwa silaturrahmi keluarga besar UHAMKA harus menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan, kinerja sesama keluarga besar UHAMKA sebagai lembaga Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sehingga UHAMKA menjadi PTM yang dapat berkiprah untuk Indonesia yang berkemajuan

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!