23.9 C
Jakarta

Indonesia Kekurangan Industri Di Bidang Geospasial

Baca Juga:

BOGOR, MENARA62.COMIndonesia masih kekurangan industri yang bergerak pada bidang geospasial. Hingga saat ini, jumlah industri geospasial di Indonesia masih dibawah kisaran 100 industri.

“Bandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Singapura. Mereka memiliki industri dibidang geospasial yang jauh lebih banyak, meski wilayahnya tidak seluas Indonesia,” kata Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Hasanuddin Zainal Abidin pada puncak HUT ke-48 BIG, Selasa (17/10/2017).

Karena itu, Hasanuddin menilai perlunya didorong tumbuhnya industri dibidang geospasial dalam negeri. Kementerian Ristek dan Dikti juga Kemendikbud bisa mengambil peranan lebih besar untuk mencetak tenaga-tenaga handal dibidang geospasial sehingga nantinya mendukung tumbuhnya industri geospasial.

Menurut Hasanuddin, ketersediaan industri dibidang geospasial termasuk ketersediaaan SDM tersebut mutlak diperlukan untuk mewujudkan kemandirian informasi geospasial Indonesia pada 2019.

Diakui Hasanuddin untuk mendorong tumbuhnya industri geospasial tentu tidak lepas dari keberadaan pengusaha. Saat ini dengan jumlah penduduk mencapai 250 juta, semestinya ada 5 juta penduduk menjadi pengusaha, termasuk pengusaha yang bergerak dibidang industri geospasial.

“Kemandirian IG akan mendorong kemajuan sistem pertahanan negara, bisnis dan penataan wilayahnya,” tukasnya.

Hasanuddin mengatakan BIG bertekad terus memperkaya data dan informasi geospasial yang dibagikan secara gratis kepada publik untuk berbagai kreasi dan inovasi bagi kemaslatahan bangsa dan negara. Salah satunya, dengan menjaring para inovator bidang ilmu pengetahuan dan teknologi informasi (Iptek) dengan membuat aplikasi yang menggunakan data geospasial dari BIG.

“Kami berharap lebih banyak lagi inovator asal Indonesia yang mengelola industri geospasial, jangan dari negara luar melulu,” tutupnya.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!