27.5 C
Jakarta

Kemenpora Dukung Unkris Bangkitkan Jiwa Wirausaha Mahasiswa melalui Kuliah Kewirausahaan Pemuda

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Untuk kedua kalinya, Universitas Krisnadwipayana (Unkris) bekerjasama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI menggelar Kuliah Kewirausahaan Pemuda. Kegiatan yang dilakukan secara daring pada Jumat (26/8/2022) tersebut diikuti lebih dari 530 mahasiswa dari berbagai program studi.

Mengambil tema “Mahasiswa Wirausaha Ciptakan Kemandirian dan Inovasi”, Kuliah Kewirausahaan Pemuda tersebut bertujuan membangkitkan jiwa kewirausahaan para mahasiswa.

Hadir memberikan materi dua narasumber yakni Wakil Dekan 3 Fakultas Hukum Unkris Wisnu Nugraha, SH, MH dan Ketua LPKK Unkris Dr Susetya Herawati, ST, MSi, dengan pembicara kunci Drs Imam Gunawan, MAP, Plt Asdep Kewirausahaan Pemuda, Kemepora RI dan moderator Dhistianti Mei Rahmawan Tari SE, MM, dosen sekaligus Ketua P2M FE Unkris.

Dalam sambutannya Rektor Unkris Dr Ir Ayub Muktiono mengatakan Kuliah Kewirausahaan Pemuda hasil kerjasama dengan Kemenpora ini merupakan tahun kedua digelar oleh Unkris. Dari kegiatan ini nantinya para peserta akan mengikuti kompetisi untuk mendapatkan hibah pendanaan dari Kemenpora.

“Tahun lalu tiga proposal kewirausahaan mahasiswa Unkris berhasil mendapatkan hibah pendanaan kewirausahaan, semoga tahun ini jumlah yang lolos bisa bertambah,” kata Rektor.

Menurut Rektor, wirausaha menjadi bagian penting dari pengembangan talenta atau kemampuan mahasiswa. Sektor ini perlu terus dikembangkan mengingat wirausaha memiliki multi player efek baik bagi dirinya sendiri, bagi lingkungan sekitar maupun bagi bangsa dan negara.

Untuk menjadi seorang wirausahawan yang berhasil jelas rektor setidaknya ada  6 hal penting yang wajib dipahami oleh mahasiswa. Pertama seorang mahasiswa atau pemuda harus memiliki jiwa yang kritis. Dengan jiwa kritis, mahasiswa memiliki sikap taggap terhadap segala persoalan yang dijumpai di sekitarnya. “Kritis, dan tanggap ini tentunya harus didukung ide yang kreatif dan inovatif,” paparnya.

Rektor mencontohkan bagaimana Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim yang konon tidak bisa naik sepeda motor, dapat membangun bisnis Gojek. “Karena terhambat tidak bisa naik motor, ternyata mendatangkan ide bisnis untuk membangun aplikasi gojek,” jelas Rektor.

Hal kedua bahwa mahasiswa harus bisa membangun kerjasama. Karena pada dasarnya Tuhan menciptakan setiap manusia tidak bisa hidup sendiri, selalu harus ada kerjasama dengan pihak lain. “Dalam kerjasama ini kemampuan bernegosiasi harus ditumbuhkan,” katanya.

Ketiga, seorang wirausahawan harus memiliki sifat jujur. Sifat ini jelas Rektor,  memang tidak mudah dilakukan, tetapi jika ingin usahanya langgeng, seorang wirausahawan harus jujur, tidak munafik. Apa yang dikatakan harus sama dengan yang dilakukan.

Keempat, seorang wirausahawan harus memiliki cara berpikir yang positif (positif thingking). Bahwa proses wirausaha itu ada jatuh bangunnya, tidak selamanya mulus dan semuanya harus dijalani dengan sabar dan optimis. “Jangan langsung ingin besar dan sukses, jalani saja proses. Kalau kita membangun sesuatu dari kecil, maka ketika besar akan memiliki akar yang kuat, tidak mudah roboh,” tambahnya.

Kelima, kerjakan sesuatu yang memang kita cintai. Berwirausaha pada bidang yang sesuai dengan hobi, sesuatu yang kita cintai akan memiliki peluang untuk berhasil lebih besar. Karena ketika mengerjakan hal yang disukai, seseorang bisa bekerja keras, tidak kenal lelah dan tidak kenal putus asa. “Semua akan dijalani dengan hati riang gembira,” kata Rektor.

Dan keenam ada performa untuk berwirausaha. Ini penting karena apa yang dipelajari di kampus, tanpa diimplementasikan dalam bidang yang digeluti, hanya akan menjadi hal yang sia-sia.

Drs Imam Gunawan, MAP, Plt Asdep Kewirausahaan Pemuda, Kemepora RI

Sementara itu, Imam Gunawan dalam kata pengantarnya menjelaskan menjadi seorang wirausahawan tidak hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri. Tetapi apa yang dilakukan seorang wirausahawan dapat juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, setidaknya membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Oleh karena itu sektor wirausaha menjadi sektor yang sangat didorong oleh pemerintah. Tujuannya agar semakin banyak orang terjun menjadi wirausahawan sehingga tidak lagi berebut menjadi pegawai.

Imam mengingatkan dengan kekayaan sumber alam yang melimpah dan kekayaan budaya yang beragam, Indonesia memiliki peluang besar untuk melahirkan wirausahawan muda yang berhasil. Ini diperkuat pula oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ekosistem yang sangat mendukung.

“Mau dapat modal, ada lembaga yang siap memberikan bantuan modal, mau pelatihan pun ada lembaga yang siap melatih dan membimbing. Ekosistemnya sangat mendukung untuk menjadi wirausahawan,” kata Imam.

Imam berharap dari kuliah wirausaha ini akan banyak mahasiswa yang kemudian terbuka pikirannya untuk menggali potensi di sekitar sebagai peluang bisnis. “Saya berharap kuliah ini bisa menguatkan mindset mahasiswa untuk memandang wirausaha itu memberikan harapan yang keren, bisa mengantar pada kehebatan,” tandasnya.

Senada juga disampaikan Khairil Adha, M. Si, Kepala Bidang Penelusuran dan Potensi kewirausahaan Pemuda Kemenpora. Ia berharap kerjasama antara Unkris dengan Kemenpora akan terus berlanjut. “Semoga tahun ketiga dan seterusnya kegiatan ini bisa digelar secara offline,” tambahnya.

Wisnu Nugraha dalam paparannya berjudul Membangun Jiwa Kewirausahaan bagi Mahasiswa mengatakan untuk membangun jiwa wirausaha, dibutuhkan sejumlah prasyarat mulai dari komitmen pribadi, lingkungan yang kondusif, pendidikan dan pelatihan, keadaan terpaksa dan proses yang berkelanjutan.

Adapun karakteristik wirausaha adalah percaya diri, kepemimpinan, berorientasi pada tugas dan hasil, keorisinilan ide atau inovasi, keberanian mengambil risiko, dan berorientasi pada masa depan.

Sedang Susetya Herawati dalam materinya membedah pentingnya model bisnis bagi seorang wirausahawan. Model bisnis merupakan proses bagaimana perusahaan menciptakan value dan mendapatkan keuntungan dari value yang diciptakan secara berkelanjutan.

“Mengapa perlu menciptakan model bisnis? Karena adanya perubahan dari eksternal dan internal perusahaan, teknologi, keberadaan internet, pesaing, perilaku consumen, sistem distribusi, rantai pasok, trend pasar, peraturan pemerintah dan lainnya,” tandas Herawati.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!