SOLO, MENARA62.COM — Pagi belum sepenuhnya beranjak ketika warga Muhammadiyah Laweyan mulai memadati kawasan Graha 58 Gedung Serba Guna UMS, Jalan Dr. Wahidin, Purwosari, Kecamatan Laweyan, Surakarta, Ahad (27/9/2026).
Mengenakan pakaian olahraga, mereka bersiap berjalan dan mengayuh sepeda menyusuri ruas jalan Kota Solo. Namun, kegiatan itu bukan sekadar urusan menjaga kebugaran tubuh.
Di balik langkah dan kayuhan tersebut, terselip pesan untuk tidak melupakan sejarah.
Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Laweyan menggelar Jalan Sehat dan GowesMu untuk mengenang tragedi G30S, sekaligus mengajak warga kembali berbicara tentang sejarah politik Indonesia dan pentingnya kewaspadaan terhadap ideologi komunisme.
Kegiatan tersebut diikuti warga Muhammadiyah Laweyan dan dihadiri sejumlah pimpinan Muhammadiyah, di antaranya Ketua PDM Kota Surakarta KH Anwar Sholeh, KH Subari, HA Sukidi, H Rohani, Ketua LPCR PM PDM Kota Surakarta Azhari, H Sumanto, Ketua MPKSDI PDM Kota Surakarta DR. Suyanto, Rektor UMJT Prof. Sofyan Anif, H Bagus Sukatno, Joko Riyanto, serta Ketua PP Muhammadiyah HA Dahlan Rais.
Acara diawali pembacaan doa oleh KH Subari. Pelepasan burung kemudian dilakukan sebelum KH Anwar Sholeh mengibarkan bendera start, menandai dimulainya jalan sehat dan GowesMu.
Ketua PCM Laweyan Aji Syaikhurrahman mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk mengenang para pahlawan revolusi dan warga negara yang menjadi korban dalam rangkaian kekerasan politik 1965.
“Sejarah itu menjadi pengingat kita. Jangan sampai kita kecolongan lagi dan kita tetap harus waspada terhadap upaya-upaya untuk membangkitkan PKI,” kata Aji.
Ia mengatakan kegiatan serupa diharapkan dapat kembali digelar pada tahun berikutnya.
Taufiq: Sejarah Harus Ditulis Apa Adanya
Jika langkah dan kayuhan menjadi pembuka, orasi pengacara Kota Surakarta Dr. Muhammad Taufiq, S.H., M.H., menjadi salah satu bagian yang menghidupkan kembali perbincangan mengenai sejarah.
Taufiq menilai peringatan tragedi G30S tidak cukup berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Menurut dia, sejarah perlu terus ditulis, didokumentasikan, dan didiskusikan agar generasi berikutnya memiliki ruang untuk memahami peristiwa masa lalu dari berbagai sumber.
“Sejarah itu harus tertulis apa adanya. Suka atau tidak suka, harus ditulis apa adanya,” ujar Taufiq.
Ia kemudian mendorong Muhammadiyah untuk mengembangkan kegiatan peringatan tersebut ke bentuk edukasi sejarah yang lebih luas, termasuk pemutaran film dokumenter dan diskusi intelektual.
“Saya menginginkan itu ada nobar. Nobar tentang kekejaman G30S/PKI,” katanya.
Menurut Taufiq, kegiatan tersebut dapat dilanjutkan dengan forum diskusi berukuran lebih kecil. Ia membayangkan forum yang melibatkan sekitar 10 hingga 20 orang untuk membicarakan sejarah, ideologi, dan kehidupan kebangsaan secara lebih mendalam.
“Harapan saya, Muhammadiyah tidak berhenti di sini. Ada juga nanti dialog intelektualnya,” ujarnya.
Taufiq juga menyinggung film yang disebutnya sebagai “Tujuh Setan Desa”. Ia menyatakan Muhammadiyah telah mengirimkan surat kepada lembaga informasi dan digital di Surakarta terkait persoalan pemutaran film tersebut.
Pernyataan mengenai surat dan proses tersebut disampaikan Taufiq dalam orasinya dan perlu didukung dokumen tersendiri apabila dikembangkan menjadi pemberitaan khusus.
Bukan Sekadar Jalan Sehat
Di tengah suasana kegiatan yang berlangsung semarak, peserta juga mengikuti pengundian doorprize.
Namun, pesan yang dibawa kegiatan tersebut melampaui hadiah dan olahraga bersama.
Bagi PCM Laweyan, jalan sehat dan GowesMu menjadi cara untuk menghadirkan kembali pembicaraan tentang sejarah kepada masyarakat.
Sementara itu, Taufiq mendorong agar momentum tersebut berkembang menjadi ruang dialog yang lebih akademis dan terbuka.
Secara hukum, Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 memuat pembubaran PKI dan larangan terhadap kegiatan untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran komunisme/Marxisme-Leninisme.
Dengan demikian, Ahad pagi di Graha 58 bukan hanya tentang siapa yang paling cepat berjalan atau mengayuh sepeda.
Ada ingatan sejarah yang hendak dirawat, ada perdebatan yang masih ingin dibuka, dan ada pesan agar generasi hari ini tidak kehilangan kesempatan untuk mempelajari masa lalu.
Sebab, bagi penyelenggara, sejarah bukan sekadar sesuatu yang pernah terjadi.
Sejarah adalah sesuatu yang terus dibicarakan agar tidak kehilangan makna. (*)

