28.3 C
Jakarta

Nahkodai PERDOSRI 2022-2025, dr Ruamisah Hasan Berkomitmen Tingkatkan Layanan pelayanan SpKFR

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) periode 2022-2025 melakukan serangkaian kegiatan Pelantikan, Sarasehan dan Rapat Kerja Pengurus Pusat PERDOSRI periode 2022-2025 pada Jumat, Sabtu, Minggu 16-18 Desember 2022, di Hotel Fairmont, Jakarta.

Rangkaian kegiatan tersebut diawali dengan serahterima jabatan dari pengurus PERDOSRI 2019-2022 yang diketuai oleh Dr. dr. Tirza Z Tamin, Sp.K.F.R., M.S. (K) kepada Ketua Umum PERDOSI 2022-2025 dr. Rumaisah Hasan, SpKFR, NM (K) dan pengurus lainnya dilanjutkan dengan pelantikan oleh Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) dr. Adib Khumaidi, SpOT,

Ikut hadir dalam rangkaian acara tersebut Ketua Dewan Etik dan Disiplin PERDOSRI, dr. Deddy Tedjasukmana, Sp.K.F.R., K.R. (K), MARS, MM, MPM, MH, beserta Ketua Kolegium Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia, Prof. Dr. dr. Hening Laswati, Sp.K.F.R., K.R. (K).

Dalam sambutannya, Ketua Umum PB IDI dr Adib Khumaidi mengatakan sebagai salah satu organisasi profesi kedokteran, PERDOSRI mempunyai tanggung jawab untuk mengawal profesionalisme yang melibatkan etik. “Saat ini kita menghadapi tantangan kesehatan yang sangat kompleks dan ini membutuhkan konsolidasi dan kolaborasi yang melibatkan semua pihak termasuk PERDOSRI mengingat problema kesehatan di Indonesia tidak bisa disimplifikasi,” jelas dr Adib.

Menurutnya, adanya persaingan dapat menempatkan kita pada konflik profesional bahkan etik, sehingga kita perlu concern terhadap konflik profesionalisme yang terjadi saat ini. “Mari kita merangkul semua kepentingan anggota, karena organisasi profesi yang kita miliki sekarang bukan hanya milik pengurus namun milik semua anggota,” lanjutnya.

Di tempat yang sama, dr. Rumaisah Hasan, Sp.K.F.R., N.M. (K), menjelaskan PERDOSRI concern terhadap segala hal yang dapat mengganggu kesehatan manusia secara holistik di tengah makin kompleksnya persoalan kesehatan di Indonesia.

“PERDOSRI memiliki visi menjadi organisasi yang unggul dan disegani melalui penguatan potensi anggota dengan asas kolaboratif, profesional dan inovatif yang diwujudkan melalui misi PERDOSRI,” kata dr Rumaisah.

Ia menyampaikan beberapa tantangan yang dihadapi PERDOSRI ke depan. Salah satunya, secara internal masih sedikitnya jumlah dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi di Indonesia. Karena itu, perlu diperbanyak program studi dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi untuk menghasilkan Sp.K.F.R.

Saat ini, ada sekitar 1000 dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (Sp.KFR) di Indonesia di Indonesia. Jumlah tersebut dirasakan masih sangat kurang untuk populasi orang Indonesia. Terlebih, ada beberapa propinsi yang belum memiliki dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi seperti di Papua Barat.

“Kami harapkan pemerataan SpKFR di seluruh Indonesia semakin membaik. PERDOSRI terus mendengar aspirasi seluruh SpKFR untuk kesejahteraan SpKFR dan Indonesia, dengan amanah lebih dari 1000 SpKFR di seluruh Indonesia,” lanjutnya.

Akibat jumlahnya yang masih sedikit ini, distribusi dokter Sp.K.F.R tidak merata di Indonesia. Banyak yang memilih ditempatkan di kota. Pertimbangannya lebih karena kelengkapan sarana dan prasarana kedokteran fisik dan rehabilitasi.

“Alasan lainnya karena perhatian pemerintah yang belum maksimal terhadap keberadaan profesi dokter spesalis, termasuk Sp.K.F.R. baik mengenai keselamatannya dan kesejahteraannya,” tutur dr. Rumaisah yang ditemui usai pelantikan.

Meski demikian, PERDOSRI terus berupaya agar setiap wilayah Indonesia memiliki spesialis KFR. Minimal 1 dokter di 1 kabupaten kota. Alhamdulillah sudah mulai ada penyebaran.

Namun, menurutnya, upaya ini tidak akan berhasil tanpa dukungan rumah sakit setempat. Jika dokternya bersedia, tapi pihak rumah sakit tidak menyiapkan sarana dan prasarana, tentu penyebaran dokter spesialis KFR mengalami kendala.

Tantangannya lainnya, persepsi masyarakat terhadap profesi dokter Sp.K.F.R yang masih dianggap sebagai “tukang pijat”. Padahal, Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi bagian dalam bidang kedokteran berkenaan dengan diagnosis, evaluasi, dan penatalaksanaan pasien yang mengalami disfungsi dan disabilitas fisik.

Sp.KFR adalah dokter yang menangani pasien dengan gangguan fungsi tubuh atau keterbatasan fisik akibat penyakit atau cedera. Tujuannya, meningkatkan kualitas hidup pasien tersebut, dengan memaksimalkan fungsi yang ada.

Dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi bekerjasama dalam tim yang terdiri dari fisioterapis, okupasi terapis, terapis wicara, ortotik prostetik, perawat, psikolog, psikiater, dan lain-lain.

Karena itu, PERDOSRI akan terus meningkatkan peran SpKFR di Pelayanan Kesehatan terutama bidang Rehabilitasi Medik. Selain itu, juga meningkatan kompetensi, koordinasi dengan pelayanan Rehabilitasi Medik yang holistik dan berkualitas.

“Tidak lupa kesejahteraan dan kesehatan para dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi yang juga tercoverage dan optimal untuk kemajuan SpKFR dan PERDOSRI,” tambah dr. Rumaisah.

PERDOSRI berkomitmen meningkatkan pemerataan pelayanan SpKFR di pelosok Nusantara. Sejauh ini, dikatakan, telah meningkatkan pemerataan pelayanan SpKFR di pelosok Nusantara dari 47.08 % ke 66.27 %.

Saat ini dalam aspek pelayanan, pendidikan, termasuk bagian pengabdian masyarakat dalam kasus-kasus disibilitas. Peran Sp.KFR sangat penting dan harus didukung oleh negara untuk semakin memperluas pelayanan dan memperkuat eksistensi organisasi profesi, termasuk pendidikan SDM.

Ke depannya, PERDOSRI berkomitmen untuk berperan lebih aktif dalam sektor Kedokteran Wisata dan program disabilitas di semua derajat dari hulu ke hilir, termasuk implementatif research untuk pengembangan ekonomi kreatif.

Komitmen selanjutnya, yakni meningkatkan peran dokter SpKFR dalam kesehatan haji dengan mengoptimalkan kesiapan jemaah haji dalam menjalankan ibadah haji, yang diharapkan dapat mengurangi angka morbiditas dan mortalitas.

Usai pelantikan PP PERDOSRI dilanjutkan dengan sarasehan sebagai bentuk concern terhadap segala hal yang dapat mengganggu kesehatan manusia secara holistik.

Dengan diadakannya sarasehan ini untuk menarik benang merah yang menghubungkan pengurus pusat dari masa ke masa, sehingga mengurangi kemungkinan kesalahan di masa lalu.

Sementara kegiatan raker menekankan pada visi PERDOSRI yaitu menjadi organisasi yang unggul dan disegani melalui penguatan potensi anggota dengan asas kolaboratif, profesional dan inovatif yang diwujudkan melalui misi organisasi.

“Semoga PERDOSRI dapat terus menjadi organisasi yang dinamis namun selalu dapat beradaptasi dan terus memberikan kontribusinya. Kita harus terus bergandengan tangan dan berkontribusi secara kolaboratif,” tegas dr Rumaisah Hasan, SpKFR.

Ketua Umum PP PERDOSRI periode 2019–2022, Dr. dr. Tirza Z Tamin, Sp.KFR(K), berharap melalui momen pelantikan, pengurus baru PERDOSRI dan KFR di Indonesia dapat melanjutkan kemajuan dan perkembangan.

Ia bersama para pengurus sebelumnya akan selalu membantu perjuangan Bersama demi dokter SpKFR yang diiringi dengan perkembanagn ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di era globaliasi untuk meningkatkan kompetensi SpKFR secara nasional dan internasional.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!