SOLO, MENARA62.COM – Transformasi digital di bidang kesehatan kembali menunjukkan perkembangan signifikan dengan diluncurkannya NutriAI Pro, platform berbasis kecerdasan buatan (AI) pertama di Indonesia yang dirancang khusus untuk profesi ahli gizi. Peluncuran ini digelar melalui webinar bertajuk “Resolusi Gizi Berbasis Teknologi AI” pada Minggu (19/4), yang diikuti lebih dari 250 peserta dari kalangan mahasiswa, praktisi, hingga akademisi.
Platform yang dikembangkan oleh PT NutriAI Indonesia Cerdas ini menandai evolusi dari versi awal (Minimum Viable Product/MVP) yang sebelumnya telah digunakan oleh 119 ahli gizi berbayar di seluruh Indonesia. Kini, NutriAI Pro hadir sebagai platform web profesional yang lebih terintegrasi dan siap digunakan secara luas.
Acara dibuka dengan sambutan dari Hardinsyah, Guru Besar Ilmu Gizi IPB University sekaligus Ketua Dewan Pengawas LAM-PTKes periode 2025-2030. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya adaptasi teknologi dalam praktik gizi modern.
“Hari ini menjadi momentum penting. Dulu semua dikerjakan secara manual, sekarang teknologi seperti NutriAI membuka peluang efisiensi dan peningkatan kualitas layanan,” ujarnya.
Sorotan utama dalam peluncuran ini juga tertuju pada sosok pendirinya, Saminur Fauzan, yang merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta ums.ac.id (UMS). Kiprahnya menunjukkan kontribusi nyata lulusan UMS dalam menghadirkan inovasi berbasis teknologi di sektor kesehatan nasional.
Founder & CEO NutriAI tersebut menjelaskan bahwa platform ini lahir dari pengalaman langsung sebagai ahli gizi klinis yang menghadapi beban administratif tinggi.
“NutriAI bukan sekadar alat, tetapi mitra kerja yang akan mengubah cara ahli gizi Indonesia bekerja. Dengan teknologi ini, pekerjaan administratif yang sebelumnya memakan waktu berjam-jam dapat diselesaikan dalam hitungan menit,” ungkapnya, Senin, (20/4).
NutriAI Pro mengintegrasikan tiga fitur utama, yakni AI NCP Generator, AI Menu Diet, serta sistem manajemen pasien terintegrasi. Dengan teknologi ini, beban administratif harian ahli gizi yang bisa mencapai 4–5 jam dapat ditekan secara signifikan, sehingga mereka dapat lebih fokus pada pelayanan pasien.
Peluncuran ini juga didukung oleh sejumlah mitra strategis, termasuk International Islamic University Malaysia, PERSAGI, AIPGI, serta Harvard T.H. Chan School of Public Health.
Sebagai startup health-tech yang berdiri sejak 2025 di Dharmasraya, Sumatera Barat, NutriAI mengusung tagline “Built by Experts, Powered by AI” dengan fokus pada pengembangan AI Workflow Engine untuk profesi gizi.
Bagi Saminur, peluncuran NutriAI Pro menjadi langkah awal menuju transformasi layanan gizi berbasis teknologi di Indonesia, sekaligus menegaskan peran alumni UMS dalam mendorong inovasi dan kemajuan kesehatan masyarakat.
Dukungan internasional juga hadir melalui pesan video dari Deepali Sharma, Organizing Chairperson Harvard HSIL Global Hackathon 2026, serta Ganesh Kathiresan yang menyoroti potensi AI dalam transformasi layanan kesehatan, khususnya nutrisi klinis. NutriAI sebelumnya tampil dalam ajang tersebut yang digelar di UCSI Hospital, Malaysia, bersama tim dari lebih dari 35 negara.
Dalam sesi pemaparan, turut hadir Mikayla Yazmine Thwayya yang membagikan pengalaman dan tantangan profesi ahli gizi di lapangan. Ia menegaskan bahwa kebutuhan akan solusi digital seperti NutriAI semakin mendesak di tengah tuntutan pelayanan yang cepat dan akurat.
Puncak acara ditandai dengan demonstrasi langsung NutriAI Pro oleh tim IT. Platform ini mampu menghasilkan dokumen Nutrition Care Process (NCP) dan menu diet personal dalam hitungan detik, yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga 30–45 menit secara manual. (*)


