YOGYAKARTA, MENARA62.COM
Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meluncurkan instrumen penilaian kinerja sekolah dan madrasah berbasis Key Performance Indicators (KPI) dalam Seminar Pendidikan dan Launching Muhammadiyah Balanced Scorecard dan Penandatanganan MoU bersama MCE Marshall Cavendish Education (MCE) Singapura yang berlangsung di Aula SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Selasa (2/6/2026).
Peluncuran instrumen tersebut dilakukan Kegiatan yang dihadiri ratusan kepala sekolah, pengelola pendidikan Muhammadiyah, dan pemangku kepentingan pendidikan sebagai upaya memperkuat tata kelola dan peningkatan mutu pendidikan Muhammadiyah secara berkelanjutan.
Dr. Muh. Ikhwan Ahada, M.A. Selaku ketua PWm DIY menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan Peluncuran instrumen KPI ini menandai komitmen Muhammadiyah DIY untuk menghadirkan transformasi tata kelola pendidikan yang lebih profesional, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan mutu secara berkesinambungan.
Dua pembicara Muhammad Sayuti, Ph.D., Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan bahwa instrumen KPI yang dikembangkan Muhammadiyah DIY merupakan langkah strategis untuk memastikan mutu pendidikan tidak hanya dinilai melalui akreditasi yang dilakukan secara periodik.
“Bahkan saya berani mengatakan bahwa inisiatif ini bisa menjadi praktik baik di tingkat nasional dan menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah di wilayah lain dalam membangun tata kelola pendidikan yang sesuai dengan target-target yang ingin dicapai,” ujarnya.
Menurutnya selama ini masih banyak sekolah yang memandang mutu pendidikan hanya sebatas urusan akreditasi. Padahal, akreditasi hanya menjadi alat evaluasi berkala yang umumnya dilakukan setiap lima tahun sekali.
“Yang paling penting adalah performa sekolah harus terus meningkat dari waktu ke waktu. Instrumen KPI ini menjadi kekuatan bagi kita untuk mengontrol dan mengukur bagaimana kualitas sekolah-sekolah Muhammadiyah terus berkembang,” katanya.
Pembicara ke dua Prof. Dr. Toni Toharudin, M.Sc. Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen menjelaskan bahwa tantangan pendidikan Indonesia saat ini tidak lagi sebatas memperluas akses pendidikan, tetapi juga memastikan setiap peserta didik memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas setiap hari.
“Mutu pendidikan untuk semua adalah amanah yang sangat besar. Pendidikan yang berkualitas tidak bisa dibangun hanya melalui regulasi, bantuan sarana-prasarana, atau pelatihan semata. Mutu harus dibangun melalui sebuah sistem yang mampu memastikan seluruh proses pendidikan berjalan sesuai standar dan terus mengalami perbaikan dari waktu ke waktu,” tegasnya.
Melalui instrumen KPI tersebut, sekolah-sekolah Muhammadiyah di DIY akan memiliki alat ukur yang lebih komprehensif untuk memantau capaian kinerja, melakukan evaluasi berkala, sekaligus merancang langkah perbaikan yang terukur.
Balanced Scorecard Jadi Instrumen Mutu Sekolah Muhammadiyah DIY, Berpotensi Jadi Rujukan Nasional
- Advertisement -
