SOLO, MENARA62.COM – Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., mengingatkan para wisudawan bahwa gelar akademik bukanlah garis akhir perjalanan pendidikan. Sebaliknya, gelar menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk mengamalkan ilmu dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Pesan itu disampaikan Harun dalam Wisuda Sarjana, Magister, dan Doktor Periode I Tahun Akademik 2026/2027 UMS di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Jumat (25/9/2026).
Di hadapan para lulusan, Harun menegaskan bahwa perjalanan pendidikan yang telah ditempuh dengan durasi berbeda-beda—mulai sekitar 3,5 hingga 7 tahun—merupakan bukti ketekunan dan perjuangan. Namun, keberhasilan menyandang gelar tidak semestinya berhenti sebagai pencapaian pribadi.
“Gelar bukan sekadar status, tetapi tambahan tanggung jawab,” menjadi pesan utama Rektor UMS kepada para wisudawan.
Menurut Harun, ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan tinggi harus diterjemahkan menjadi karya nyata. Lebih jauh, karya tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan, masyarakat, umat, dan bangsa.
UMS Terus Berlari di Panggung Global
Dalam pidatonya, Harun juga memaparkan perkembangan UMS yang terus bergerak di tengah persaingan perguruan tinggi nasional dan global.
Ia menyebut UMS telah berkembang melalui penambahan program studi, peningkatan produktivitas riset, penguatan jejaring kolaborasi, hingga komitmen terhadap agenda keberlanjutan.
UMS, kata dia, juga terus memperkuat posisi di pemeringkatan internasional. Dalam paparan Rektor, UMS disebut berada di peringkat 120 dunia dalam THE World University Rankings 2026 serta menjadi perguruan tinggi swasta berbasis Islam dengan capaian tinggi di Indonesia.
Perkembangan tersebut tidak terlepas dari kerja bersama seluruh elemen kampus.
“UMS tidak bisa maju sendirian. Kemajuan ini merupakan hasil kerja bersama dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, pimpinan, dan alumni,” ujar Harun.
Ia menggambarkan kemajuan tersebut sebagai upaya “lari berjamaah”, yakni bergerak bersama dengan visi yang sama untuk membangun perguruan tinggi yang semakin berdaya saing.
Anggaran Riset Capai 10 Persen
Komitmen UMS terhadap pengembangan ilmu pengetahuan juga tercermin dari dukungan terhadap riset.
Harun menyampaikan bahwa anggaran penelitian UMS mencapai sekitar 10 persen dari total anggaran universitas yang disebut mencapai Rp1,2 triliun.
Besarnya alokasi tersebut menjadi bagian dari strategi UMS untuk memperkuat tradisi riset, inovasi, dan kontribusi akademik. Penelitian tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan publikasi, tetapi juga diharapkan mampu menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.
Pada sisi lain, UMS juga terus mengembangkan agenda keberlanjutan. Dalam pemaparan Rektor, capaian UMS dalam pemeringkatan keberlanjutan global turut menunjukkan penguatan komitmen kampus terhadap isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Peringkat UMS dalam UI GreenMetric, misalnya, disebut meningkat dari posisi 74 menjadi 48 secara nasional. Dalam Sustainability Impact Ranking, UMS juga disebut berada di peringkat 41 dunia.
Lulusan Diminta Bawa Nilai IMAN
Di hadapan para wisudawan, Harun kemudian menggarisbawahi nilai yang perlu dibawa setelah meninggalkan kampus: iman, ilmu, amal, dan manfaat.
Ilmu, menurut dia, tidak cukup berhenti pada pengetahuan. Ilmu harus melahirkan amal atau karya, kemudian karya tersebut harus menghasilkan manfaat yang lebih luas.
Karena itu, para lulusan UMS diharapkan tidak hanya menjadi profesional yang kompeten, tetapi juga pribadi yang mampu menghadirkan perubahan positif di lingkungan masing-masing.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa pendidikan tinggi tidak semata-mata menghasilkan individu yang memiliki gelar, melainkan manusia yang mampu menggunakan kapasitas intelektualnya untuk memperbaiki kualitas kehidupan.
“Ilmu harus menjadi dasar karya, karya harus menghadirkan manfaat,” menjadi semangat yang ditekankan dalam pesan Rektor kepada para lulusan.
Apresiasi untuk Orang Tua dan Keluarga
Di balik keberhasilan para wisudawan, Harun juga mengingatkan adanya dukungan panjang dari keluarga.
Ia menyampaikan apresiasi kepada orang tua dan keluarga yang telah mendampingi, mendoakan, serta menopang perjalanan pendidikan para lulusan.
Wisuda, dengan demikian, bukan hanya momentum akademik bagi mahasiswa yang memperoleh gelar. Momen tersebut juga menjadi bentuk penghargaan terhadap perjuangan keluarga yang turut mengantarkan mereka hingga mencapai titik kelulusan.
Harun berharap para alumni UMS mampu menjaga nama baik almamater sekaligus terus memberikan kontribusi di bidang masing-masing.
Menurut dia, ukuran keberhasilan lulusan pada akhirnya bukan hanya seberapa tinggi gelar yang diperoleh, tetapi seberapa besar ilmu dan karya yang mampu dihadirkan untuk kemaslahatan.
Dengan bekal iman, ilmu, amal, dan manfaat, para lulusan diharapkan melanjutkan perjalanan dari ruang akademik menuju ruang pengabdian yang lebih luas. (*)
