30 C
Jakarta

Serangan AS-Israel Terhadap Iran Tewaskan 201 orang

Balasan Iran, Mengancam Israel dan Basis Militer AS di Sejumlah Negara

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran tewaskan 201 orang, dan lebih dari 700 orang terluka di Iran. AS dan Israel telah membombardir beberapa kota di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS.

Serangan itu, digambarkan oleh Presiden AS Donald Trump sebagai “operasi tempur besar”. Serangan-serangan ini terjadi di tengah negosiasi antara AS dan Iran mengenai program nuklir dan rudal balistik Iran, setelah berminggu-minggu ancaman yang meningkat dari Trump – dan delapan bulan setelah AS dan Israel melancarkan perang 12 hari melawan Iran.

Iran langsung membalas serangan itu, dengan rudal yang diarahkan ke Israel utara dan pangkalan militer AS di Timur Tengah. Rincian tentang korban dan kerusakan di Iran dan Israel masih terus berkembang dari yang bisa didata saat ini.

Kecaman

Sejumlah negara mengeluarkan kecaman terhadap serangan AS-Israel. Chile mengutuk serangan AS-Israel terhadap Iran dan tanggapan Teheran. Pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Chile, menyebutkan “keprihatinan atas eskalasi militer yang serius di Timur Tengah”.

Pernyataan yang dirilis situs Aljazeera menyebutkan, “Pemerintah Chile mengutuk serangan terhadap Iran yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel, serta tanggapan rezim Iran terhadap Israel dan negara-negara Teluk,” katanya.

“Tindakan-tindakan ini, dalam konteks regional yang sangat tegang, dapat berdampak pada stabilitas kawasan dan keamanan internasional.”

Pemimpin Houthi juga mengutuk serangan. Ia mengatakan, Iran berhak menyerang pangkalan AS di kawasan itu. Abdul Malik al-Houthi, pemimpin kelompok pemberontak Yaman, menyebut serangan AS-Israel terhadap Iran sebagai “kejam, terang-terangan, kriminal, dan biadab, serta tanpa hak sama sekali”. Houthi adalah salah satu kelompok milisi yang didukung Iran di seluruh kawasan tersebut.

“Kami siaga untuk setiap perkembangan yang diperlukan. Tidak ada kekhawatiran tentang Republik Islam Iran terkait agresi ini, karena negara itu kuat, posisinya kokoh, dan tanggapannya akan tegas,” lanjut pernyataan itu.

Pernyataan itu tidak menyebutkan apakah Houthi akan bergabung dalam konflik di pihak Iran atau tidak. “Merupakan hak sah Iran untuk menargetkan pangkalan militer milik Amerika yang berpartisipasi dalam agresi terhadap Republik Islam Iran,” demikian pernyataan tersebut yang dikutip dari situs aljazeera.com.

Sangat tidak biasa bagi Dewan Keamanan PBB. Mereka mengadakan sesi terbuka di akhir pekan. Pertemuan itu, diperkirakan membuat Sabtu sore yang sangat sibuk di markas besar PBB di New York, di mana Dewan Keamanan mengadakan pertemuan darurat pada pukul 4 sore waktu setempat (2100 GMT). Pertemuan ini terutama diminta oleh China dan Rusia, tetapi Bahrain dan Kolombia, dua anggota terpilih dewan, juga ikut menandatangani, mendorong diadakannya pertemuan tersebut.

Sangat tidak biasa bagi Dewan Keamanan untuk mengadakan sidang terbuka pada akhir pekan. Hal itu hanya terjadi 10 kali dalam lima tahun terakhir, dan hanya dua kali pada hari Sabtu. Jadi, pertemuan darurat pada akhir pekan ini hanya diadakan untuk masalah yang paling mendesak. Jelas, ini adalah salah satunya. Dikabarkan, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres diharapkan hadir dalam pertemuan tersebut dan menyampaikan pidato pembukaan.

Apa yang terjadi di Iran?

Sekitar pukul 09.27 pagi (06.27 GMT), kantor berita Fars Iran melaporkan serangkaian ledakan di ibu kota, Teheran. Koresponden Al Jazeera di Teheran barat mengatakan, dia mendengar dua ledakan, sementara video yang dibagikan di media sosial menunjukkan asap mengepul dari beberapa bagian kota. Israel pertama kali mengumumkan bahwa mereka telah meluncurkan serangan rudal ke target di dalam Iran.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan itu dilakukan sebagai bagian dari operasi militer gabungan dengan Israel. Dalam beberapa pekan terakhir, Washington telah mengumpulkan armada besar jet tempur dan kapal perang di wilayah tersebut, pengerahan militer paling signifikan sejak Perang Irak.

Trump menggambarkan operasi tersebut sebagai “besar-besaran dan berkelanjutan”. Departemen Pertahanan AS kemudian mengatakan misi tersebut diberi nama “Operasi Epic Fury”, dalam pernyataan publik pertama dari militer AS sejak dimulainya perang.

 

 

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!