32.5 C
Jakarta

#12 Novelet BdlK- Kebiasaan Baru

Baca Juga:

#12. Kebiasaan Baru

Malam sudah larut. Larut sekali. Hampir jam 11 malam. Aku lirik jam di laptop, yang ada di sebelah kanan bawah. Namun semalam itu, Rohman juga belum menunjukkan batang hidungnya. Pamit ke ibunya kalau mau belajar di halaman kampus yang mau di tuju. Dari jam 11 siang tadi, bahkan. Sudah 3 hari kebiasaan pulang larut kembali dijalaninya, padahal sebelumnya setengah menasehati aku bilang kepadanya, belajar di halaman kampus yang dituju boleh saja. Tetapi masak sampai larut malam begini. Apa tidak ada satpam yang curiga, ada anak baru, belajar di halaman atau taman sampai malam. Usut punya usut  ternyata, habis maghrib sudah pindah lokasi.
“Di mana le, sudah larut begini belum pulang,” aku coba chart di WA-nya yang selalu aktif.
“Pindah di kafe, pak. Aman, kok,” katanya enteng. Tanpa beban.

“Kafe jam segini belum tutup?”
“Otw..pulang,”
Mungkin tidak mau ditanya banyak-banyak, langsung closing WA dengan OTW pulang. Tidak lama berselang, WA lagi, “Aku kalau di rumah tidak bisa belajar, pak.” Ups, Tidak bisa belajar? Apa sebabnya ini PR- aku sebagai orang tuanya. Hingga dia lebih nyaman di luar. Tentu banyak pertanyaan berkecamuk dalam benak. Fasilitas, suasana atau terlalu sering dinasehati, hingga membuat gerah. Atau sebab lain. Aku ingin ajak bicara dari hati-hati. Pikirku ini sudah masalah besar dalam bahtera rumah kami. Sampai anak lebih betah di luar dari pada di rumah.
Mungkin ada benarnya kata-kata istri, kalau belakangan aku lebih banyak menyuruh anak, daripada bicara dari hati-ke hati. selebihnya memberikan uang jajan dan transport per minggu-nya.
“Anak laki-laki butuh sosok, bapak yang hadir sebagai solusi, pak,” kata istri.
“Lha, aku juga perasaan selalu hadir, kalau Rohman butuh apa, semampu aku, bapak penuhi. Meski kadang harus pinjam-pinjam,” kataku membela diri.” jawabku
“Tidak cukup itu, pak. Rohman pingin diajak bicara. Selama ini, bapak banyak waktu di luar. Kegiatan di luar bapak banyak, sehingga waktu untuk keluarga berkurang,” kata istri panjang. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Mau jawab apa, karena memang kenyataannya demikian. pergi jam 6 pagi, pulang jam 6 sore. Kadang malam masih ada acara lagi. Menghadiri undangan ini, itu. “Itu saja sudah aku kurangi banyak,” kataku dalam hati.
“Itulah sebabnya mengapa Rohman, menjadi lebih senang belajar atau main di luar dengan teman-temannya. Karena di rumah tidak ada sosok bapak yang bisa menjadi teman atau sahabat,” kata istri sambil seterika baju seragamku. Satu sore. Jelang Maghrib.
“Terus aku harus bagaimana?” pertanyaan yang selalu aku ulang. Entah sudah berapa kali.
“Ya kurangi kegiatan di luar. Bapak bisa menilai sendiri, mana-mana yang bapak tidak harus hadir, acara tetap bisa berjalan. Kegiatan itu ada yang sifatnya wajib, sunah atau mubah. Yang mubah itu, bapak ada atau tidak ada, tidak ngaruh. Nah itu yang dikurangi,” katanya lagi seperti kultum ramadhan.
Aku hanya diam seribu bahasa. Aku justru fokus pada kebiasaan anak lanang yang lebih senang belajar di luar sampai larut, dari pada di rumah sendiri, padahal bapaknya guru. Ada yang kurang dalam sambungan komunikasi rumah tangga kami. Aku harus bisa mencari solusi. Beberapa jawaban pembenaran muncul dalam benak. Misalnya, memang anak seusia Rohman, sukanya bermain dengan teman-teman sebaya, dari pada orang tua sendiri. Tapi disisi lain, hati kecil mengatakan, meski demikian kehadiran orang tua musti ada. Tidak bisa dilepaskan. Baik, besok sambil buka puasa, aku ingin ajak keluarga makan diluar, sambil sharing. Buka-bukaan. Apa yang diinginkan seorang bapak, hadir dalam keluarga. Sambil aku siapkan mental sekuat-kuatnya. Sesekali aku tengok uang di saku, cukup tidak untuk makan di luar. Tidak lama berselang terdengar deru motor Rohman memasuki pekarangan rumah. Ia pulang larut, di hari ke-tiganya. ( bersambung )

 

 

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!