SOLO, MENARA62.COM — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memperkuat ketahanan ekonomi dan kesehatan mahasiswa Muslim di Taiwan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI). Program ini mengintegrasikan edukasi kesehatan fisik dan mental, penguatan ekonomi, kepemimpinan Islami, serta pengembangan kelembagaan komunitas untuk mendorong kemandirian mahasiswa di lingkungan internasional.
Program bertajuk Penguatan Ketahanan Ekonomi dan Kesehatan Muslim Student Association di Taiwan tersebut dilaksanakan pada 1 Oktober 2026 di Institute of International Management (IMBA), College of Management, National Cheng Kung University (NCKU), Tainan, Taiwan.
Ketua tim pengabdian, Dr. Aflit Nuryulia Praswati, S.E., M.M., CMA., mengatakan ketahanan komunitas mahasiswa internasional tidak cukup dibangun melalui kemampuan ekonomi. Kesehatan fisik dan mental, dukungan sosial, kepemimpinan, serta kekuatan spiritual juga menjadi faktor penting.
“Ketahanan komunitas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan ekonomi, tetapi juga oleh kesehatan fisik dan mental, kualitas kepemimpinan, kekuatan jejaring sosial, serta nilai spiritual yang dimiliki anggotanya,” ujarnya, Jumat (9/10/2026).
Menurut Aflit, program tersebut diarahkan untuk membentuk mahasiswa Muslim yang sehat, mandiri, produktif, dan mampu mengembangkan komunitasnya secara berkelanjutan.
UMS Integrasikan Ekonomi, Kesehatan, dan Spiritualitas
Program pengabdian ini dilatarbelakangi oleh beragam tantangan yang dihadapi mahasiswa internasional. Selain tuntutan akademik, mereka harus beradaptasi dengan budaya baru, mengelola keuangan, menjaga kesehatan, dan mempertahankan kehidupan spiritual di tengah lingkungan yang berbeda.
Dalam kondisi tersebut, Muslim Student Association memiliki peran strategis. Organisasi ini tidak hanya menjadi wadah aktivitas sosial dan keagamaan, tetapi juga ruang untuk mengembangkan kapasitas diri, kepemimpinan, serta solidaritas antarmahasiswa.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim UMS menyelenggarakan sejumlah kegiatan, meliputi penguatan kelembagaan komunitas, pelatihan kesehatan, pelatihan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), mentoring keislaman, edukasi kesehatan keluarga, serta layanan kesehatan.
Pada aspek kesehatan, peserta mendapatkan pemahaman tentang empat dimensi kesejahteraan, yakni kesehatan mental, kesehatan fisik, kesehatan sosial, dan kesejahteraan spiritual.
Kesehatan mental ditekankan melalui pengelolaan stres, tekanan, dan emosi. Sementara itu, kesehatan fisik mencakup pengaturan pola tidur, pemenuhan nutrisi, aktivitas olahraga, dan kebugaran.
Adapun kesehatan sosial diarahkan pada kemampuan membangun hubungan yang sehat dengan keluarga, teman, dan komunitas. Dimensi spiritual diperkuat melalui ibadah dan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Aflit menegaskan, keempat dimensi tersebut saling berkaitan dan memengaruhi produktivitas mahasiswa.
“Produktivitas mahasiswa tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh kondisi fisik, mental, dan lingkungan sosialnya,” jelasnya.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara studi, kehidupan sosial, dan kebutuhan pribadi, sehingga dapat menjalani kehidupan di luar negeri secara lebih sehat dan produktif.
Tanamkan Kepemimpinan Islami dan Kemandirian Komunitas
Selain kesehatan, UMS memberikan perhatian pada penguatan kapasitas ekonomi dan kelembagaan Muslim Student Association. Pengembangan organisasi dan jejaring sosial diharapkan menjadikan komunitas mahasiswa sebagai ruang untuk saling mendukung, berbagi pengetahuan, serta mengembangkan potensi anggotanya.
Penguatan kepemimpinan juga menjadi bagian penting dalam program ini. Kepemimpinan diperkenalkan sebagai amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab, integritas, dan orientasi pada kemaslahatan bersama.
Nilai-nilai yang ditekankan meliputi amanah atau dapat dipercaya dan bertanggung jawab, shiddiq atau jujur dan benar, fathanah atau cerdas dan bijaksana, serta tabligh atau komunikatif dan transparan.
Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi pengurus dan anggota organisasi dalam mengambil keputusan, membangun komunikasi, mengelola kelembagaan, serta memberikan pelayanan kepada komunitas.
Program ini juga memperkenalkan nilai-nilai utama Muhammadiyah, antara lain penghargaan terhadap martabat manusia, ukhuwah atau persaudaraan, kasih sayang, etos kerja, kemanusiaan, keilmuan, dan pembangunan peradaban.
Penguatan nilai tersebut diarahkan untuk membentuk komunitas mahasiswa Muslim yang berintegritas, terbuka, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Dengan demikian, keberhasilan pengembangan komunitas tidak hanya diukur dari keberlangsungan organisasi, tetapi juga dari pembentukan karakter, kemandirian anggota, dan kontribusi sosial mahasiswa Muslim di lingkungan internasional.
Libatkan Tim Multidisiplin untuk Perluas Dampak Internasional
Program PkM-KI ini dilaksanakan oleh tim multidisiplin UMS yang melibatkan keahlian di bidang ekonomi, manajemen, kesehatan, keislaman, dan pengembangan organisasi.
Tim tersebut diketuai Dr. Aflit Nuryulia Praswati, S.Sos., S.E., M.M., CMA., bersama Prof. Dr. Muzakar Isa, S.E., M.Si., CSBA., CIPE.; Dr. dr. Yusuf Alam Romadhon, M.Kes., Sp.KKLP.; Siti Aisyah, S.E., M.Si.; Alfiyatul Azizah, Lc., M.Ud.; dr. Asri Alfajri, M.A.R.S.; Candra Kusuma Wardana, S.E., M.B.A.; serta Ibrahim Hasan.
Menurut Aflit, keterlibatan berbagai disiplin ilmu memungkinkan tim mengidentifikasi dan menangani tantangan mahasiswa internasional secara lebih menyeluruh.
“Tantangan yang dihadapi mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi atau kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan kelembagaan, penguatan nilai spiritual, dan kepemimpinan yang efektif,” ungkapnya.
Melalui program ini, UMS berupaya memperluas kontribusi pengabdian kepada masyarakat di tingkat internasional. Kolaborasi dengan komunitas mahasiswa Muslim di Taiwan menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam menghadirkan pengetahuan dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lintas negara.
UMS berharap program tersebut dapat memperkuat kemampuan Muslim Student Association dalam mengelola organisasi, menjaga kesehatan anggota, membangun kemandirian ekonomi, serta mengembangkan komunitas yang adaptif dan berkelanjutan.
Inisiatif ini sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi dalam menghubungkan keilmuan, nilai-nilai keislaman, dan pemberdayaan masyarakat untuk memberikan manfaat yang lebih luas di tingkat global. (*)

