SOLO, MENARA62.COM – Bahasa Jawa tak cukup hanya dikenang sebagai warisan budaya. Di tengah perubahan pola komunikasi generasi muda, kemampuan menggunakan bahasa Jawa sesuai unggah-ungguh justru perlu terus dipraktikkan agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Hal itu yang dilakukan tim Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id melalui pelatihan pembawa acara atau pambiwara bagi kader dan anggota Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Baki.
Pelatihan bertajuk “Nguri-uri Basa, Nguwatake Dakwah” itu digelar di Gedung Al Fajri, Waru, Baki, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan menjadi bagian dari program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Dosen dan Tendik Fakultas Geografi UMS.
Tim P2M UMS yang terdiri atas Afifah Nurlaila, Rudiyanto, dan Nirma Lila Anggani merancang pelatihan tersebut untuk meningkatkan keterampilan, kepercayaan diri, sekaligus kesiapan kader dalam menjalankan peran sebagai pambiwara pada berbagai kegiatan organisasi, sosial, dan dakwah.
Ketua PCNA Baki, Mardiana, menyambut baik pelatihan tersebut. Menurut dia, kemampuan menggunakan bahasa Jawa dengan tepat tidak hanya berkaitan dengan keterampilan menjadi pembawa acara, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan budaya.
“Sebagai orang asli Jawa, semoga kita dapat lebih baik lagi menggunakan bahasa Jawa yang sesuai unggah-ungguh basa,” ujar Mardiana, Selasa (22/9/2026).
Belajar Bahasa Jawa Sesuai Konteks
Pelatihan menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Eko Joko Trihadmono, M.Pd. dan Wahyu Rintoko Aji, S.Pd., Gr.
Dr. Eko yang merupakan guru Bahasa Jawa sekaligus Wakil Kepala Humas SMK Negeri 8 Surakarta, praktisi pambiwara, dan Dosen Luar Biasa Pascasarjana UNS, menjelaskan pentingnya penguasaan bahasa bagi seorang pambiwara.
Ia menerangkan, bahasa memiliki tiga fungsi utama, yakni ideasional, interpersonal, dan tekstual.
Fungsi ideasional berkaitan dengan penyampaian gagasan dan pengalaman. Fungsi interpersonal digunakan untuk membangun hubungan antara penutur dan mitra tutur. Sementara fungsi tekstual berkaitan dengan bagaimana gagasan diwujudkan dalam bentuk tuturan.
“Mupangatipun basa iku ana tiga, yaiku mupangat ideasional, interpersonal, lan tekstual. Basa minangka sarana medhar gagasan lan pengalaman, mbangun sesambungan antarane penutur lan petutur, uga mujudake angen-angen ingkang sinerat,” ungkap Dr. Eko.
Peserta juga dikenalkan dengan kosakata bahasa Jawa yang dinilai lebih sesuai untuk konteks pambiwara. Di antaranya penggunaan “matur nuwun” sebagai bentuk yang tepat, bukan “matur suwun”, serta “taken” atau “nyuwun pirsa” untuk menggantikan “tanglet”. Peserta juga dikenalkan dengan istilah “mligi” untuk menyebut sesuatu yang bersifat khusus.
Materi tersebut tidak sekadar mengajarkan peserta agar lancar berbicara bahasa Jawa. Lebih jauh, peserta diarahkan memahami pemilihan kata berdasarkan konteks dan unggah-ungguh basa.
Pambiwara Tak Cuma Pandai Bicara
Sementara itu, Wahyu Rintoko Aji membekali peserta dengan teknik hamicara dan pambiwara. Ia menekankan bahwa menjadi pambiwara membutuhkan kemampuan yang lebih luas daripada sekadar keterampilan berbicara di depan publik.
Menurut dia, seorang pambiwara perlu memiliki pengetahuan yang memadai, kemampuan berbahasa yang baik, penampilan yang sesuai, serta etika dan sopan santun.
“Seorang pambiwara setidaknya harus menguasai empat hal, yaitu pengetahuan yang cukup, kemampuan berbahasa yang baik, berbusana yang baik dan pantas, serta memiliki etika dan sopan santun,” terang Rintoko Aji.
Setelah mendapatkan materi, peserta langsung mempraktikkan peran sebagai pambiwara. Praktik tersebut kemudian mendapatkan umpan balik dari narasumber untuk membantu peserta memperbaiki kemampuan berbicara, penampilan, maupun etika saat memandu sebuah acara.
Rintoko Aji juga menjelaskan bahwa busana seorang pambiwara tidak harus mahal. Yang terpenting, busana mampu menunjang penampilan serta sesuai dengan konteks acara dan lingkungan masyarakat.
Pendampingan Berlanjut Secara Daring
Pelatihan tidak berhenti pada pertemuan tatap muka. Tim P2M UMS juga menyediakan pendampingan melalui Google Classroom agar peserta dapat kembali mempelajari materi setelah kegiatan berlangsung.
Ketua Tim Pengabdian, Afifah Nurlaila, mengatakan kelas daring tersebut dilengkapi modul, video pembelajaran, kuis, dan tugas.
“Kegiatan ini disetting dengan dua model kelas, yaitu online dan offline. Dengan adanya pendampingan melalui kelas online di Google Classroom, diharapkan dapat memperkaya wawasan peserta dan memperdalam materi kembali,” ujar Afifah.
Ia berharap pelatihan keterampilan pambiwara tersebut dapat memperkuat kapasitas kader PCNA Baki dalam berbagai kegiatan organisasi, sosial, dan dakwah.
Di sisi lain, program itu juga diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk terus menggunakan bahasa Jawa secara tepat. Dengan demikian, bahasa Jawa tidak berhenti sebagai warisan budaya, tetapi tetap hadir dalam komunikasi dan aktivitas masyarakat sehari-hari. (*)
